Trump Buka Misi Perdamaian Baru Usai Iran, Rusia-Ukraina Jadi Target Berikutnya
Facundo Chrysnha Pradipha June 18, 2026 10:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan komitmennya untuk mendorong terciptanya perdamaian antara Rusia dan Ukraina setelah proses kesepakatan dengan Iran dinilai hampir selesai.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump usai bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis, Rabu (17/6/2026).

Dalam keterangannya kepada wartawan, Trump mengatakan dirinya siap melakukan apapun demi terciptanya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.

Trump menegaskan bahwa fokus diplomasi Amerika Serikat kini mulai bergeser kembali ke konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

“Sekarang setelah konflik AS-Iran selesai, kita akan fokus pada hal itu,” ujar Trump saat bertemu Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Untuk menyukseskan rencana tersebut, Trump bahkan turut mendesak Rusia agar segera membuka ruang negosiasi demi menghentikan jatuhnya korban jiwa di kedua belah pihak.

“Rusia harus membuat kesepakatan. Rusia telah kehilangan banyak nyawa, begitu juga Ukraina,” kata Trump.

Trump mengaku telah melakukan komunikasi dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, serta Zelensky sebelum KTT berlangsung. Ia optimistis peluang penyelesaian konflik masih terbuka.

“Mungkin kita bisa melakukan sesuatu,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal baru bahwa Washington ingin kembali mengambil peran utama dalam upaya penyelesaian perang di Eropa Timur.

Eropa Sambut Positif Perubahan Sikap Trump

Perubahan sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam merespons konflik Rusia–Ukraina mendapat sambutan positif dari sejumlah pemimpin Eropa.

Baca juga: Pertemuan G7: Harapan Damai dan Sanksi Baru untuk Rusia

Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara Eropa diketahui terus berupaya menjaga agar Amerika Serikat tetap terlibat aktif dalam penanganan perang tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan global di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan terbaru Trump yang menunjukkan fokus baru pada upaya perdamaian Rusia–Ukraina dinilai menjadi sinyal penting bagi dinamika diplomasi internasional. Para pemimpin Eropa menilai keterlibatan Washington sangat krusial untuk menekan eskalasi konflik yang telah berlangsung berkepanjangan.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyebut situasi perang saat ini mulai menunjukkan perubahan. 

Ia menilai Ukraina kembali memiliki momentum di medan pertempuran, seiring meningkatnya kemampuan pertahanan dan strategi militer yang dijalankan.

Starmer juga menegaskan bahwa negara-negara anggota G7 memiliki pandangan yang relatif sama, yakni bahwa tekanan terhadap Rusia semakin meningkat.

Dengan perkembangan ini, para pemimpin Eropa berharap adanya sinergi yang lebih kuat antara Amerika Serikat dan sekutunya untuk mendorong Rusia menuju meja perundingan dan membuka peluang perdamaian yang lebih nyata.

Zelensky Dorong Diplomasi

Dukungan serupa juga disampaikan oleh pemerintah Ukraina di tengah meningkatnya upaya internasional untuk mencari solusi damai atas konflik yang telah berlangsung berkepanjangan.

Dalam unggahannya di media sosial X, Zelensky menyebut bahwa fokus utama pembicaraannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah penguatan pertahanan udara Ukraina serta percepatan jalur diplomasi agar Rusia bersedia menghentikan perang.

Ia juga membagikan foto pertemuannya bersama Trump dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menunjukkan adanya koordinasi lanjutan antara kedua pihak.

Zelensky menegaskan bahwa koordinasi posisi antara Ukraina dan Amerika Serikat sangat penting dalam menghadapi dinamika perang yang terus berkembang.

Pernyataan tersebut juga menjadi sinyal bahwa Kyiv berupaya menjaga hubungan strategis dengan Washington di tengah perubahan pendekatan diplomasi Amerika Serikat.

Pertemuan antara Trump dan Zelensky disebut memiliki arti penting, mengingat dalam beberapa waktu terakhir hubungan keduanya sempat mengalami ketegangan.

Trump sebelumnya beberapa kali dituding menekan Ukraina untuk mempertimbangkan kompromi wilayah sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik dengan Rusia.

Di sisi lain, proses diplomasi yang mulai kembali menguat masih dihadapkan pada sikap hati-hati dari Rusia. Kremlin menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada komunikasi resmi yang berlangsung antara Moskow dan Kyiv.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan belum ada rencana pasti terkait perundingan baru, baik dengan Ukraina maupun Amerika Serikat.

Peskov juga memastikan bahwa tidak ada undangan bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri KTT G7.

Meski demikian, Kremlin menyebut Putin tetap terbuka untuk bertemu langsung dengan Zelensky di Moskow, sebuah tawaran yang sebelumnya telah ditolak oleh pihak Ukraina.

Kendati belum terlihat adanya terobosan besar di medan perang maupun meja perundingan, perubahan fokus kebijakan Amerika Serikat di bawah Trump dinilai dapat membuka peluang baru dalam proses diplomasi internasional.

Banyak pihak berharap keterlibatan aktif Washington mampu mendorong kedua belah pihak menuju pembicaraan damai yang lebih serius.

Namun demikian, sejumlah tantangan masih membayangi proses tersebut, mulai dari perbedaan tuntutan wilayah, kepentingan geopolitik masing-masing negara, hingga ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropa.

Hingga kini, dunia masih menanti apakah langkah diplomasi terbaru ini benar-benar dapat membawa perubahan nyata dalam konflik Rusia–Ukraina yang telah berlangsung lama.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.