Senyum tak pernah lepas dari wajah Agnes (13) ketika menggiring bola di lapangan. Siswi SMP asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), itu tak menyangka bisa berlatih langsung bersama pemain dan pelatih klub sepak bola asal Jerman, Hamburger SV (HSV).
PENGALAMAN selama tiga hari, 15-17 Juni 2026, itu menjadi momen yang mengubah cara pandangnya tentang masa depan. Jika sebelumnya sepak bola hanya dianggap sebagai hobi, kini Agnes mulai berani memimpikan sesuatu yang lebih besar: menjadi pesepak bola profesional.
“Saya sangat senang bisa berlatih bersama para pemain sepak bola dari Jerman. Pengalaman ini membuat saya semakin percaya diri dan terinspirasi untuk terus berlatih agar suatu hari nanti bisa menjadi pemain sepak bola profesional dan membanggakan daerah saya,” ujarnya.
Agnes merupakan satu dari puluhan anak perempuan yang mengikuti kegiatan hasil kolaborasi Plan Indonesia, Plan International Germany, dan HSV. Program tersebut dirancang untuk mendorong pemberdayaan anak perempuan melalui olahraga sekaligus memperkuat kesetaraan gender.
Di lapangan, mereka tidak hanya belajar teknik mengoper, menggiring, atau menyusun strategi pertandingan. Mereka juga diajak membangun kerja sama tim, kepemimpinan serta keberanian untuk percaya pada kemampuan diri sendiri.
Direktur Program Plan Indonesia, Ida Ngurah, mengatakan sepak bola memiliki makna yang lebih luas bagi anak perempuan.
Lapangan hijau menjadi ruang untuk belajar memimpin dan menantang norma sosial yang selama ini membatasi mereka.
“Sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan dan menginspirasi. Namun bagi Plan Indonesia, sepak bola juga menjadi ruang bagi anak perempuan untuk belajar memimpin, membangun kepercayaan diri, dan menantang norma gender yang masih membatasi mereka,” kata Ida.
Menurut dia, program Girls Football yang telah dijalankan di sejumlah wilayah, termasuk TTS dan Manggarai, mulai menunjukkan perubahan nyata.
Anak-anak perempuan kini memiliki pilihan cita-cita yang lebih beragam.
“Dulu banyak anak perempuan hanya mengenal profesi tertentu seperti guru atau polisi. Sekarang mereka mulai memiliki mimpi baru untuk menjadi pemain sepak bola profesional. Mereka menyadari bahwa sepak bola juga bisa menjadi jalan untuk berprestasi, berkontribusi kepada keluarga, dan membawa perubahan bagi komunitas,” ujarnya.
Selain pelatihan sepak bola, para peserta juga mendapat edukasi tentang kesehatan reproduksi, pentingnya menjaga kebersihan diri saat berolahraga, serta dorongan untuk mengisi waktu dengan aktivitas positif.
Ida melihat, nilai-nilai yang dipelajari di lapangan perlahan terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Anak-anak menjadi lebih menghargai teman, mengurangi perilaku perundungan, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik.
Kesan mendalam juga dirasakan pemain HSV, Pauline Machtens. Ia mengaku kagum melihat antusiasme para peserta yang tetap bersemangat mengikuti setiap sesi latihan.
“Merupakan kehormatan bagi kami bisa berbagi pengalaman dengan anak-anak perempuan di Indonesia. Kami melihat semangat yang luar biasa dari mereka. Kami berharap mereka terus percaya pada kemampuan diri sendiri dan berani mengejar impian mereka, baik di dalam maupun di luar lapangan,” katanya. (Kompas.com)