Kenapa Nyaris Tak Ada Pesta Hajatan pada Bulan Suro di Solo Raya? Ternyata Ini Asal-usulnya
Hanang Yuwono June 18, 2026 12:28 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Ada fenomena menarik ketika memasuki bulan Suro di Solo Raya, Jawa Tengah.

Di Solo, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, Klaten, hingga Boyolali terasa lebih 'hening' dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Nyaris tidak ada pesta pernikahan atau hajatan besar digelar di bulan ini.

Baca juga: Cerita Terciptanya Jenang Grendul : Sudah Ada Sejak Era Wali Songo, Disajikan di Acara Adat Solo

Kalender gedung pertemuan yang biasanya penuh mendadak longgar. Jasa dekorasi pernikahan, katering, hingga penyewaan tenda mengalami penurunan pesanan.

Bahkan, tidak sedikit keluarga yang sengaja menggeser jadwal pernikahan atau khitanan agar tidak bertepatan dengan bulan Suro.

Bagi masyarakat Jawa, khususnya yang masih memegang teguh tradisi leluhur, bulan Suro dianggap sebagai waktu yang sakral sehingga tidak tepat digunakan untuk menggelar hajatan besar.

Karena itulah, nyaris tidak ada pesta pernikahan, resepsi, maupun perayaan meriah lainnya sepanjang bulan pertama dalam penanggalan Jawa tersebut.

Lalu, dari mana asal-usul kepercayaan ini?

Baca juga: Kisah Dibangunnya Tugu Kartasura, Monumen Bersejarah yang Kerap Jadi Titik Aksi Demonstrasi

Bulan Suro Bukan Bulan Sial, Melainkan Bulan Sakral

Banyak orang menganggap larangan hajatan di bulan Suro muncul karena masyarakat Jawa percaya bulan tersebut membawa kesialan. Padahal, dalam filosofi Jawa, Suro justru dipandang sebagai bulan yang paling mulia dan sakral.

Kata Suro berasal dari istilah "Asyura" yang merujuk pada bulan Muharram dalam kalender Islam.

Penanggalan Jawa yang digunakan hingga sekarang merupakan warisan Sultan Agung Mataram yang memadukan kalender Saka dan kalender Hijriah.

Dalam tradisi Kejawen, bulan Suro dikenal sebagai bulan prihatin atau bulan untuk melakukan mawas diri.

Masyarakat dianjurkan mengurangi kegiatan yang bersifat hura-hura dan lebih banyak melakukan tirakat, doa, serta refleksi diri.

Karena itu, pesta besar seperti pernikahan dianggap kurang sesuai dengan suasana spiritual yang melekat pada bulan Suro.

Baca juga: Cristiano Ronaldo Jadi Magnet, Warga Colomadu Karanganyar Rela Begadang untuk Nobar Piala Dunia 2026

Menghormati Tradisi Keraton

Alasan lain yang membuat masyarakat Jawa menghindari hajatan di bulan Suro berkaitan dengan tradisi keraton.

Di lingkungan Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta, bulan Suro menjadi momentum pelaksanaan berbagai ritual sakral, termasuk kirab pusaka dan upacara adat yang dikenal sebagai Hajad Dalem.

Pada masa lalu, masyarakat umum dipercaya tidak boleh "ngungkuli" atau menyaingi hajatan keraton. Menggelar pesta besar ketika keraton sedang menjalankan ritual sakral dianggap kurang pantas.

Tradisi tersebut kemudian diwariskan turun-temurun hingga menjadi norma sosial yang masih bertahan di banyak daerah, termasuk Solo Raya.

Baca juga: Penggugat Singgung Prosesi Kirab Jumenengan Raja Solo di Sidang Gugatan Nama Purboyo, Kenapa?

Dipengaruhi Perhitungan Primbon Jawa

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa tradisional, bulan Suro juga memiliki posisi khusus dalam perhitungan primbon.

Suro dianggap sebagai masa peralihan tahun atau galengan tahun.

Masa transisi ini dipercaya sebagai waktu yang sensitif karena energi alam sedang mengalami perubahan.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa memulai sesuatu yang besar pada masa tersebut berpotensi menghadapi berbagai hambatan.

Karena itu, pernikahan yang merupakan awal kehidupan rumah tangga sering kali dihindarkan dari bulan Suro.

Kepercayaan inilah yang kemudian melahirkan berbagai mitos, mulai dari rumah tangga tidak harmonis, rezeki seret, hingga datangnya musibah apabila hajatan tetap dilaksanakan.

Baca juga: Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Kamis 18 Juni 2026 : Keberangkatan Stasiun Palur hingga Stasiun Tugu

Berkaitan dengan Sejarah Islam

Tradisi menghindari hajatan pada bulan Suro juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sejarah Islam.

Bulan Suro bertepatan dengan Muharram yang merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.

Di dalam sejarah Islam, Muharram dikenal sebagai bulan terjadinya tragedi Karbala yang menyebabkan wafatnya Sayyidina Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.

Sebagian budayawan menilai tradisi tidak menggelar pesta pada bulan Suro merupakan bentuk penghormatan terhadap peristiwa duka tersebut yang kemudian berakulturasi dengan budaya Jawa.

Karena dianggap sebagai bulan penuh perenungan, masyarakat lebih memilih mengisi Suro dengan kegiatan spiritual dibandingkan perayaan.

Benarkah Menikah di Bulan Suro Dilarang Agama?

Meski larangan menikah di bulan Suro sangat kuat dalam tradisi Jawa, pandangan agama tidak demikian.

Dalam ajaran Islam, tidak ada ketentuan yang melarang seseorang menikah pada bulan Muharram atau bulan apa pun. Al-Qur'an maupun hadis tidak menetapkan hari atau bulan tertentu sebagai syarat sah pernikahan.

Islam justru menganjurkan umatnya untuk menikah ketika telah mampu tanpa harus menunggu waktu tertentu.

Hal serupa juga berlaku dalam hukum negara. Undang-Undang Perkawinan tidak mengatur larangan menikah pada bulan Suro maupun bulan lainnya.

Karena itu, pantangan menikah di bulan Suro lebih merupakan tradisi budaya daripada aturan agama.

Baca juga: Keluhan SPMB SMK Negeri 1 Puhpelem Wonogiri Disebut Terjadi Hampir Setiap Tahun, Sistem Dikritik!

Masih Dipatuhi Hingga Sekarang

Di era modern, kepercayaan terhadap pantangan hajatan di bulan Suro memang mulai berkurang, terutama di kalangan generasi muda perkotaan.

Namun di Solo Raya dan sejumlah daerah Jawa lainnya, tradisi ini masih cukup kuat.

Banyak keluarga tetap memilih menunda pernikahan hingga bulan Sapar atau bulan berikutnya demi menghormati petuah leluhur dan menjaga ketenteraman keluarga besar.

Bagi sebagian masyarakat, mematuhi pantangan tersebut bukan lagi soal takut terkena bala atau kesialan.

Lebih dari itu, tradisi tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Itulah sebabnya setiap memasuki bulan Suro, hajatan besar di Solo Raya nyaris tidak terlihat.

Bukan karena masyarakat takut menikah, melainkan karena bulan Suro dipandang sebagai waktu yang tepat untuk menenangkan diri, berdoa, dan melakukan refleksi kehidupan sesuai ajaran budaya Jawa yang telah hidup selama ratusan tahun.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.