Cerita Terciptanya Jenang Grendul : Sudah Ada Sejak Era Wali Songo, Disajikan di Acara Adat Solo
Hanang Yuwono June 18, 2026 12:28 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Jenang grendul adalah salah satu kuliner populer di Solo, Jawa Tengah,

Rasanya manis berpadu gurih santan. Biasanya disajikan di atas daun pisang.

Identitas utama jenang grendul terletak pada “grendul”-nya, yaitu bola-bola kecil yang diolah dari tepung ketan.

Baca juga: Rekomendasi Wisata di Klaten: Bukit Patrum Tawarkan Destinasi Eksotis dengan Sejarah Kolonialisme

Tekstur grendul yang kenyal dan lembut memberikan sensasi berbeda saat disantap, menjadikannya ciri khas tersendiri yang membedakannya dari bubur tradisional lainnya.

Kelezatan jenang grendul lahir dari kombinasi manisnya gula aren berpadu dengan gurihnya kuah santan kental.

Kombinasi ini menciptakan rasa legit bagi penikmatnya.

Untuk merasakan cita rasa otentiknya, pasar tradisional seperti Pasar Gede menjadi destinasi utama.

Di sini para penjual menjajakan jenang grendul yang resepnya seringkali diwariskan secara turun-temurun.

Jenang Grendul yang dibagikan di Semarak Jenang Sala 2019, Solo, Minggu (17/2/2019)
KULINER SOLO - Jenang Grendul yang dibagikan di Semarak Jenang Sala 2019, Solo, Minggu (17/2/2019) (TRIBUNSOLO.COM)

Sejarah dan Filosofi Jenang Grendul

Jenang grendul, yang juga dikenal dengan jenang candil, merupakan makanan khas Jawa Tengah.

Nama “grendul” merujuk pada bola-bola kecil dari tepung ketan yang dicampur gula merah hingga berwarna merah kecoklatan.

Sementara “jenang” dalam bahasa Jawa berarti bubur.

Keberadaan jenang di masyarakat Jawa, khususnya di Solo, dipercaya sudah melekat sejak zaman kerajaan Hindu-Budha dan era Wali Songo.

Baca juga: Sejarah Mie Nyemek, Kuliner Malam yang Populer di Solo

Jenang kerap hadir sebagai makanan pelengkap di berbagai acara adat maupun keagamaan, seperti pernikahan, selamatan ibu hamil, selamatan bayi yang baru lahir, hingga upacara kematian.

Makanan ini diyakini lahir dari kreativitas masyarakat setempat dan menjadi simbol rasa syukur serta doa kepada Tuhan.

Lebih dari sekadar makanan, jenang mengandung makna filosofis yang dalam.

Jenang grendul diyakini melambangkan persatuan, keharmonisan, harapan, dan semangat hidup masyarakat Jawa.

Bentuknya yang bulat dan kenyal mencerminkan nilai kehidupan: kadang di atas, kadang di bawah, seperti roda yang berputar.

Baca juga: Sejarah Lemet Singkong atau Utri, Jajanan Legendaris di Solo Raya Kini Mulai Langka

Tempat Beli Jenang Grendul Enak di Solo

Bagi pencinta jenang, Jenang Bu Narti di Solo ini bisa jadi rekomendasi kulineran.

Jenang Bu Narti menawarkan 5 varian favorit: Jenang Pati, Sumsum, Ketan Hitam, Mutiara, dan Grendul, semuanya bisa dicampur sesuai selera.

Rasanya menurut TribunSolo.com manis pas, dipadu santan legit yang bikin ketagihan.

Harga terjangkau dan lengkap, membuat tempat ini jadi surga jenang di Solo.

Lokasi : Jl. Letjen S. Parman, Banjarsari, mangkal sebrang Toko Jam Yono.

Jam buka : 16.00–18.00 WIB.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.