Irigasi Wae Dingin 1 di Manggarai Timur Rusak dan Belum Diperbaiki, Warga Turun Tangan
Hilarius Ninu June 18, 2026 01:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, BORONG---Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas PUPR belum memperhatikan kerusakan saluran irigasi Wae Dingin 2 di Sita, Desa Sita, Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur. 

Karena itu, warga Kampung Sita dan Kampung Nantal, Desa Sita turun tangan alias bakti sosial secara swadaya memperbaiki irigasi yang rusak akibat tertimbun material longsor di saluran irigasi induk Wae Dingin 2.

Karolus Wanga, warga Desa Sita, kepada TRIBUNFLORES.COM, Kamis 18 Juni 2026, menuturkan, Irigasi Wae Dangi atau Wae Dingin 2 ini dibangun sekitar tahun 2007 lalu.

Beberapa tahun kemudian terjadi kerusakan dimana material longsor berupa batu, pasir, tanah dan kayu-kayu besar tertimbun dalam saluran irigasi itu sehingga saluran irigasi itu rusak dan tidak berfungsi dengan baik. 

 

Baca juga: 11 Anak Muda di Pulau Rinca Labuan Bajo Sulap Ikan Teri Jadi Produk UMKM, Dikirim ke Surabaya

 

 

Melihat kondisi itu, kata Karolus, sebagai petani yang merasakan manfaat irigasi itu dan juga sebagai warga negara yang baik memperbaiki seadanya dengan secara swadaya, sehingga air bisa melintasi saluran irigasi itu meski tidak maksimal. 

Sejak kerusakan irigasi pertama, kata Karolus warga juga sudah menyampaikan laporan itu kepada Pemerintah Desa Sita, Camat Ranamese, Pemerintah Daerah dalam hal ini dinas PUPR dan BPBD, Pemerintah Provinsi NTT dan juga anggota DPRD. Namun, hingga saat ini Pemerintah Provinsi NTT belum memperhatikan dengan turun memperbaiki kerusakan irigasi itu. 

Berjalannya waktu, kerusakan irigasi semakin berat, material longsor terus menutupi saluran irigasi itu dan kini sudah mencapai puluhan meter. Material tak bisa diangkut secara manual oleh tenaga manusia, namun harus membutuhkan alat berat. 

Dikatakan Karolus, setiap kali terjadi musim hujan selalu terjadi longsor dan selalu merusaki saluran irigasi itu. Kini kerusakan parah sudah sepanjang 64 meter. 

Meski demikian, warga Desa Sita dan Kampung Nantal tetap memperbaiki secara swadaya, namun tidak berjalan maksimal. 

"Sudah belasan kali kami perbaiki irigasi itu secara swadaya, kami pengguna air kumpul uang untuk secara gotong-royong perbaiki irigasi itu,"ujarnya. 

Karolus juga mengatakan, saat ini saluran irigasi itu sudah tidak bisa dilewati air lagi dan sudah berlangsung sekitar 1 bulan lebih. Sehingga sekitar ratusan hektar sawah dari Sita sampai Kampung Golo Mongkok terancam kering dan sebagian besar sudah tidak digarap lagi. 

"Harapan kami kepada bapak Gubernur, wakil rakyat yang duduk di Provinsi NTT, kepala Dinas PUPR Provinsi agar segera turun membantu kami. Karena saluran irigasi ini sebagai sumber hidup kami petani disana. Kalau tidak ekonomi kami akan lumpuh total," pungkasnya. (rob) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.