Mengenal BBM B50 hingga Komposisi Biodiesel Berbahan Sawit yang Tersedia di SPBU per 1 Juli 2026
Suci Rahayu PK June 18, 2026 01:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Mulai 1 Juli 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan meluncurkan bahan bakar biodiesel 50 persen (B50).

Nantinya bahan bakar minyak (BBM) B50 ini akan tersedia di SPBU seluruh Indonesia.

B50 menjadi energi terbarukan yang disiapkan menjadi solusi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika kondisi energi global.

Diketahui, saat ini di SPBU produk Biodiesel ini dijual dengan nama Biosolar. 

Sementara jenis biodiesel yang sudah ada di Indonesia yaitu B40 dan B35.

Jenis BBM ini mendapat subsidi dari pemerintah dengan harga Rp 6.800 per liter.

Nantinya akan ada pilihan B50 bagi pengguna mobil diesel.

Baca juga: Harga Tiket Pesawat Rute Jambi-Batam Tanpa Transit Rp1.214.900

Baca juga: Simpang 4 Kenali Jambi Kembali Banjir, Warga Sebut Sebulan Sudah 5 Kali Terendam

Lantas apa itu BBM B50?

Secara garis besar, B50 memiliki akar yang sama dengan pendahulunya seperti B40 maupun B35, yang karib disapa publik sebagai Biosolar. 

Letak perbedaan mendasarnya berada pada porsi atau kadar minyak nabati yang terkandung di dalamnya.

Sebagai komparasi, formula B35 meramu 35 persen minyak sawit dengan 65 persen solar murni. 

Sementara itu, formula B40 mengombinasikan 40 persen minyak sawit dan 60 persen solar murni. 

Di sinilah B50 mengambil lompatan besar dengan menyuntikkan 50 persen minyak sawit yang dipadukan seimbang dengan 50 persen solar konvensional, sehingga porsi bahan bakar nabatinya menjadi jauh lebih dominan.

Karakteristik BBM jenis ini sangat ideal untuk menyokong kendaraan ataupun moda transportasi yang mengadopsi mesin diesel. 

Target utamanya adalah armada yang menuntut torsi atau daya tarikan besar, serta kendaraan yang beroperasi untuk mobilitas jarak jauh.

 Kendaraan taktis, alat pertanian modern, hingga alat berat di sektor pertambangan menjadi contoh nyata pengguna setianya.

Lewat kebijakan ini, pemerintah berambisi mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) sekaligus memangkas ketergantungan pada keran impor bahan bakar fosil.

Baca juga: Perhiasan di Jambi Rp8,650 Juta per Mayam, 18/6/2026 Emas Antam Anjlok Rp2.703.000

Tangguh Melalui Berbagai Uji Coba Lintas Sektor

Keandalan B50 tidak lahir dalam semalam.

 Pemerintah telah menguji formula ini pada berbagai lini permesinan, mulai dari mesin generator (genset), alat-alat pertanian, sektor perkapalan, industri pertambangan, hingga kendaraan roda empat pada umumnya.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa serangkaian uji coba pada dapur pacu diesel menunjukkan performa yang memuaskan, baik dari parameter operasional maupun kelayakan teknis.

 Menariknya, sektor perkeretaapian menjadi salah satu fokus krusial dalam riset ini.

 Hal tersebut dikarenakan kereta api merupakan moda transportasi massal yang mengonsumsi solar dalam volume masif dengan karakteristik operasional yang sangat spesifik.

Melalui kematangan hasil uji tersebut, pemerintah memantapkan langkah untuk memberlakukan implementasi B50 secara nasional pada awal Juli mendatang.

“Ini semua dipakai di semua sektor. Nanti juga akan tersedia di SPBU. Keputusan Menteri akan kita keluarkan sebelum 1 Juli, nah dari situ Pertamina sudah berkontrak dengan berbagai badan usaha. 

Pelakunya bukan Pertamina saja, seluruh badan usaha bahan bakar minyak,” ujarnya dilansir dari laman ESDM pada Selasa (7/6/2026).

Riset mendalam pada kendaraan berat non-otomotif dengan beban kerja tinggi juga menunjukkan hasil yang senada.

 Formula B50 terbukti lolos spesifikasi teknis yang ketat, terutama pada indikator stabilitas oksidasi, kadar air, hingga kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

Meski dari segi konsumsi operasional tercatat adanya kenaikan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12 persen bila disandingkan dengan B40, angka tersebut dinilai masih masuk dalam koridor wajar. 

Kenaikan tipis ini dipastikan tidak mengganggu atau menurunkan tingkat produktivitas fungsional dari alat-alat berat tersebut.

"Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirim energi nasional.

 Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional," tutup Eniya. (*)

 

Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi

Baca juga: Macet Panjang di Lingkar Selatan Kota Jambi, Kendaraan Besar Mengular

Baca juga: Banjir di Simpang 4 Kenali, Kemacetan Mengular hingga 1 Kilometer

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.