TRIBUNNEWS.COM - Mayor Jenderal (Mayjen) TNI (Purn) Kivlan Zen kembali menjadi pusat perhatian usai turun langsung dalam aksi penolakan eksekusi lahan Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).
Mantan Kepala Staf Kostrad (Kaskostrad) itu berdiri di barisan depan massa aksi, menyuarakan penolakan terhadap langkah eksekusi yang dinilai belum memiliki landasan hukum tetap.
Dalam aksi tersebut, Kivlan berorasi di atas mobil komando dengan latar spanduk penolakan eksekusi.
Ia menegaskan kesiapannya untuk pasang badan demi membela hak ahli waris serta karyawan Indobuildco yang terdampak sengketa lahan tersebut.
Kivlan bahkan mengalami luka di bagian tangan akibat terkena kawat duri saat berada di lokasi.
Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan sikapnya untuk tetap berada di garis depan.
“Aparat nanti jangan represif. Ingat, saya juga mantan prajurit dan sekarang jiwa saya sebagai prajurit ya, old soldier never die. Saya perjuangkan untuk mempertahankan hak-hak ahli waris, hak-hak Indobuildco,” tegas Kivlan di hadapan massa dan aparat keamanan, mengutip TribunSolo.com.
Baca juga: Eksekusi Hotel Sultan Selesai, Lahan Langsung Dikelola Setneg
Menurut Kivlan, upaya eksekusi lahan Hotel Sultan saat ini merupakan bentuk perbuatan melawan hukum karena status lahan masih dalam sengketa.
Ia menyebut pihaknya memiliki bukti kuat berupa Eigendom Verponding 1684 yang telah diakui oleh Dirjen Agraria pada 1980.
Perkara sengketa tersebut kini telah didaftarkan dan dijadwalkan segera disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Meski bersikap tegas menolak eksekusi sepihak, Kivlan tetap membuka peluang dialog dengan pemerintah.
Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Menko Djamari Chaniago guna mencegah potensi bentrokan fisik di lapangan.
Tak hanya itu, Kivlan juga menyampaikan pesan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ia menawarkan solusi kompromi agar pengelolaan lahan dan bangunan Hotel Sultan dilakukan secara bersama antara pemerintah dan ahli waris.
“Saya harap Presiden Prabowo mendengarkan hal ini. Kita tidak keberatan Sekretariat Negara mengelola ini, tapi bersama ahli waris. Mari bersama-sama kita kelola,” ujarnya.
Kivlan Zen sendiri merupakan purnawirawan TNI Angkatan Darat kelahiran 24 Desember 1946.
Lulusan Akademi Militer 1971 dari kecabangan Infanteri itu dikenal sebagai salah satu tokoh militer senior Indonesia yang pernah menduduki lebih dari 20 jabatan strategis, mayoritas di bidang komando tempur.
Karier militernya mencapai puncak ketika menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad ABRI.
Selain itu, pada 2016 Kivlan juga dikenal sebagai negosiator penting dalam pembebasan 18 warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.
Satu angkatan dengan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Endriartono Sutarto, Kivlan hingga kini masih aktif menyuarakan pandangannya dalam berbagai isu pertahanan, keamanan, dan kebijakan nasional.
Pendidikan Akademik
Pendidikan Militer
Kursus/diklat
Letnan Dua s/d Kapten
Mayor
Letnan Kolonel
Kolonel
Brigadir Jenderal
Mayor Jenderal
Kericuhan sempat mewarnai proses eksekusi lahan Hotel Sultan, Jakarta Pusat pada Kamis (18/6/2026).
Kivlan Zen mengalami luka pada punggung tangan kirinya usai memimpin orasi massa pendukung Hotel Sultan saat proses eksekusi berlangsung pada Kamis (18/6/2026) pagi.
Luka tersebut terjadi setelah tangannya tergores kawat berduri setinggi sekitar 100 sentimeter yang dipasang untuk menutup akses masuk dari sisi timur halaman Hotel Sultan.
Kivlan menjelaskan, insiden itu terjadi saat dirinya sedang berkomunikasi dengan Kapolres Jakarta Pusat untuk meminta aparat tidak memaksakan masuk ke area hotel.
Namun, situasi di lapangan memanas akibat dorongan massa dari belakang, hingga tangannya tanpa sengaja mengenai kawat berduri.
Ia menegaskan luka yang dialaminya tidak parah dan hanya berupa goresan ringan. Kivlan bahkan menyebut darah yang keluar sebagai bentuk pengorbanannya dalam perjuangan membela pihak Hotel Sultan.
Setelah insiden tersebut, Kivlan segera diamankan oleh massa pendukung bersama sejumlah orang lainnya. Ia ditarik menjauh dari kerumunan menuju area yang lebih aman, lalu dibawa ke lobi Hotel Sultan untuk mendapatkan penanganan medis dari petugas hotel.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati/Igman Ibrahim)