TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ratusan pengemudi ojek online (ojol) mendatangi Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) di Jalan Yos Sudarso, Kota Medan, Kamis (18/6/2026).
Mereka memprotes kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax yang dinilai berdampak langsung terhadap pendapatan pengemudi.
Selain mempermasalahkan kenaikan harga Pertamax, para pengemudi juga mengeluhkan antrean panjang Pertalite yang belakangan kerap terjadi di sejumlah SPBU di Medan.
Dalam aksi tersebut, perwakilan pengemudi diterima langsung oleh Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Romi Bahtiar.
Salah seorang pengemudi ojol, Syahbudi (44), mengatakan kenaikan harga Pertamax membuat biaya operasional semakin besar. Di sisi lain, banyak pengemudi yang beralih menggunakan Pertalite sehingga antrean di SPBU semakin panjang.
“Kami menolak kenaikan harga Pertamax. Karena Pertamax sangat berpengaruh bagi kami sebagai ojol di Sumut ini. Pertalite jadi langka di lapangan membuat antrean panjang sampai setengah jam,” kata Syahbudi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat waktu bekerja para pengemudi berkurang karena harus mengantre untuk mendapatkan BBM.
“Naiknya Pertamax pasti mengurangi pendapatan driver. Setidaknya inilah keresahan ojol semua,” ujarnya.
Terkait beralihnya pengguna pertamax ke Pertalite sejalan dengan pernyataan, Rama, pengemudi transportasi online roda empat di Medan.
Ia mengaku kenaikan harga Pertamax membuat dirinya mempertimbangkan untuk beralih sementara ke Pertalite demi menekan biaya operasional.
“Kalau udah segini kayaknya nggak bisa lagi kita ngisi Pertamax,” katanya.
Menurut Rama, selama ini ia memilih Pertamax karena mempertimbangkan performa kendaraan. Namun kondisi saat ini membuatnya harus menghitung ulang pengeluaran harian.
“Memang dari awal itu yang ditakuti. Cuma kalau kayak gini, sama aja nggak makan. Jadi terpaksa beralih dulu lah ke Pertalite,” ujarnya.
Rama mengaku menghabiskan sekitar 10 liter BBM setiap hari untuk beroperasi. Dengan kenaikan harga Pertamax sebesar Rp4.050 per liter, biaya bahan bakar yang harus dikeluarkannya bertambah hampir Rp40 ribu per hari dibanding sebelumnya.
Di sisi lain, ia menilai tarif layanan transportasi online saat ini belum mampu mengimbangi kenaikan biaya operasional yang ditanggung pengemudi.
Untuk perjalanan jarak dekat sekitar tiga kilometer, kata dia, pengemudi terkadang hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp12 ribu.
Nilai tersebut dinilai tidak sebanding dengan biaya bahan bakar maupun waktu tempuh, terutama saat menghadapi kemacetan.
“Kalau kena macet, ongkos yang didapat cuma Rp12 ribu. Jauh dari harapan,” katanya.
Menanggapi keluhan tersebut, Romi Bahtiar menjelaskan harga Pertamax ditetapkan berdasarkan sejumlah faktor, terutama harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Harga tersebut adalah harga yang telah disepakati oleh pemerintah dan juga Pertamina. Yang mana kenaikan tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu kenaikan harga minyak dunia dan juga nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Meski mendapat protes dari pengemudi ojol, Romi menegaskan Pertamina tetap berkomitmen menjaga ketersediaan BBM bagi masyarakat, baik subsidi maupun non-subsidi.
“Pertamina Patra Niaga tetap berkomitmen untuk menjaga ketersediaan BBM, baik itu BBM subsidi maupun non-subsidi, untuk kebutuhan masyarakat Indonesia,” katanya.
Terkait keluhan antrean Pertalite di sejumlah SPBU, Pertamina mengakui terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat setelah harga Pertamax naik.
Menurut Romi, banyak konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax beralih ke Pertalite sehingga permintaan BBM subsidi meningkat di sejumlah SPBU.
“Kami melihat di sini bahwa adanya peralihan konsumsi dari BBM jenis Pertamax ke Pertalite. Karena mungkin masyarakat ataupun ojol melihat adanya kenaikan BBM Pertamax. Nah, di situlah akan menumpuk, di beberapa SPBU menjadi padat,” katanya.
Ia memastikan antrean yang terjadi bukan disebabkan stok Pertalite kosong, melainkan meningkatnya jumlah konsumen yang membeli BBM tersebut.
“Kalaupun memang ojol melihat ada beberapa antrean di beberapa SPBU, itu bukan berarti BBM-nya tidak ada,” ujarnya.
Dalam dialog itu, pengemudi juga mempertanyakan kemungkinan penurunan harga Pertamax setelah harga minyak dunia mulai melemah menyusul dibukanya kembali Selat Hormuz yang sempat memicu kekhawatiran pasar energi global.
Menanggapi hal tersebut, Romi mengatakan kebijakan harga BBM non-subsidi akan dievaluasi secara berkala oleh pemerintah pusat dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
“Tentu saja harga ini akan dievaluasi secara berkala oleh pemerintah pusat. Jadi nanti kita sampaikan juga apabila terjadi kenaikan ataupun penurunan. Karena harga tersebut mengacu kepada nilai tukar rupiah dan juga harga minyak dunia,” katanya.
Berdasarkan data perdagangan internasional, harga minyak mentah Brent dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan setelah sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memunculkan harapan dari kalangan pengemudi ojol agar harga Pertamax juga dapat ditinjau kembali.
Namun hingga saat ini, Pertamina belum memastikan adanya rencana penyesuaian harga dalam waktu dekat dan masih menunggu hasil evaluasi pemerintah pusat.
(cr26/tribun-medan.com)