Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sinca Ari Pangistu
TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Hingga pertengahan Juni 2026, realisasi program bongkar ratoon dan perluasan area tebu di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, telah mencapai 797,789 hektare.
Angka tersebut berkisar 33,92 persen dari target hektare yang ditetapkan pemerintah.
Baca juga: Tanggapan SPPG di Mojokerto Soal Penghentian Sementara Aktivitas Dapur MBG Selama Libur Sekolah
Data ini mengemuka dalam acara panen dan tanam tebu serentak di Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, pada Kamis (18/6/2026).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso, Mulyadi, mengatakan bahwa program bongkar ratoon memiliki peran penting dalam mendukung percepatan swasembada gula nasional.
Selain menjaga ketahanan pangan, peningkatan produksi gula juga berdampak pada stabilitas harga dan kesejahteraan petani.
"Ini bagian dari implementasi Program Strategis Nasional sektor pergulaan Tahun 2026," jelasnya.
Menurut Mulyadi, produktivitas tebu rakyat sangat dipengaruhi oleh umur tanaman.
Ratoon atau tebu keprasan yang sudah tua cenderung mengalami penurunan hasil, sehingga perlu diremajakan melalui program bongkar ratoon.
Berdasarkan berbagai kajian teknis, kegiatan bongkar ratoon mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 15 hingga 30 persen.
Hasil optimal ini dapat dicapai apabila diikuti dengan penerapan budidaya yang baik, penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang, serta pengelolaan air yang optimal.
"Tanaman ratoon memerlukan peremajaan melalui kegiatan bongkar ratoon agar produktivitas lahan dapat kembali optimal,” katanya.
Ia menjelaskan, Bondowoso merupakan salah satu wilayah pengembangan tebu yang menjadi pemasok bahan baku penting bagi industri gula, khususnya Pabrik Gula (PG) Prajekan.
Oleh karena itu, daerah tersebut mendapat target bongkar ratoon dan perluasan areal tebu seluas 2.352 hektare pada tahun ini.
Hingga Kamis (18/6/2026), hasil verifikasi lapangan dan penyusunan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) menunjukkan capaian program telah mencapai 797,789 hektare atau 33,92 persen dari target.
Realisasi tersebut tersebar di sejumlah kecamatan sentra tebu dan terus bertambah seiring percepatan pendataan serta pendampingan petani.
Meski demikian, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah kendala.
Di antaranya, masih ada petani yang mempertahankan tanaman ratoon tua karena keterbatasan modal usaha, kebutuhan percepatan penyediaan benih varietas unggul, penyesuaian jadwal tanam dengan kondisi iklim dan ketersediaan air, serta perlunya penguatan kelembagaan petani.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, DPKP Bondowoso terus melakukan berbagai langkah percepatan.
Salah satunya melalui peningkatan pendampingan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan verifikasi CPCL secara berkelanjutan bersama petugas Kementerian Pertanian.
Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi dengan PG Prajekan, memfasilitasi penerapan teknologi budidaya tebu yang lebih efisien, serta mendorong penguatan kelompok tani dan kemitraan usaha.
"Penguatan koordinasi dengan PG Prajekan dilakukan dengan dukungan penuh petugas lapangan agar percepatan program dapat berjalan sesuai target,” ujarnya.
Baca juga: Pemkab Sidoarjo Perketat 25 Paket Pengerjaan Proyek Infrastruktur Senilai Rp108,5 Miliar
Mulyadi juga melaporkan perkembangan positif sektor pergulaan di Bondowoso pada musim giling 2026.
PG Prajekan menargetkan produksi gula mencapai 5,5 juta kuintal dengan rendemen rata-rata 7,62 persen.
Target tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 7,01 persen.
Menurutnya, tren positif ini dipicu oleh perbaikan kualitas bahan baku tebu serta semakin baiknya penerapan teknologi budidaya di tingkat petani.
"Peningkatan rendemen ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas bahan baku tebu, peningkatan penerapan teknologi budidaya, serta semakin baiknya koordinasi antara petani, penyuluh, pemerintah daerah, dan industri gula,” katanya.
DPKP Bondowoso optimistis target bongkar ratoon dan perluasan area tebu tahun 2026 dapat tercapai dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan.