Harga Minyak Dunia Turun, Pertamina Belum Pastikan Pertamax di Medan Ikut Turun
Randy P.F Hutagaol June 18, 2026 04:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Di tengah tren penurunan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir, Pertamina Patra Niaga menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax, akan tetap dievaluasi secara berkala oleh pemerintah dengan mempertimbangkan pergerakan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data pasar internasional, harga minyak mentah Brent turun hingga di bawah 80 dolar AS per barel dalam sepekan terakhir. 

Pada 16 Juni 2026, Brent tercatat di level 78,96 dolar AS per barel atau turun sekitar 5 persen dibanding hari sebelumnya, menjadi posisi terendah dalam tiga bulan terakhir. 

Penurunan berlanjut pada 18 Juni 2026 ke kisaran 77,41 dolar AS per barel setelah muncul kesepakatan Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.  

Pjs Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Romi Bahtiar, mengatakan kenaikan harga Pertamax sebelumnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kenaikan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Harga tersebut adalah harga yang telah disepakati oleh pemerintah dan juga Pertamina. Yang mana kenaikan tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu kenaikan harga minyak dunia dan juga nilai tukar rupiah,” ujar Romi, Kamis (18/6/2026).

Meski demikian, Romi menegaskan Pertamina tetap berkomitmen menjaga ketersediaan BBM bagi masyarakat, baik BBM subsidi maupun non-subsidi.

“Pertamina Patra Niaga tetap berkomitmen untuk menjaga ketersediaan BBM, baik itu BBM subsidi maupun non-subsidi, untuk kebutuhan masyarakat Indonesia,” katanya.

Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan penurunan harga Pertamax setelah dibukanya kembali Selat Hormuz yang mendorong harga minyak dunia turun, Romi mengatakan kebijakan harga akan ditentukan melalui evaluasi berkala oleh pemerintah pusat.

“Tentu saja harga ini akan dievaluasi secara berkala oleh pemerintah pusat. Jadi nanti kita sampaikan juga apabila terjadi kenaikan ataupun penurunan. Karena harga tersebut mengacu kepada nilai tukar rupiah dan juga harga minyak dunia,” ujarnya.

Sebelumnya, kenaikan harga Pertamax memicu aksi ratusan pengemudi ojek online (ojol) di Medan yang mendatangi kantor Pertamina di Jalan Yos Sudarso. 

Dalam dialog dengan massa aksi, Pertamina mengakui terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan.

Menurut Romi, peralihan konsumsi tersebut membuat sejumlah SPBU mengalami peningkatan antrean pada produk BBM subsidi.

“Kami melihat di sini bahwa adanya peralihan konsumsi dari BBM jenis Pertamax ke Pertalite. Karena mungkin masyarakat ataupun ojol melihat adanya kenaikan BBM Pertamax. Nah, di situlah akan menumpuk, di beberapa SPBU menjadi padat,” katanya.

Ia memastikan kondisi tersebut bukan karena stok Pertalite kosong, melainkan akibat meningkatnya permintaan di sejumlah SPBU tertentu.

“Kami juga tetap berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.

(cr26/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.