TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pemerintah Kabupaten Kendal telah menyiapkan sejumlah opsi alternatif untuk merelokasi rumah milik Siti Rokhanah (64), seorang janda warga RT 5 RW 1, Kelurahan Mbalok, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal.
Rumah milik Rokhanah setiap hari terendam air rob sejak 2006 silam.
Meski begitu, Rokhanah bersama satu putranya tetap tak beranjak pindah lantaran keterbatasan ekonomi.
Baca juga: Masih Tahap Pemetaan, Rencana Pembangunan Giant Sea Wall Jadi Harapan untuk Atasi Rob di Pantura
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari cukup prihatin dengan kondisi yang dialami Rokhanah.
Dia mengatakan, Pemkab Kendal telah membuka sejumlah opsi relokasi untuk memberikan fasilitas kehidupan yang layak untuk Rokhanah beserta anaknya.
"Ada beberapa opsi termasuk kita inapkan di Rusunawa dan kita berikan untuk DP rumah subsidi," kata bupati yang akrab disapa Tika, Kamis (18/6/2026).
Selain itu, Tika juga akan mencari solusi lain seandainya Rokhanah enggan menempati Rusunawa.
Saat ini, Rokhanah akan direlokasi sementara waktu ke rumah dinas lurah Balok.
"Sepertinya kalau di Rusunawa, beliau kurang berkenan karena tinggalnya di lantai 3. Tetapi kami akan siapkan opsi lain, besok Sabtu kami akan ke sana," imbuhnya.
Adapun Kepala Dinas Sosial, Muntoha mengatakan Rokhanah masuk dalam desil 1 penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
"Ibu Rokhanah masuk desil 1, dia selalu dapat bantuan PKH," tandasnya.
Perjuangan Ekstra
Dibutuhkan perjuangan ekstra untuk sampai ke rumah Siti Rokhanah, yang tepat berada di tengah-tengah lahan yang sepenuhnya tergenang air rob.
Dari total jarak 2 kilometer, hanya 1 kilometer jalan yang bisa dilalui menggunakan sepeda motor.
Selebihnya, harus melewati jalan berlumpur yang tak lagi terlihat fisiknya, ditambah genangan air pasang yang mengancam keselamatan.
Sesekali, harus menggunakan tongkat untuk menemukan badan jalan yang sepenuhnya telah tenggelam.
Jika tak waspada dan salah langkah, kaki bisa terpeleset ke tambak sedalam 1 meter. Namun bagi Siti Rokhanah, aktivitas itu sudah ia jalani sejak 2006 silam.
Bersama putranya, Sisdri Atmoko (37), mereka tetap bertahan tinggal di lokasi yang setiap hari dikelilingi air rob.
Rokhanah bercerita, sewaktu pertama kali tinggal di RT 5 RW 1, Kelurahan Mbalok, tempatnya begitu sejuk.
Sepanjang jalan di kiri dan kanan, ditumbuhi tanaman dengan lahan pertanian yang cukup subur.
Tak hanya itu, warga juga masih banyak yang hidup di sana.
Namun sejak tahun 2021, air rob mulai memasuki permukimannya.
Di tahun-tahun setelahnya, ketinggian air semakin tinggi.
Banyak tetangganya satu per satu meninggalkan perkampungan dan membangun rumah baru yang terbebas dari rob. Tapi bagi Rokhanah yang terkendala ekonomi, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Dia pun terpaksa setiap hari hidup dalam kepungan air rob yang terus naik setiap harinya.
"Kalau setiap hari, air yang masuk ke rumah paling tidak sekitar 10 cm. Rumah tidak pernah bebas dari air rob,” kata Rokhanah, Senin (15/6/2026).
Dia mengatakan, selama hidup dalam kepungan rob, dia hanya mengandalkan uluran tangan dari anaknya. Rumahnya pun tak ditinggikan, saban hari kakinya hanya dilindungi sepatu boot.
Saat air rob naik tinggi, tempat tidurnya juga ikut terendam. Dia pun mencari tempat lain di dalam rumah yang lebih tinggi untuk sedikit menyandarkan tubuhnya yang sudah semakin menua.
“Bulan Februari kemarin, datang angin kencang yang membuat dapur rumah roboh. Sekarang saya kalau memasak di ruang tamu,” sambungnya.
Anak Rokhanah, Sisdri Atmoko (37) tak pernah sekalipun mengizinkan ibunya keluar rumah demi keselamatan dengan akses jalan yang tak lagi terlihat.
Setiap hari, seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi sendiri oleh Sisdri. Ia berbelanja, mengambil kebutuhan sehari-hari, hingga memastikan ibunya tetap nyaman berada di rumah.
"Kebutuhan setiap hari, saya yang belanja. Ibu hanya memasak di rumah," kata Sisdri.
Di balik keterbatasan ekonomi dan kehidupan yang dikepung air rob, Sisdri menyimpan harapan besar.
Ia ingin memiliki rumah yang lebih layak, tidak jauh dari tempatnya bekerja, dan yang terpenting, terbebas dari genangan rob agar ibunya dapat menjalani hari tua dengan nyaman.
"Inginnya punya rumah di dekat-dekat sini yang tidak terkena rob. Ibu yang sudah tua bisa bergerak bebas, dan saya tidak jauh dari kerjaan," terangnya.
Bagi Sisdri, memiliki rumah yang aman bukan sekadar impian tentang tempat tinggal, melainkan wujud bakti kepada ibunya yang selama bertahun-tahun bertahan hidup di tengah kepungan rob dan keterisolasian.
Baca juga: Kisah Siti Rokhanah, Janda yang Bertahan Hidup Selama 20 Tahun dari Kepungan Rob di Kendal
Pria yang bekerja serabutan itu mengaku telah lama bercerai dengan istrinya.
Kondisi tersebut justru membuatnya bisa lebih fokus merawat ibunya yang kini berusia 64 tahun.
"Saya kerja serabutan. Bisa lebih banyak mengawasi ibu," pungkasnya. (ags)