TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pianis dan komponis legendaris Indonesia dengan reputasi global, Ananda Sukarlan, menyoroti tajam kemunduran kualitas harmoni pada musik modern sekaligus membongkar kesalahan-kesalahan krusial dalam pendidikan instrumen pemula.
Pandangan ini dipaparkan secara lugas dalam workshop edukasi yang digelar di kantor Sekolah Musik Indonesia (SMI) Yogyakarta, Jalan Monjali, Kamis (18/6/2026) siang.
Acara ini memantik antusiasme tinggi dari berbagai pegiat musik. Interaksi hangat langsung tercipta saat Ananda menyapa para peserta, Edo, seorang pendidik yang menempuh perjalanan kereta api selama satu jam dari SMI Kutoarjo khusus untuk menghadiri sesi tersebut.
Sebelum membedah anatomi pendidikan musik, sosok Ananda Sukarlan sendiri adalah figur historis dalam lanskap seni Tanah Air.
Pria kelahiran 10 Juni 1968 ini mulai menekuni piano sejak usia lima tahun dan meraih beasiswa di Universitas Hartford, Connecticut, Amerika Serikat.
Kariernya melesat hingga ia membagi waktu menetap di Jakarta dan Spanyol. Ananda tercatat sebagai seniman Indonesia pertama yang tampil di Portugal, merambah panggung festival internasional di Spanyol, Paris, Berlin, hingga Rotterdam, dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam buku prestisius "The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century".
Di balik kejeniusannya, Ananda merupakan penyandang disabilitas perkembangan neurodivergen, yakni Sindrom Asperger. Kondisi ini justru memantik dedikasinya yang luar biasa bagi kaum difabel. Bukti nyatanya di ranah musik adalah penciptaan Rapsodia Nusantara No. 39, komposisi yang dirancang khusus untuk dimainkan dengan tangan kiri, didedikasikan bagi pianis tunadaksa. Ia juga rutin melatih anak-anak berkebutuhan khusus, baik di Indonesia maupun di Spanyol.
Memasuki sesi tanya jawab utama, Ananda merespons pertanyaan peserta bernama Elizabeth, mengenai kesalahan umum pengajar musik dan adaptasi genre klasik di era modern. Ananda secara tegas membedah dua kesalahan paling fatal yang sering dilakukan pemula dan ditoleransi oleh pengajar.
Kesalahan pertama adalah keengganan membaca not balok dan hanya mengandalkan telinga atau pendengaran musikal. Menurutnya, hal ini mematikan fondasi polifoni dan kolaborasi tingkat tinggi.
"Kesalahan ya tadi saya bilang banyak banget, antara lain, orang enggak perlu baca not. Orang berbakat musik itu katanya, atau dengar-dengarnya, itu dengar musik terus langsung bisa main. Coba sekarang sodorin musiknya siapa lah, Beethoven Sonata atau Bach apa gitu, apa benar bisa main? Terus sekarang Anda lihat misalnya orkes, segitu, 90 orang, 100 orang. Coba tolong kalau semuanya pakai kuping aja, gimana bisa? Dan bunyi orkes sekarang dan bunyi musik piano yang seperti sekarang, artinya yang sangat kompleks itu, itu enggak akan bisa tercipta, terjadi kalau kita enggak baca not karena ada yang namanya polifoni," tegas Ananda dalam paparannya yang rinci.
Ia menambahkan bahwa di Eropa, membaca partitur diajarkan sejak Sekolah Dasar layaknya alfabet. Literasi not balok membuat proses lintas negara menjadi amat efisien. "Buktinya kita kalau rehearsal, ada musik pun, ada kuartet, yang satu datang dari Kroasia, yang satu datang dari Spanyol, yang satu datang dari Kolombia, dari Amerika, yang satu dari Indonesia, ketemu. Kalau enggak pakai not balok, rehearsal-nya bisa berhari-hari. Kalau pakai not balok, dua hari juga kelar."
Kesalahan utama kedua yang digarisbawahi adalah pengabaian postur dan teknik dasar. Ananda menceritakan pengalaman pahitnya saat harus mengulang teknik dari titik nol ketika melanjutkan kuliah ke Belanda di usia 18 tahun karena kebiasaan posisi duduk yang salah saat les di Jakarta.
"Di Belanda selama beberapa bulan pertama, mungkin empat bulan, lima bulan, enam bulan, saya balik lagi main Do Re Mi Fa Sol terus Do Mi Sol, Mi Sol Do, Sol Do Mi karena posisi duduk saya salah. Padahal itu hanya posisi duduk lho, posisi duduk, posisi tangan, posisi jari. Itu harus bener," kenangnya.
Bermain dengan posisi keliru dapat memicu cedera serius hanya dalam waktu 20 menit. Karena itu, ia menitipkan pesan keras kepada institusi pendidikan musik agar tidak meremehkan peran guru tingkat dasar. "Teknik tuh harus bener dari mula, jadi guru piano yang untuk awal-awal itu sebetulnya penting banget. Jangan mikir 'Ah dia cuma guru piano cuma buat anak-anak kecil gitu', enggak. Itu profesi yang sangat penting yang gara-gara guru itu, itu bisa membunuh karier anak itu."
Lebih lanjut Ananda kemudian memberikan kritik pedas terhadap minimnya kedalaman harmoni pada aransemen musik industri saat ini. Di hadapan para peserta, ia menjadikan megabintang Taylor Swift sebagai contoh kasus simplifikasi struktur musik era sekarang yang sangat mengandalkan pertunjukan visual dibandingkan teknis musikal.
"Tapi terus terang, saya mesti bilang bahwa musik zaman sekarang itu kualitasnya memang menurun. Buat saya tuh Taylor Swift tuh apa ya, aduh, kalau dia lahir tahun 80, dia enggak bakal bisa sukses. Karena sekarang Taylor Swift, diambil deh semua aksesoris segala macamnya, efek panggung segala macam, musiknya tuh sangat-sangat basic gitu. Terus kemudian progresi harmoni gitu tuh, akor musik zaman sekarang tuh paling empat," pungkas Ananda sembari menyentuh tuts pianonya untuk mendemonstrasikan progresi akor yang ia maksud.
Head Edukator SMI Yogyakarta, Martin Koehuan, menyatakan bahwa kegiatan ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mendalami teknik musik klasik, baik dari kalangan murid SMI, guru vokal, guru biola, hingga peserta eksternal.
"Kegiatan hari ini temanya adalah workshop bersama Ananda Sukarlan. Kebetulan beliau adalah seorang pianis dan penggiat musik klasik dari Indonesia, tetapi sudah tinggal di Spanyol sudah lama, dari tahun '98. Kebetulan pada bulan lalu itu beliau mengontak kami, (menyampaikan) 'Saya kebetulan lagi mau datang ke Indonesia, kalau misalkan bersedia saya bisa berkunjung ke SMI untuk mengadakan workshop dan masterclass'. Tujuannya ini adalah untuk bisa membagikan informasi atau membagikan ilmu, dan perjalanan musiknya bisa dibagikan dengan kami di sini," ujar Martin.
Menurut Martin, terdapat tantangan nyata terkait rendahnya minat masyarakat Indonesia, khususnya di Yogyakarta, terhadap musik klasik. Ia menyebut lingkungan keluarga dan orang tua sering kali menjadi faktor utama yang mendorong anak-anak untuk lebih memilih memainkan lagu pop yang sudah populer di telinga masyarakat.
"Iya, misalkan kayak begini saja, orang tua kalau misalkan dengar anaknya main lagu klasik, responsnya pasti, 'Itu lagu apa? Coba dong lagu pop, coba dong lagu yang kita kenal', pasti begitu. Otomatis itu akan mempengaruhi daya minat orang untuk belajar musik klasik. Yang pertama itu. Yang kedua adalah industri atau ekosistem musik klasik di Indonesia, atau di Jogja, itu kan sebenarnya ya masih ada karena ada ISI, ada UNY, tertolong dengan itu. Tapi kan masih banyak juga orang yang belum tahu. Kecuali baru-baru ini Royal Music Orchestra yang punya keraton, itu kan baru bergema saja tuh 5 tahun belakangan ini kan. Jadi orang jadi mulai paham tentang musik klasik," jelas Martin.
Meski tantangan tersebut besar, Martin menekankan bahwa SMI Yogyakarta tetap berkomitmen menjaga kurikulum dengan fondasi klasik yang kuat. Seluruh murid diwajibkan menguasai teknik dasar, seperti membaca notasi balok, sebelum diarahkan ke industri musik yang lebih komersial.
"Kalau musik klasik itu sebenarnya kita di SMI belajar musik pop juga. Tapi untuk dasar, untuk basic, semua murid pasti belajar musik klasik terlebih dahulu. Jadi dari notasi balok, terus lagu-lagunya, itu pasti ada sangkut pautnya dengan musik klasik. Nanti sampai ke grade-grade yang berjenjang, tetap ada musik klasiknya. Tapi tidak menutup kemungkinan kita juga mengajarkan anak-anak untuk belajar musik pop. Karena pada akhirnya kan juga kalau di Indonesia ya musik itu pasti tahunya lagu-lagu pop, lagu-lagu band gitu. Kita tetap, industri itu tetap kita ajarkan," tambah Martin.