TRIBUNBENGKULU.COM - Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang melakukan evaluasi besar-besaran terhadap penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kini sekolah yang terbilang mampu sebagai penerima MBG.
BGN mengalihkan penerima MBG ke wilayah terpencil dan rentan gizi.
Hal ini sebagai upaya BGN dalam melakukan penyesuaian besar-besaran dalam pendataan.
BGN pun mencoret sekolah-sekolah yang dinilai sudah mampu secara mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi siswanya.
Kebijakan ini diambil agar anggaran negara benar-benar tepat sasaran dan lebih banyak menyentuh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, terutama di wilayah terpencil dan rentan gizi.
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya efisiensi dan pemerataan manfaat program MBG.
Menurutnya, sekolah-sekolah yang secara ekonomi sudah tergolong mampu tidak lagi menjadi prioritas penerima bantuan makanan gratis dari pemerintah.
"Sekolah-sekolah yang tadi saya sebutkan itu adalah kami anggap berdasarkan beberapa kriteria yang kami susun, mereka secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka. Oleh karena itu tidak membutuhkan intervensi dari pemerintah," kata Agustina dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa dana yang sebelumnya dialokasikan untuk sekolah-sekolah tersebut akan dialihkan ke wilayah lain yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.
Pemerintah menargetkan penguatan intervensi gizi di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
"Nah, pemerintah mengalihkan ke sekolah lain, ke tempat lain, ke daerah 3T, ke ibu hamil, ibu menyusui, dan balita," lanjutnya.
76 Sekolah di Pulau Jawa Sudah Dicoret
Proses pendataan dan evaluasi penerima manfaat MBG saat ini masih terus berlangsung di berbagai daerah. BGN mencatat, hingga saat ini sudah terdapat 76 sekolah di Pulau Jawa yang masuk dalam daftar sementara untuk tidak lagi menerima program tersebut.
"Sampai dengan hari ini, kami sudah melakukan pendataan dan sudah teridentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa sementara ini ya Ibu dan Bapak ya," ujar Agustina.
Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 39.352 siswa yang sebelumnya menjadi penerima manfaat program makan bergizi gratis, namun kini jatahnya dialihkan sesuai kebijakan baru pemerintah.
Agustina menegaskan bahwa angka 76 sekolah tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring proses pemutakhiran data yang terus dilakukan di lapangan. Pemerintah juga menerapkan indikator ketat dalam menentukan kelayakan penerima program, mulai dari kondisi sosial ekonomi hingga tingkat kerentanan gizi di masing-masing wilayah.
Ia bahkan secara tegas menyebut bahwa siswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi mapan tidak akan lagi menjadi sasaran program MBG.
"Bagi yang secara mandiri bisa memenuhi gizinya karena kondisi-kondisi yang tadi mungkin secara ekonomi berada di desil yang tinggi, itu maka tidak akan diberikan program makan bergizi gratis ini," tegasnya.
Kebijakan ini diharapkan dapat memastikan bahwa program MBG benar-benar menyasar kelompok yang paling membutuhkan, sekaligus mengoptimalkan penggunaan anggaran negara agar lebih efektif dan tepat sasaran.
Korwil BGN Tapsel Sebut Guru dan Murid Senang
Ramai demo minta program MBG disetop, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN) Kabupaten Tapsel sebut guru dan murid senang.
Bahkan Korwil BGN Tapsel, Wan Apriyanti Lubis mengatakan para guru mendukung program ini untuk dipertahankan.
Program MBG terus mendapat sorotan dari masyarakat.
Apalagi sejak Kejagung menemukan adanya skandal korupsi di BGN, gelombang penolakan MBG kian menguat.
Meski menjadi polemik, Wan Apriyanti mengatakan para guru merasa senang dengan program MBG.
Pengakuan para guru ini dibuktikan Wan Apriyanti lewat pesan WA yang diterimanya.
Dalam pesan WA yang diterimanya, kata Wan Apriyanti, para guru berharap proyek ini terus berlanjut.
Para siswa juga senang dengan keberadaan MBG ini.
Dia juga turut mengambil contoh di SD Negeri di Bargot Topong, Kecamatan Batang Angkola.
"Seperti di SD Negeri 100617 Bargot Topong, Kecamatan Batang Angkola. Dari apa yang disampaikan kepala sekolahnya Pak Ahmad Oloan ke kita, sampai saat ini anak-anak dan guru responnya sangat baik dan antusias menerima MBG," kata Wan Apriyanti, Kamis (18/6/2026).
Untuk keberlanjutan MBG ini, lanjut Wan, pihak SD Negeri 100617 berharap agar program yang dihadirkan Presiden Prabowo dalam pemenuhan gizi anak, agar terus berlanjut.
"Sampai saat ini pihak SD Negeri 100617 merasa puas dengan pelayanan pengelola dan berharap bisa dipertahankan. Terlebih anak-anak merasa senang, apalagi kalau hari Sabtu ada menu buah pir yang ukuran super," ungkapnya.
Ia mengungkapkan, sebelum SD Negeri 100617 ini menjadi penerima manfaat MBG, kepala sekolah Ahmad Oloan pernah mempertanyakan kenapa sekolahnya dan beberapa sekolah lain di sekitarnya belum mendapatkan MBG.
"Sekitar Februari kemarin ya, Pak Ahmad Oloan pernah menanyakan kepada saya kenapa sekolahnya yang ada di wilayah Tor Simitcak atau Batang Angkola masuk ke dalam, belum mendapatkan MBG. Di wilayah itu 7 sekolah dasar yang belum menerima manfaat MBG pada saat itu. Nah setelah mereka menjadi penerima manfaat MBG, antusiasme dan dukungan dari mereka itu masih sama tingginya dari awal menerima sampai saat ini," terangnya.
Dukungan serupa juga datang dari SD Negeri 100616 Batang Angkola. Syarifah Rahma selaku guru di SD tersebut mengutarakan, anak didiknya secara umum menyambut program Makan Bergizi Gratis ini dengan sangat senang dan antusias.
"Bagi mereka, program ini memberikan kesempatan untuk menikmati variasi menu makanan yang mungkin selama ini jarang mereka temui," kata Wan menirukan pernyataan Syarifah Rahma.
Tak hanya di situ, sambungnya, dukungan juga datang dari TK Azzuhra Batang Angkola. Ziraidah selaku tenaga pendidik di TK itu menyebut anak didiknya sangat riang gembira, sekolah lebih rajin dan selalu menanyakan apakah MBG masih datang.
"Lebih baik MBG ada daripada bantuan yang lain. Contoh, bantuan uang. Belum tentu orangtuanya memberikan makanan seperti MBG. Apalagi MBG selalu ada buah. Masih banyak anak-anak tidak makan buah seperti buah apel dan buah naga. Pokoknya lanjut, program Pak Prabowo ini mantul (mantap betul)," ucap Ziraidah.
Untuk diketahui, sekolah-sekolah tersebut di atas mendapatkan MBG dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di Tapanuli Selatan, yaitu SPPG Tapanuli Selatan Batang Angkola Sitampa Simatoras dari Yayasan Karya Indonesia Emas, dan sudah beroperasional sejak 17 Februari 2025 dan merupakan SPPG pertama yang operasional di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).