AS-Iran Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Dibuka Kembali: Teheran Kurangi Uranium
Rustam Aji June 18, 2026 11:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON DC — Hubungan membara di Timur Tengah akhirnya memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran resmi menandatangani kesepakatan damai jarak jauh guna mengakhiri ketegangan militer di kawasan tersebut. 

Melalui penandatanganan dokumen secara elektronik pada Rabu (17/6/2026), Teheran menyepakati pengurangan kadar uranium yang diperkaya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi besar-besaran dari Washington.

Langkah diplomatik krusial ini otomatis membuka kembali Selat Hormuz, jalur logistik minyak paling vital di dunia yang diharapkan dapat langsung mengurangi tekanan ekonomi global.

Kesepakatan bersejarah ini dirancang untuk menyudahi konflik bersenjata yang pecah sejak 28 Februari lalu, pasca-serangan AS-Israel yang memicu balasan rentetan rudal serta drone masif dari Iran ke wilayah sekutu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa negaranya sengaja memilih prosedur penandatanganan digital tanpa upacara seremonial resmi. Menurutnya, keabsahan tanda tangan elektronik dari pejabat tertinggi kedua negara sudah mengikat secara hukum internasional.

Baca juga: Pecah Telur! 3 Kapal Tanker Iran Lolos dari Blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz

Di kubu seberang, Presiden AS Donald Trump membubuhkan tanda tangannya pada nota kesepahaman (MoU) tersebut di sela-sela agenda makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles setelah KTT G7 berlangsung.

Kompensasi Ekonomi dan Fasilitasi Dana Rekonstruksi

Sebagai komitmen timbal balik dari Kesepakatan AS Iran, Washington berjanji untuk segera mencabut sanksi ekspor minyak yang selama ini melumpuhkan perekonomian Teheran.

Tak hanya itu, pasca-kesepakatan final program nuklir ini tercapai, AS akan membantu memfasilitasi pencairan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dollar AS atau setara Rp5.355 triliun yang disokong oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Meski memfasilitasi, pejabat teras Gedung Putih memastikan bahwa Washington tidak memiliki kewajiban finansial untuk menyetor sepeser pun uang ke dalam dana bantuan rekonstruksi tersebut.

Negosiasi Dua Bulan dan Pengawasan Nuklir Ketat

Guna mengantisipasi ketegangan susulan, kesepakatan darurat ini akan dilanjutkan dengan periode negosiasi intensif selama dua bulan ke depan. Waktu tersebut bakal digunakan kedua belah pihak untuk merumuskan regulasi jangka panjang terkait ambisi pengembangan senjata nuklir Iran.

Baca juga: Bocor! AS dan Iran Sepakati 12 Poin Perdamaian: Teheran Dapat Dana Rekonstruksi Rp 5.328 Triliun

Secara teknis, pengurangan stok uranium milik Iran nantinya akan diproses melalui mekanisme pencampuran ulang langsung di lokasi fasilitas nuklir. Seluruh proses penurunan kadar zat radioaktif tersebut dipastikan berada di bawah pengawasan ketat Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Meredanya tensi Perang Timur Tengah ini diprediksi akan membawa angin segar bagi stabilitas harga energi dunia, termasuk memulihkan jalur perdagangan internasional yang sempat lumpuh selama hampir empat bulan terakhir. (inas/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.