Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, menegur Kepala Desa Niowula, Finsensius Papa, saat melakukan kunjungan kerja ke Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (18/6/2026).
Teguran tersebut berkaitan dengan polemik pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang sebelumnya memicu kerusakan di SDN Wolomoni dan menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran didampingi Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda dan sejumlah pejabat daerah lainnya.
Kedatangannya disambut ratusan warga, pelajar, dan guru SDN Wolomoni yang beberapa waktu lalu menjadi perhatian masyarakat akibat aktivitas alat berat yang merusak sebagian area sekolah.
Baca juga: Soal Polemik Lahan SD Negeri Wolomoni Ende, Gibran: Warga Seakan-akan Dibenturkan dengan TNI
Saat tiba di SDN Wolomoni, Johni Asadoma sempat menunjukkan area sekolah yang terdampak penggusuran kepada Wapres.
Gibran kemudian menanyakan jalur yang dilalui ekskavator dan lokasi pembangunan gedung KDMP.
“Ekskavatornya lewat mana, terus lokasi koperasinya di mana?” tanya Gibran sambil berjalan menuju salah satu ruang kelas yang akan digunakan untuk berdialog dengan orang tua murid.
Tak lama kemudian, Gibran mempertanyakan alasan area sekolah ikut terdampak, padahal lokasi pembangunan gedung KDMP disebut berada di belakang sekolah.
“Gedung KDMP-nya di belakang sekolah, kenapa di sini yang digaruk?” tanyanya.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Kepala Desa Niowula, Finsensius Papa, menjelaskan bahwa alat berat melintasi area sekolah karena tidak ada akses jalan lain menuju lokasi pembangunan.
“Untuk melintaskan alat berat, Pak, karena alternatif jalan hanya satu ini,” jawab Finsensius.
Dalam kesempatan itu, Gibran juga menanyakan perkembangan penyediaan lahan alternatif setelah sebelumnya disepakati bahwa lokasi pembangunan akan dipindahkan.
Namun, Finsensius mengakui hingga kini pemerintah desa belum berhasil menyiapkan lahan pengganti.
“Kami belum bisa mempersiapkan lahan karena sudah musyawarah pada tanggal 10 Juni, kemudian dilanjutkan dengan kesepakatan bersama para mosalaki, tetapi belum bisa menentukan lahan,” ujarnya di hadapan Wapres.
Ia menjelaskan pemerintah desa bersama para tokoh adat atau mosalaki telah berkomitmen untuk tidak lagi mengganggu aktivitas belajar mengajar di SDN Wolomoni.
Sebelum memasuki ruang kelas untuk berdialog dengan para orang tua murid, Gibran kembali mendengarkan penjelasan lanjutan dari kepala desa terkait persoalan tersebut.
Namun, setelah mendengar seluruh penjelasan, Wapres tampak kecewa dan melontarkan kritik tegas terhadap penanganan persoalan yang terjadi.
“Jadi kemarin kalau nggak viral pasti dilanjutkan, salah tapi dibenarkan,” tegas Gibran.
Usai menyampaikan pernyataan tersebut, Wapres langsung memasuki ruang kelas untuk bertemu dan berdialog dengan para orang tua murid yang telah menunggu.
Kasus SDN Wolomoni sebelumnya menjadi perhatian luas masyarakat setelah beredar video dan informasi mengenai aktivitas alat berat yang menyebabkan kerusakan pada fasilitas sekolah, termasuk pemotongan tiang dan rusaknya lantai sekolah. Peristiwa itu memicu kritik dari berbagai pihak dan mendorong dilakukannya evaluasi terhadap rencana pembangunan gedung KDMP di Desa Niowula.
Kunjungan Wapres Gibran ke lokasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat untuk memastikan persoalan yang terjadi mendapat penanganan yang tepat serta tidak mengganggu hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Kepala Desa Niowula, Finsensius Papa yang hendak dikonfirmasi lebih lanjut disela-sela kunjungan tersebut enggan memberi komentar. (Bet)