Jakarta (ANTARA) - Kepala (Ka) Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Muhammad Qodari memaparkan hasil riset dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menunjukkan sejumlah manfaat makan bergizi gratis, salah satunya asupan nutrisi anak-anak sekolah yang membaik setelah mereka menerima MBG.

Qodari menyebutkan selama beberapa waktu, sebagaimana hasil riset Bappenas itu, tingkat konsumsi buah-buahan -- yang mengandung berbagai jenis vitamin dan serat -- anak-anak sekolah meningkat terutama setelah mereka menjadi penerima manfaat makan bergizi gratis (MBG).

"Kalau kita bicara Vitamin C, bicara buah bagus untuk pencernaan, ternyata anak-anak kita dulu itu sedikit sekali yang makan buah. Mayoritas nggak makan buah, sekarang sudah naik 58 persen dari 26 persen ke 84 persen," kata Qodari kepada wartawan di Jakarta, Kamis.

Qodari melanjutkan perbaikan asupan gizi juga terlihat dari konsumsi protein anak-anak sekolah para penerima MBG. Dari hasil riset yang sama, konsumsi protein hewani anak-anak sekolah naik dari 65 persen menjadi 90 persen.

"Ini kan bagus. Kita ingin sepak bola Indonesia maju kan, badannya gede, tinggi kaya pemain Jepang kan, badannya sudah gede, tinggi, otaknya cerdas, gizinya bagus. Jangan lagi kita dibilang bangsa yang IQ-nya kurang. Itu dari mana? Dari protein," ujar Qodari.

Kemudian, Qodari juga menyampaikan berkat makan bergizi gratis, banyak anak-anak sekolah saat ini yang tidak lagi kelaparan saat menerima pelajaran di sekolah. Sebelum adanya MBG, Qodari menjelaskan, banyak anak-anak yang kelaparan saat belajar di sekolah. Kondisi itu, Qodari meyakini, dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa.

"Jadi ternyata, sebelum ada MBG, banyak siswa kita itu yang lapar saat sekolah. Jumlah yang lapar pada waktu itu, lagi sekolah nih lapar dia, dengerin guru (dalam kondisi, red.) lapar, (sebanyak) 56 persen," kata Qodari menyampaikan hasil riset dari Bappenas.

Namun, setelah adanya MBG, jumlah siswa yang kelaparan itu turun. "Besar itu penurunannya," kata Qodari.

Sementara itu, jumlah siswa yang dalam kondisi kenyang saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah meningkat setelah adanya MBG, yaitu dari 43 persen menjadi 84 persen. "Ini manfaat yang orang belum tahu," kata dia.

Kemudian, tidak hanya bermanfaat kepada anak-anak sekolah, Qodari melanjutkan makan bergizi gratis juga berdampak positif kepada para pelaku UMKM yang menjadi pemasok bahan baku MBG. Qodari menyebut sebanyak 86 persen pemasok program MBG melaporkan omzet mereka naik setelah adanya MBG.

Qodari kemudian menjelaskan mayoritas pemasok bahan baku MBG itu UMKM lokal, yang jumlahnya sebanyak 62 persen, diikuti oleh koperasi 18 persen, dan 14 persen UMKM tingkat provinsi.

"Jadi, sebetulnya banyak aspek positif dari MBG ini. Jangan lihat sisi negatifnya saja. Sisi negatifnya kita koreksi, sisi positifnya terus kita tingkatkan," ujar Qodari.