MoU AS-Iran Ditandatangani, Pelayaran Selat Hormuz akan Dibuka tapi Ranjau Laut Masih Jadi Ancaman
Ramadhan Aji Prakoso June 19, 2026 12:11 AM

- Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz belum sepenuhnya menjamin jalur pelayaran internasional aman dilalui kapal kargo maupun tanker minyak dunia.

Meski blokade mulai dilonggarkan pasca tercapainya nota kesepahaman (MoU) damai antara Washington dan Teheran pada Kamis (18/6/2026).

Namun ancaman ranjau laut disebut masih menjadi resiko besar yang membayangi aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

Laporan The Times of Israel menyebut proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu panjang, bahkan dapat berlangsung antara 40 hingga 50 hari sebelum jalur pelayaran benar-benar dinilai aman oleh perusahaan asuransi, operator kapal, maupun perusahaan energi global.

Kondisi ini membuat arus perdagangan minyak dunia masih berada dalam situasi tidak menentu meski kesepakatan damai sementara telah diumumkan.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global melintas melalui kawasan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman tersebut.

Karena itu, gangguan sekecil apa pun di kawasan ini langsung berdampak pada rantai pasok energi internasional dan harga minyak dunia.

Proses Pembersihan Ranjau Diperkirakan Berlangsung Lama

Menurut penilaian sejumlah pejabat keamanan maritim, operasi penyisiran ranjau tidak dapat dilakukan secara cepat karena melibatkan teknologi kompleks, termasuk penggunaan kapal penyapu ranjau dan drone bawah laut canggih.

Selain memastikan lokasi ranjau, proses tersebut juga harus menjamin bahwa jalur pelayaran benar-benar steril sebelum kapal-kapal komersial kembali beroperasi secara normal.

Jakob Larsen, Kepala Keselamatan dan Keamanan asosiasi pelayaran internasional BIMCO, mengatakan bahwa risiko bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz saat ini masih sangat tinggi.

Ia menegaskan bahwa ancaman ranjau laut tetap menjadi perhatian utama meski Amerika Serikat dan Iran telah mengumumkan kesepakatan awal penghentian konflik.

“Kami masih menganggap sangat berisiko bagi kapal untuk mulai melintas saat ini. Jalur bebas ranjau harus benar-benar dipastikan terlebih dahulu,” ujarnya.

Kekhawatiran ini tidak hanya menyangkut keselamatan awak kapal, tetapi juga nilai ekonomi yang sangat besar dari kapal tanker dan muatan minyak yang diangkut.

Satu kapal tanker super beserta muatan minyak mentahnya diperkirakan memiliki nilai mencapai 300 juta dolar AS. Karena itu, perusahaan asuransi perang dan operator pelayaran disebut tidak akan mengambil risiko sebelum ada jaminan keamanan penuh di kawasan tersebut. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.