Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Setelah empat hari digulung ombak, misteri hilangnya salah satu korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Arof di perairan Muara Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, akhirnya terjawab. Tim SAR Gabungan berhasil menemukan jasad salah satu anak buah kapal (ABK) dalam kondisi meninggal dunia.
Baca juga: Pencarian Nahkoda KM Arof yang Hilang di Perairan Lampung Timur Terkendala Cuaca Buruk
Korban teridentifikasi bernama Suarna (45), seorang ABK asal Cirebon, Jawa Barat. Jasadnya ditemukan terdampar kaku di bibir Pantai Way Kambas pada Rabu (17/6/2026) pagi. Sementara itu, sang nahkoda kapal bernama Tarno (50) hingga kini nasibnya masih kelabu dan belum ditemukan.
Komandan Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, menjelaskan bahwa jasad Suarna pertama kali diendus oleh nelayan setempat sekitar pukul 09.00 WIB. Posisinya berada di koordinat 4°58'25.38" LS dan 105°55'40.98" BT, atau berjarak sekitar lima mil laut dari lokasi awal petaka tenggelamnya kapal.
“Penemuan berawal dari laporan nelayan yang melihat jasad terdampar di pesisir. Setelah dilakukan verifikasi di lapangan, korban dipastikan merupakan salah satu ABK KM Arof dan langsung dievakuasi ke Puskesmas Labuhan Maringgai,” ungkap Rezie.
Pencarian korban KM Arof ini sejatinya bukan perkara mudah. Sejak operasi kemanusiaan ini digelorakan, Tim SAR Gabungan setidaknya telah mengubek-ubek area pencarian hingga radius 50 mil laut menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 serta bantuan armada perahu nelayan tradisional.
Bahkan pada hari ketiga, radius penyisiran sempat diperlebar hingga menggapai 55 mil laut dengan menyertakan koordinasi ketat bersama Vessel Traffic Service (VTS) Panjang dan VTS Merak. Namun, keganasan alam di perairan Lampung Timur menjadi batu sandungan utama petugas di lapangan.
“Upaya pencarian sempat terkendala cuaca buruk berupa amukan angin kencang dan gelombang tinggi di wilayah perairan setempat,” tutur Rezie. Akibat kondisi yang tak bersahabat itu, tim terpaksa menghentikan sementara pergerakan di laut setiap pukul 17.00 WIB dan mengalihkannya ke pemantauan darat di Pos Polairud Lampung Timur.
Operasi besar ini turut menguras energi banyak pihak, mulai dari Pos SAR Bakauheni, Polairud Polda Lampung, TNI AL Labuhan Maringgai, Bakamla, BPBD, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), hingga pihak keluarga korban.
Pencarian untuk memburu keberadaan nahkoda Tarno dipastikan kembali digenjot pada Kamis (18/6/2026) mulai pukul 07.00 WIB. Petugas berharap faktor cuaca bisa melunak agar seluruh korban bisa segera dievakuasi ke daratan.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)