Ahli Gizi UNISA Ungkap Manfaat Bekatul Jagung: Tinggi Serat, Cocok untuk Diet, Bernilai Ekonomi
Endra Kurniawan June 19, 2026 03:34 AM

TRIBUNNEWS.COM – Selama ini bekatul jagung kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan hanya dianggap layak sebagai pakan ternak.

Padahal, limbah penggilingan jagung ini menyimpan kandungan gizi yang jauh lebih berharga dari yang selama ini dibayangkan.

Ahli gizi dari Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Faurina Risca Fauzia, S.Gz., M.P.H., menegaskan bahwa sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang terhadap bekatul jagung.

"Bekatul jagung bukan limbah biasa. Ini adalah lapisan kulit ari biji jagung yang justru menyimpan zat gizi mikro paling banyak, yang ironisnya paling sering hilang saat proses penggilingan," ujar Faurina kepada Tribunnews.com, Kamis (18/6/2026).

Menurut Faurina, keunggulan utama bekatul jagung terletak pada kandungan serat pangan tidak larut air (insoluble dietary fiber) yang sangat tinggi.

Selain itu, bekatul jagung juga mengandung protein sekitar 7–10 persen, dengan protein utama yang disebut zein.

"Yang banyak orang tidak tahu, bekatul jagung juga kaya senyawa fenolik, terutama asam ferulat, yang bekerja sebagai antioksidan kuat. Ia aktif menangkal radikal bebas pemicu penuaan dini dan penyakit jantung," jelasnya.

Baca juga: Mau Makan Gorengan Tapi Takut Tak Sehat? Yuk Kenali Minyak Masak dari Bekatul, Apa Manfaatnya?

Sahabat Diabetesi dan Pelaku Diet

UMKM SOLO - Infografis bekatul jagung memiliki kandungan gizi yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional untuk mendukung kesehatan masyarakat.
UMKM SOLO - Infografis bekatul jagung memiliki kandungan gizi yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional untuk mendukung kesehatan masyarakat. (Tribunnews.com/Dibuat menggunakan AI)

Faurina secara khusus merekomendasikan bekatul jagung bagi penderita diabetes melitus (DM) dan mereka yang tengah menjalani program penurunan berat badan.

"Bagi penderita diabetes, serat tinggi dalam bekatul jagung bekerja seperti benteng di usus. Ia memperlambat penyerapan gula sehingga indeks glikemik makanan menjadi lebih rendah dan mencegah lonjakan gula darah yang drastis setelah makan," papar dia.

Bagi pelaku diet, mekanisme kerjanya tak kalah menguntungkan.

Serat bekatul jagung akan menyerap air di dalam lambung dan mengembang, menciptakan rasa kenyang yang tahan lama sekaligus menekan keinginan untuk ngemil.

"Kalorinya sangat rendah karena serat memang tidak bisa dicerna oleh tubuh. Ini menjadikannya senjata ampuh untuk defisit kalori tanpa harus kelaparan. Tapi ingat, imbangi selalu dengan minum air putih yang cukup," tambah Faurina.

Wajib Distabilkan Sebelum Dikonsumsi

Faurina mengingatkan, bekatul jagung tidak bisa langsung dikonsumsi begitu saja. Tantangan utamanya adalah kandungan enzim lipase yang tinggi, yang membuat bekatul sangat mudah tengik dalam hitungan hari jika tidak segera diolah.

"Prinsip utamanya adalah stabilisasi — menghentikan aktivitas enzim perusak tanpa merusak komponen gizi di dalamnya. Ada dua metode praktis yang bisa dilakukan di rumah, metode sangrai kering pada suhu 100–120 derajat Celsius selama 10–15 menit, atau metode pengukusan selama 15–20 menit," terangnya.

Setelah distabilkan, bekatul jagung perlu dihaluskan menggunakan food processor dan disaring dengan saringan 60–80 mesh agar teksturnya menyerupai tepung dan nyaman dikonsumsi.

Untuk penyimpanan, Faurina menyarankan agar tepung bekatul jagung disimpan dalam wadah kedap udara berbahan kaca atau plastik food grade, jauh dari cahaya dan panas langsung.

Penyimpanan di freezer dianjurkan untuk menjaga kandungan antioksidannya dalam jangka panjang.

Satu hal yang perlu diluruskan, kata Faurina, adalah anggapan bahwa bekatul jagung bisa menggantikan gluten dalam adonan.

"Jagung secara alami bebas gluten. Jadi ketika kita mencampurkan bekatul jagung ke dalam olahan pangan, tujuannya bukan untuk menyumbang sifat kenyal ala gluten, melainkan murni untuk menambah atau mensubstitusi nilai gizinya," tegasnya.

Baca juga: Qatula Angkat Derajat Bekatul Jagung, Sulap Pakan Ternak Jadi Brownies Sehat Kekinian

Peluang Ekonomi UMKM

UMKM SOLO - Qatula sudah memiliki sejumlah varian produk mulai dari crispy brownies, crispy cookies (rasa original, keju, dan tanpa gula), kue kering (putri salju, kastengel, nastar, dan kacang almond), hingga produk terbaru cake basah free gluten.
UMKM SOLO - Qatula sudah memiliki sejumlah varian produk mulai dari crispy brownies, crispy cookies (rasa original, keju, dan tanpa gula), kue kering (putri salju, kastengel, nastar, dan kacang almond), hingga produk terbaru cake basah free gluten. (Tribunnews.com)

Di balik manfaat kesehatannya, Faurina melihat potensi ekonomi besar yang belum digarap maksimal. Indonesia sebagai salah satu produsen jagung terbesar dunia memiliki bahan baku bekatul yang melimpah dan murah.

"Jika dijual mentah sebagai pakan ternak, harganya sangat rendah. Tapi begitu diolah secara higienis menjadi tepung bekatul jagung kaya serat, nilainya bisa melonjak 5 hingga 10 kali lipat di pasar pangan sehat. Ini peluang emas bagi UMKM kuliner kita," ujar Faurina.

Ia mencontohkan produk-produk kreatif bernilai jual tinggi yang bisa lahir dari bekatul jagung, seperti cookies diet rendah glikemik, muffin tinggi serat, hingga mi jagung sehat.

"Kita bisa mulai dari hal sederhana dulu, misalnya mencampurkan satu hingga dua sendok makan tepung bekatul jagung ke dalam masakan nasi sehari-hari. Itu saja sudah mengubah nasi putih biasa menjadi nasi kaya serat dengan indeks glikemik yang lebih rendah," pungkas Faurina.

(Tribunnews.com/Endra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.