Bakom RI Bongkar Fakta Sebelum Ada Program MBG: Dulu 56 Persen Siswa Kelaparan saat Dengerin Guru
jonisetiawan June 19, 2026 03:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu kebijakan pemerintah yang paling banyak diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir.

Di tengah berbagai kritik, evaluasi, hingga sorotan terhadap tata kelola program tersebut, pemerintah menyampaikan sejumlah temuan yang diklaim menunjukkan dampak positif MBG terhadap kondisi peserta didik di Indonesia.

Salah satu temuan yang disorot adalah berkurangnya jumlah siswa yang harus mengikuti pelajaran dalam kondisi lapar.

Kondisi ini dinilai penting karena rasa lapar saat berada di ruang kelas berpotensi mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan daya tangkap materi, hingga memengaruhi kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M Qodari, mengungkapkan hasil riset yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) terkait dampak pelaksanaan program MBG.

Menurutnya, data tersebut menunjukkan perubahan signifikan setelah program dijalankan.

Baca juga: KPK Setop Selidiki Korupsi MBG, Nasib Dadan Hindayana Cs Kini Sepenuhnya di Tangan Kejagung

"Sudah ada riset dari Bappenas, saya baca laporannya bulan November (2025). Jadi ternyata, sebelum ada MBG, banyak siswa kita itu yang lapar loh pada saat sekolah. Jumlah yang lapar pada waktu itu, lagi sekolah nih, lapar dia, dengerin guru lapar, 56 persen," ujar Qodari dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).

Data tersebut menggambarkan bahwa sebelum program MBG diterapkan, lebih dari separuh siswa masih harus menjalani aktivitas belajar dalam kondisi perut kosong.

Situasi itu menjadi salah satu persoalan mendasar yang selama ini luput dari perhatian publik, padahal memiliki pengaruh besar terhadap proses pembelajaran di sekolah.

Angka Kelaparan Turun Tajam

Qodari menjelaskan bahwa setelah program MBG berjalan, jumlah siswa yang mengaku mengalami kelaparan saat berada di sekolah mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Jika sebelumnya angka siswa yang lapar mencapai 56 persen, setelah pelaksanaan MBG persentasenya turun drastis menjadi hanya 16 persen.

"Besar itu penurunannya," ucapnya.

Penurunan tersebut disebut sebagai salah satu indikator bahwa program MBG tidak hanya berfungsi sebagai bantuan makanan semata, melainkan juga menjadi instrumen untuk meningkatkan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran selama jam sekolah berlangsung.

POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Menu MBG.
POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Menu MBG. Bakom RI memaparkan hasil riset Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang menyebut program MBG menurunkan jumlah siswa yang lapar saat belajar di sekolah. (Instagram @badangizinasional.ri)

Siswa Kenyang Saat Belajar Meningkat Hampir Dua Kali Lipat

Selain menurunkan angka kelaparan, pemerintah juga menyoroti peningkatan jumlah siswa yang mengikuti kegiatan belajar dalam kondisi kenyang.

Menurut data yang dipaparkan Qodari, sebelum MBG diterapkan hanya sekitar 43 persen siswa yang merasa kenyang ketika mengikuti proses pembelajaran. Namun setelah program berjalan, angka tersebut melonjak menjadi 84 persen.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak siswa yang dapat mengikuti pelajaran dengan kondisi fisik yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Ini manfaat yang orang belum tahu," kata Qodari.

Peningkatan kondisi kenyang saat belajar dinilai penting karena berkaitan langsung dengan kemampuan siswa untuk berkonsentrasi, berpartisipasi dalam kegiatan belajar, dan menyerap materi pelajaran secara optimal.

Baca juga: Anggaran MBG Ditata Ulang, Bakom RI Klaim APBN Kini Bisa Bernapas Lega: Hemat Rp12 Triliun Setahun

Konsumsi Buah Melonjak Drastis

Tak hanya berdampak pada tingkat kenyang siswa, hasil riset juga menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi pangan yang lebih sehat di kalangan peserta didik.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah meningkatnya konsumsi buah-buahan. Sebelum MBG dijalankan, hanya sekitar 26 persen siswa yang mengonsumsi buah. Setelah program berlangsung, angkanya melonjak menjadi 84 persen.

Menurut Qodari, peningkatan ini menjadi salah satu capaian penting karena buah merupakan sumber vitamin dan serat yang berperan besar dalam menjaga kesehatan anak.

"Kalau kita bicara vitamin C, bicara buah bagus untuk pencernaan, ternyata anak-anak kita dulu itu sedikit sekali yang makan buah. Mayoritas nggak makan buah. Sekarang sudah naik 58 persen, dari 26 persen ke 84 persen," jelas Qodari.

Lonjakan konsumsi buah tersebut menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kalori, tetapi juga mendorong perbaikan kualitas asupan gizi peserta didik.

Protein Hewani Naik, Harapan Generasi Lebih Sehat

Perubahan positif lainnya terlihat pada konsumsi protein hewani. Berdasarkan data yang dipaparkan, konsumsi protein hewani siswa meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah adanya program MBG.

Peningkatan ini dianggap penting karena protein hewani memiliki peran besar dalam pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

"Nah ini kan bagus. Kita ingin sepak bola Indonesia maju kan, badannya gede, tinggi. Kayak pemain Jepang kan, badannya sudah gede, tinggi. Otaknya cerdas, gizinya bagus. Jangan lagi kita dibilang bangsa yang IQ-nya kurang kan. Itu dari mana? Dari protein," tegasnya.

Menurut pemerintah, pemenuhan kebutuhan protein sejak usia sekolah menjadi salah satu investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi masa depan Indonesia.

Baca juga: Ketua KPK Temui Kepala BGN Nanik Deyang di Tengah Sengkarut Program MBG, Ungkap Isi Obrolan 4 Mata

UMKM dan Koperasi Ikut Merasakan Dampak Ekonomi

Selain aspek pendidikan dan kesehatan, pemerintah juga mengklaim program MBG memberikan dampak ekonomi yang cukup luas bagi masyarakat.

Qodari menyebut sebanyak 86 persen pemasok yang terlibat dalam program MBG mengaku mengalami peningkatan omzet usaha sejak bergabung dalam rantai pasok program tersebut.

Ia menjelaskan bahwa mayoritas pemasok berasal dari pelaku usaha lokal. Sebanyak 62 persen pemasok merupakan UMKM lokal, 18 persen berasal dari koperasi, sedangkan hanya 14 persen yang berasal dari pemasok tingkat provinsi.

Komposisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa perputaran ekonomi yang dihasilkan oleh program MBG banyak dinikmati oleh pelaku usaha di tingkat daerah dan komunitas lokal.

Mayoritas Sekolah Menilai Pelaksanaan MBG Berjalan Baik

Dari sisi implementasi di lapangan, pemerintah juga mengungkapkan bahwa sebagian besar sekolah memberikan penilaian positif terhadap pelaksanaan program MBG.

Berdasarkan hasil evaluasi yang dipaparkan, sebanyak 93 persen sekolah menyatakan program berjalan dengan baik. Sementara itu, menu utama yang terdiri dari nasi, protein seperti ayam atau telur, serta sayuran disebut telah terpenuhi di 96 persen sekolah penerima program.

Data tersebut digunakan pemerintah untuk menunjukkan bahwa meskipun masih terdapat berbagai kekurangan yang perlu dibenahi, pelaksanaan MBG secara umum telah berjalan sesuai tujuan yang ditetapkan.

Menutup pemaparannya, Qodari mengajak publik untuk melihat program MBG secara lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai dampak positif yang telah muncul di lapangan.

"Jadi sebetulnya banyak aspek positif dari MBG ini. Jangan lihat sisi negatifnya saja. Sisi negatifnya kita koreksi, sisi positifnya terus kita tingkatkan," imbuh Qodari.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.