SURYA.co.id, SURABAYA – Cuaca di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat, 19 Juni 2026, diperkirakan didominasi kondisi cerah sepanjang hari.
Berdasarkan data prakiraan cuaca yang tersedia, tidak terdapat potensi hujan mulai dini hari hingga malam hari.
Kondisi ini menjadi kabar baik bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan, baik untuk bekerja, bersekolah, maupun berwisata.
Suhu udara diperkirakan berkisar antara 24 hingga 32 derajat Celsius.
Sementara itu, tingkat kelembapan udara berada pada rentang 50 hingga 89 persen.
Angin bertiup dari arah selatan dengan kecepatan sekitar 15,8 kilometer per jam.
Cuaca cerah yang berlangsung sepanjang hari juga berpotensi meningkatkan intensitas panas terutama pada siang hingga sore hari.
Masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi tubuh dan menjaga asupan cairan selama beraktivitas.
Meski tidak ada indikasi hujan, warga tetap disarankan memantau pembaruan cuaca dari instansi terkait untuk mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Memasuki dini hari hingga pagi, cuaca Surabaya diperkirakan cerah. Kondisi cerah berlangsung sejak pukul 00.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB.
Suhu udara pada pagi hari masih terasa relatif sejuk dengan kisaran sekitar 24 derajat Celsius.
Tingkat kelembapan udara yang cukup tinggi pada awal hari dapat membuat udara terasa sedikit lembap, terutama di kawasan padat permukiman.
Cuaca yang stabil ini mendukung aktivitas olahraga pagi, perjalanan menuju tempat kerja, maupun kegiatan sekolah tanpa gangguan cuaca.
Menjelang siang hingga sore hari, kondisi cerah diperkirakan tetap bertahan. Matahari akan bersinar cukup dominan mulai pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Pada periode ini, suhu udara berpotensi mencapai puncaknya di kisaran 32 derajat Celsius.
Paparan sinar matahari yang cukup kuat dapat membuat suhu terasa lebih panas, terutama di area perkotaan yang minim ruang terbuka hijau.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, atau tabir surya untuk mengurangi risiko paparan panas berlebih.
Saat malam hari, cuaca Surabaya diperkirakan tetap cerah. Kondisi ini terlihat pada prakiraan pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Langit yang relatif bersih dari awan berpotensi menciptakan suasana malam yang nyaman untuk berbagai aktivitas masyarakat.
Tidak terdapat indikasi hujan maupun cuaca ekstrem yang dapat mengganggu mobilitas warga pada malam hari.
Meski demikian, suhu udara akan mulai menurun dibandingkan siang hari sehingga terasa lebih nyaman untuk beristirahat maupun melakukan aktivitas luar ruangan.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat saat cuaca cerah mendominasi:
Dominasi cuaca cerah sepanjang hari menunjukkan karakteristik atmosfer yang relatif stabil di wilayah Surabaya.
Kondisi ini lazim terjadi ketika pengaruh musim kemarau semakin menguat di sebagian besar wilayah Jawa Timur.
Tidak adanya potensi hujan dalam prakiraan harian mengindikasikan minimnya pembentukan awan hujan yang signifikan.
Di sisi lain, suhu maksimum yang mencapai 32 derajat Celsius menunjukkan bahwa intensitas pemanasan matahari masih cukup tinggi pada siang hari.
Bagi sektor transportasi, perdagangan, dan pariwisata, cuaca cerah menjadi faktor pendukung kelancaran aktivitas.
Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai dampak suhu panas terhadap kesehatan, terutama risiko dehidrasi dan kelelahan akibat paparan sinar matahari dalam waktu lama.
Dengan cuaca yang diperkirakan cerah dari pagi hingga malam, Jumat 19 Juni 2026 berpotensi menjadi hari yang kondusif bagi berbagai aktivitas masyarakat di Kota Surabaya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya jawa Timur mulai menggodok konsep drainase berkelanjutan sustainable drainage systems/SuDS guna mengantisipasi ancaman banjir dan lonjakan suhu ekstrem akibat perubahan iklim.
Langkah strategis ini diawali melalui penyusunan peta jalan (road map) kota berkelanjutan.
Dalam merumuskan cetak biru tersebut, Pemkot Surabaya berkolaborasi dengan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Kristen (UK) Petra menggelar workshop bertajuk “Blue-Green Infrastructure (BGI) in Surabaya” di Auditorium Kebun Raya Mangrove, Surabaya, Kamis (18/6/2026).
Konsep BGI sendiri merupakan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan pengelolaan air (blue) dan ruang hijau (green) sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions).
Penerapannya di lapangan dapat berupa taman air, atap hijau, sengkedan, hingga sistem drainase berkelanjutan.
Dekan FTSP UK Petra, Rully Damayanti mengungkapkan Surabaya saat ini menghadapi Tantangan serius terkait minimnya lahan terbuka kota.
Kondisi tersebut membuat Kota Pahlawan rentan terhadap bencana ekologis akibat perubahan iklim.
"Workshop ini memperkenalkan konsep BGI yang relatif masih baru di Surabaya, sekaligus memulai penyusunan peta jalan penerapannya demi mewujudkan kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan," ujar Rully.
Dipilihnya Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir ini dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi proyek percontohan penerapan konsep infrastruktur hijau-biru di Surabaya.
Untuk mematangkan konsep, UK Petra menerjunkan enam dosen lintas jurusan guna mendampingi sekitar 30 peserta workshop.
Para peserta merupakan perwakilan lintas sektor dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya, mulai dari bidang tata ruang, hidrologi, hingga mitigasi kota, serta kalangan akademisi dan organisasi masyarakat sipil.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, S.Farm., Apt., ini diharapkan menjadi momentum penguat kolaborasi antara birokrasi dan akademisi.
Rully menegaskan, keterlibatan aktif ini merupakan komitmen nyata perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.
"Melalui kolaborasi dengan Pemkot Surabaya, kami berharap penyusunan peta jalan ini menjadi langkah awal yang penting untuk mengembangkan Surabaya sebagai kota yang tangguh, berkelanjutan, dan ramah lingkungan," pungkasnya.
Agenda ini menghadirkan narasumber utama Prof. Robby Soetanto, pakar dari Loughborough University, Inggris Raya.
Alumni Teknik Sipil UK Petra yang sebelumnya sukses mendampingi Pemkot Bandung dan Semarang dalam menyusun peta jalan serupa ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tiga aspek utama perkotaan.
“Pembangunan kota perlu memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pendekatan berbasis alam menjadi semakin penting untuk memastikan kota tetap layak huni di masa depan,” kata Prof. Robby.