Sosok Jambret yang Tewaskan ASN Wanita Surabaya Akhirnya Tertangkap, Terbongkar Jejak Kriminalnya
Putra Dewangga Candra Seta June 19, 2026 06:32 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Tim Jatanras Polrestabes Surabaya akhirnya berhasil meringkus komplotan jambret sadis yang menyebabkan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Surabaya meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Pelaku utama yang bertindak sebagai eksekutor terpaksa dihadiahi timah panas oleh petugas karena mencoba melawan saat penangkapan.

Berdasarkan video yang diunggah di instagram Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, pelaku tampak terkulai lemas di atas kasur perawatan dengan kaki kiri dibalut perban putih akibat tindakan tegas terukur dari pihak kepolisian.

Aksi terakhir pelaku yang menewaskan korban terjadi di kawasan Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, Jawa Timur.

Berdasarkan hasil analisis rekaman CCTV dari tiga Polsek terdekat, petugas berhasil mengidentifikasi pergerakan pelaku sebelum dan sesudah melancarkan aksinya.

Penyidik yang menangani kasus ini menjelaskan bahwa pelaku selalu mengincar korban yang lengah dari sisi kiri jalan.

"Kalau dari CCTV, tas korban berada di sebelah kiri. Berarti dia (pelaku) mengambil dari sisi kiri jalan, merampas (tas), lalu langsung beralih ke kanan. Korban langsung oleng dan jatuh, bahkan helmnya sampai kebanting," ujar salah satu penyidik di lokasi.

Jejak Kriminalitas: Beraksi di 7 TKP dan Terlibat Narkoba

KORBAN KEJAHATAN - Staf Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, Widya Riskyanti (28), meninggal dunia di RSUD dr Soetomo Surabaya pada Jumat (5/6/2026) sore. Widya meninggal dunia setelah koma selama empat hari akibat terjatuh dari sepeda motor setelah dijambret di Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur.
KORBAN KEJAHATAN - Staf Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, Widya Riskyanti (28), meninggal dunia di RSUD dr Soetomo Surabaya pada Jumat (5/6/2026) sore. Widya meninggal dunia setelah koma selama empat hari akibat terjatuh dari sepeda motor setelah dijambret di Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur. (Montase SURYA.co.id)

Penyelidikan mendalam mengungkap bahwa pemuda berusia 22 tahun ini merupakan penjahat kambuhan (residivis) yang sudah keluar masuk penjara sebanyak dua kali.

Tidak sendirian, dalam beberapa aksinya, pelaku bahkan kedapatan mengajak istrinya untuk ikut serta.

Berikut adalah rekam jejak kriminalitas pelaku:

  • Total Tempat Kejadian Perkara (TKP): Pelaku tercatat telah beraksi di 7 lokasi berbeda, dengan rincian 6 kasus penjambretan dan 1 kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor).
  • Wilayah Operasi: Pelaku kerap beroperasi di kawasan Genteng, Bubutan, Pasar Loak, Jalan Cepu, Gubeng, JNT Osowilangun, Kali Butuh, hingga Gundih PGS.
  • Penyalahgunaan Narkotika: Saat penangkapan, polisi juga mengamankan barang bukti berupa narkotika jenis sabu yang diduga dikonsumsi pelaku bersama istrinya.

Baca juga: Pelaku Jambret Maut yang Tewaskan ASN Wanita Surabaya Belum Tertangkap, Ini Reaksi Keluarga Korban

Teguran Keras Petugas di Ruang Interogasi

Saat berada di ruang pemeriksaan, pelaku sempat mengeluh kedinginan akibat luka tembak yang diterimanya.

Namun, hal itu langsung mendapat teguran keras dari Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie, mengingat kekejaman pelaku yang telah merenggut nyawa orang lain.

"Kenapa? Dingin?! Itulah yang dirasakan korban saat itu," tegas Kombes Luthfie di depan pelaku, dikutip SURYA.co.id dari video instagram.

"Kamu ngerti enggak korbanmu kemarin yang terakhir? Gimana kondisinya? Mati! Enggak ada gunanya kamu hidup kalau begini," lanjutnya dengan nada geram.

Pelaku yang hanya bisa berbaring pun sempat melontarkan kata maaf atas perbuatannya.

"Saya salah, Pak," ucap pelaku lirih.

Petugas memastikan bahwa proses hukum akan berjalan dengan sangat tegas.

Setelah mendapatkan perawatan medis yang cukup atas luka tembaknya, pelaku beserta barang bukti dan anggota komplotan lainnya (termasuk joki motor) akan menjalani pemeriksaan intensif guna mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di pengadilan.

Pelaku terancam dijerat pasal berlapis terkait pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian, serta undang-undang narkotika.

ASN Wanita Surabaya Korban Jambret Maut

DIDUGA KORBAN KEJAHATAN - Petugas BPBD dan Tim Medis Pemerintah Kota Surabaya memberikan penanganan medis terhadap Korban W di Jalan Kusuma Bangsa, atau tepat belakang gedung Mal Grand City, pada Selasa (2/6/2026) sore. Korban diduga menjadi sasaran penjambretan yang dilakukan bandit bermotor.
DIDUGA KORBAN KEJAHATAN - Petugas BPBD dan Tim Medis Pemerintah Kota Surabaya memberikan penanganan medis terhadap Korban W di Jalan Kusuma Bangsa, atau tepat belakang gedung Mal Grand City, pada Selasa (2/6/2026) sore. Korban diduga menjadi sasaran penjambretan yang dilakukan bandit bermotor. (istimewa)

Sebelumnya, Widya Riskyanti (28), staf Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari akibat menjadi korban penjambretan di Jalan Kusuma Bangsa, Genteng, Kota Surabaya pada Selasa (2/6/2026).

Kepergian Widya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.

Di mata sang ibunda, Isnaini Budiarti (53), Widya merupakan sosok anak yang pendiam dan sangat berbakti.

Sepulang bekerja, almarhumah lebih memilih menghabiskan waktu di rumah bersama kedua adiknya.

Sejak ayahnya meninggal dunia setahun lalu, Widya memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga.

 Ia bekerja gigih untuk membiayai kebutuhan sang ibu serta pendidikan kedua adiknya.

Kakak sulung korban, Irma Muslika (33), mengungkapkan bahwa Widya bahkan rela menunda rencana pernikahan demi memastikan adik-adiknya menyelesaikan pendidikan sekolah.

"Dia bilang tidak mau menikah sebelum adik-adik selesai sekolah," ungkap Irma dengan nada haru saat ditemui SURYA.co.id di Rusunawa Indrapura, Sabtu (6/6/2026).

Sebelum musibah terjadi, tidak ada firasat buruk yang dirasakan keluarga.

Namun, Widya sempat meminta sang ibu memasakkan makanan kesukaannya berupa perkedel dan kotokan daging pada akhir pekan sebelum kejadian.

Peristiwa nahas yang menimpa Widya bermula saat ia melintas di belakang gedung Mal Grand City pada Selasa sore.

Korban ditemukan tergeletak di jalan dengan seragam Korpri, yang sempat diduga warga sebagai kecelakaan lalu lintas biasa, sebelum akhirnya terkonfirmasi sebagai tindak kejahatan.

Kanit Reskrim Polsek Genteng, Iptu Vian Wijaya, membenarkan bahwa korban meninggal dunia setelah berjuang melawan masa kritis di rumah sakit.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan terus berjalan.

"Mohon waktu, nanti akan kami sampaikan," ujar Iptu Vian terkait progres pengejaran pelaku yang hingga kini masih dalam pengejaran intensif oleh personel Polsek Genteng.

Kepergian Widya Riskyanti meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sekaligus pengingat akan pentingnya keamanan jalan raya bagi masyarakat Surabaya.

Keluarga Korban Ogah Damai

Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Widya Riskyanti (28), ASN Staf Kantor Pertanahan Kota Surabaya II yang meninggal dunia setelah menjadi korban penjambretan di Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Surabaya.

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, keluarga tidak hanya berharap pelaku segera ditangkap, tetapi juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang dinilai masih berpotensi membahayakan masyarakat.

Bagi keluarga, tragedi yang menimpa Widya menjadi pengingat bahwa aspek keamanan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga kondisi fasilitas publik yang digunakan warga setiap hari.

Minimnya penerangan dan kondisi jalan yang kurang memadai disebut perlu mendapat perhatian agar tidak menambah risiko bagi pengguna jalan, terutama pada malam hari.

Widya diketahui sempat menjalani perawatan intensif selama empat hari akibat luka berat di bagian kepala sebelum akhirnya meninggal dunia pada Jumat (5/6/2026).

Kasus ini kini masih dalam penanganan kepolisian, sementara keluarga terus menanti pelaku dapat segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Di tengah suasana duka, keluarga berharap tragedi serupa tidak kembali terjadi kepada warga lainnya.

Mereka juga meminta pemerintah memperhatikan titik-titik jalan yang dinilai rawan karena minim penerangan dan kondisi infrastruktur yang kurang baik.

Kakak sulung korban, Irma Muslika (33), menyampaikan harapannya agar pemerintah turut memperhatikan kondisi jalan yang dianggap berpotensi menimbulkan kerawanan.

Menurutnya, sejumlah ruas jalan masih minim lampu penerangan sehingga membuat pengguna jalan merasa tidak aman, terutama pada malam hari.

"Saya minta tolong, kalau di jalan gak ada lampu, tolong dikasih lampu. Jalan rusak juga, diperbaiki, di Jalan Gundih, itu gelap, rawan itu. Buat balapan kadang," terangnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah duka keluarga yang masih kehilangan sosok Widya.

Meski lokasi yang disebut keluarga bukan merupakan lokasi kejadian penjambretan, mereka berharap perhatian terhadap infrastruktur dapat menjadi langkah pencegahan agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban tindak kriminal maupun kecelakaan.

Selain menyoroti kondisi jalan, keluarga juga menegaskan tidak akan membuka ruang perdamaian bagi pelaku penjambretan yang menyebabkan meninggalnya Widya.

Irma berharap aparat kepolisian segera mengungkap kasus tersebut dan menangkap seluruh pihak yang terlibat.

"Ya, semoga cepat ketemu (ditangkap para pelaku), mendapat hukuman setimpal, enggak mau damai, nyawa harus bayar nyawa, kalau bisa seumur hidup," ujarnya.

Ia juga berharap tidak ada lagi masyarakat yang mengalami nasib serupa.

"Pihak polisi semoga bisa menangkap semua pelaku karena sudah menghilangkan nyawa. Jahat banget, ini sudah. Cukup, ke adik saja, jangan ke yang lainnya," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.