Jatim Terpopuler: Nasib Remaja Meninggal saat Melerai Suporter Bola Hingga Pendampingan KDMP
Torik Aqua June 19, 2026 08:14 AM

 

Di antaranya ada pelaku penganiayaan menyerahkan diri ke polisi.

Selanjutnya ada pendampingan untuk Koperasi Merah Putih.

Hingga pelajar tewas dibacok saat melerai.

Berikut selengkapnya:

Pelaku penganiayaan serahkan diri ke polisi

Agus (32), pelaku penganiayaan terhadap Samijo (50), warga Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur memutuskan menyerahkan diri kepada polisi. 

Sebelumnya, pelaku sempat bersembunyi di kawasan hutan untuk menghindari penangkapan usai insiden yang menyebabkan korban mengalami luka berat di bagian kepala.

Kasus tersebut bermula dari perkelahian yang terjadi di Jalan Dusun Tlogopule, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Peristiwa itu dipicu serempetan sepeda motor yang kemudian berkembang menjadi cekcok hingga aksi kekerasan.

Setelah melakukan penganiayaan, Agus melarikan diri dan bersembunyi di sebuah gubuk di kawasan hutan Desa Sambongrejo, Kecamatan Semanding. Namun, dua hari kemudian ia memilih mendatangi Polsek Semanding untuk menyerahkan diri.

Saat ini, penyidik Satreskrim Polres Tuban masih mendalami kasus tersebut. Sementara korban masih menjalani perawatan intensif akibat luka berat yang dideritanya.

Kasi Humas Polres Tuban Iptu Siswanto mengatakan berdasarkan hasil penyidikan, kejadian bermula ketika Agus mengendarai sepeda motor Yamaha Mio GT berwarna biru dari arah utara ke selatan. 

Saat berusaha menghindari gundukan batu di jalan dengan mengambil jalur kanan, sepeda motornya bersenggolan dengan kendaraan yang dikendarai Samijo.

"Kejadian berawal dari serempetan kemudian saling cekcok," ujar Siswanto, Kamis (18/6/2026).

Baca juga: Kecelakaan Maut di Tuban Semalam, Dua Pelajar Tewas di Lokasi Usai Terlibat Laka dengan Truk Tronton

Adu Mulut Berujung Penganiayaan Menggunakan Batu

Setelah serempetan terjadi, Agus menegur korban dengan mengatakan, "Maksudmu piye leh lek (Tujuanmu apa?)". Korban kemudian menjawab dengan nada tinggi, "Dalan gone mbahmu toh piye (Jalan milik kakekmu atau gimana?)."

Menurut Siswanto, situasi semakin memanas ketika korban turun dari sepeda motor dan menendang kendaraan milik Agus hingga hampir terjatuh. Keduanya kemudian terlibat adu mulut.

"Saat cekcok korban berkata yang dianggap pelaku kurang mengenakan selain itu korban juga sempat menendang sepeda pelaku," imbuhnya.

Karena tersulut emosi, Agus menarik korban menjauh lalu memukulnya menggunakan batu seukuran telapak tangan sebanyak tiga kali. Setelah korban terjatuh, pelaku kembali mengambil batu yang lebih besar dan menghantam kepala bagian kanan korban sebelum meninggalkan lokasi.

"Pelaku sempat memukul sekitar empat kali menggunakan batu, sebelum meninggalkan lokasi kejadian," bebernya.

Bersembunyi di Hutan Sebelum Menyerahkan Diri

Usai kejadian, Agus melarikan diri dan bersembunyi di sebuah gubuk di kawasan hutan Desa Sambongrejo untuk menghindari kejaran petugas.

Namun, pada Selasa (16/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB, pelaku mendatangi Polsek Semanding dan menyerahkan diri.

"Karena merasa menyesal dan takut, akhirnya tersangka dengan kesadaran sendiri menyerahkan diri ke Polsek Semanding," ucapnya.

Selanjutnya, Agus diserahkan kepada Satreskrim Polres Tuban untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut.

Polisi Amankan Barang Bukti, Pelaku Terancam Lima Tahun Penjara

Dalam penanganan perkara ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain sebongkah batu besar, balok kayu, satu unit sepeda motor Yamaha Mio GT berwarna biru beserta STNK, serta kaus lengan pendek berwarna hitam.

Atas perbuatannya, Agus dijerat Pasal 466 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

"Pelaku terancam hukuman lima tahun penjara," pungkasnya.

Sementara itu, hingga Kamis (18/6/2026), Samijo masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Koesma Tuban akibat luka berat yang dideritanya pada bagian kepala.

Pendampingan untuk pengurus Koperasi Merah Putih

Pelaksanaan program Koperasi Merah Putih yang dinilai banyak pihak saat ini belum optimal menjadi sorotan DPRD Jatim.

Dewan pun meminta Pemprov Jatim untuk terus intensif melakukan pendampingan kepada pengurus. 

Baca juga: 69 PNS Pemkot Madiun Dilantik Plt Wali Kota Bagus Panuntun, BKPSDM Ajukan 25 Formasi Rekrutmen ASN

Terlebih, Pemerintah Daerah termasuk Pemprov Jatim menjadi bagian dari support system terhadap program pusat tersebut.

Hal ini penting, di samping pemerintah pusat juga diharapkan terus memperbaiki kekurangan program ini. 

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Erma Susanti, menjelaskan bahwa dari temuan di lapangan saat ini, tak jarang ia mendapati lokasi Koperasi Merah Putih jauh dari pemukiman.

Selain itu, pengurus nampaknya masih bingung terkait model usaha yang akan dijalankan. 

"Ini perlu ada pendampingan yang kuat. Kita selalu di komisi itu memanggil Dinas Koperasi provinsi Jawa Timur untuk melakukan secara intensif, pendampingan terhadap pengurus," kata Erma saat dikonfirmasi di Gedung DPRD Jatim, Rabu (17/6/2026). 

Erma mengingatkan, bahwa salah satu indikator keberhasilan koperasi adalah optimalnya pengurus sebagai SDM penting dalam tata kelola.

Koperasi tidak akan jalan jika pengurusnya tidak memiliki SDM yang mumpuni.

"Jadi itu yang saya pikir juga tugas dari provinsi ya," terangnya. 

Erma mewanti bahwa pendampingan dari Pemprov sangat diperlukan. Jika koperasi hanya dibebankan kepada manajer, Erma ragu bahwa koperasi ini akan optimal.

"Jadi pengurusnya itu juga harus punya, pertama ya pemahaman terkait dengan koperasi," tandas Erma. 

Selain pemahaman, tentu yang juga penting adalah skill.

"Pemerintah provinsi melalui dinas koperasi ini harus sangat intensif untuk melakukan pendampingan-pendampingan terhadap pengurus koperasi," tambah Erma. 

Pemerintah sejak awal menggaungkan bahwa program ini diharapkan bisa menggerakkan potensi ekonomi di desa.

Harapannya, koperasi ini tidak hanya retail, tapi juga aggregator terkait dengan produk-produk unggulan di desa. 

Menurut Erma, tentu koperasi ini harus dioptimalkan dalam mengungkit potensi di desa/kelurahan.

Remaja meninggal saat melerai

Perayaan ulang tahun sebuah klub sepak bola yang seharusnya dipenuhi euforia di Kota Surabaya berubah menjadi duka mendalam.

Aksi konvoi yang berpusat di kawasan Jalan Sumatera, Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, memakan korban jiwa.

Seorang remaja dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya akibat luka sabetan senjata tajam (sajam) yang parah.

Korban meninggal dunia atau korban pembacokan diketahui merupakan seorang pelajar kelas dua salah satu SMA swasta di Sepanjang, Sidoarjo, berinisial GAD (17) alias Aldo, warga Kecamatan Karang Pilang, Kota Surabaya.

Aldo atau pelajar meninggal dunia di IGD RS Ubaya, Panjang Jiwo, pada Kamis (18/6/2026) dini hari.

Sementara itu, rekan korban berinisial BO alias Bobby, yang juga menjadi sasaran amukan senjata tajam, saat ini masih berjuang menjalani perawatan intensif akibat luka robek serius di bagian punggung sebelah kiri di RSI Jemursari Surabaya.

Baca juga: Cegah Konvoi di SLG Kediri, Polisi Hukum Pengendara yang Tak Memiliki Kelengkapan

Kakak kandung kedua korban, Sonya Cantika Dandel, mengungkapkan bahwa adiknya malam itu pergi menyaksikan konvoi suporter bersama kakak ketiganya, DN, dan sang teman, BO. Di tengah riuh dan padatnya lautan massa konvoi yang berlangsung sejak Rabu (17/6/2026) malam, sebuah kericuhan mendadak pecah.

"Informasi yang kami dapat, saat itu ada seorang terduga perusuh yang membuat onar lalu terjatuh dan menjadi sasaran pengeroyokan massa. Adik saya (Aldo) yang berniat baik mencoba melerai dan membela orang tersebut agar tidak dipukuli," tutur Sonya menahan tangis saat ditemui di RS Bhayangkara Surabaya, Kamis siang.

Diselamatkan Malah Membalas dengan Sabetan Senjata Tajam

Nahas, air susu dibalas dengan air tuba. Sosok pembuat onar yang baru saja dilerai dan diselamatkan oleh Aldo tersebut ternyata menyembunyikan senjata tajam di balik pakaiannya. Begitu terbebas dari kepungan massa, pria misterius tersebut langsung mencabut sajamnya dan mengayunkannya secara membabi buta ke segala arah tanpa memedulikan sekelilingnya.

Sabetan liar tersebut langsung mengenai Aldo tepat di bagian lengan kiri, sementara Bobby yang berada di dekatnya terkena sabetan di punggung kiri. Diduga akibat luka robek yang cukup dalam pada arteri tangan kirinya, Aldo kehilangan banyak darah selama perjalanan menuju rumah sakit hingga kondisinya drop dan dinyatakan meninggal dunia.

Guna kepentingan proses penyelidikan dan penegakan hukum, jenazah Aldo dipindahkan ke kamar jenazah RS Bhayangkara Surabaya sekitar pukul 09.18 WIB untuk menjalani proses visum serta autopsi oleh Tim Inafis Polrestabes Surabaya.

Sambil menyeka air mata yang terus membasahi pipinya, Sonya menegaskan bahwa adiknya bukanlah suporter fanatik yang kerap turun ke jalan. Sepengetahuannya, Aldo hanya pernah satu kali menonton pertandingan sepak bola secara langsung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).

"Kami pihak keluarga memasrahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak kepolisian. Kami berharap pelaku yang tega menganiaya adik saya hingga meninggal dunia bisa segera ditangkap dan dihukum setimpal," rintihnya sesenggukan.

Polisi Buru Pelaku, Personel Disebar ke TKP

Tragedi berdarah di tengah konvoi suporter ini langsung mendapat atensi serius dari aparat penegak hukum kota pahlawan. Jajaran Satreskrim Polrestabes Surabaya memastikan tidak akan tinggal diam atas insiden yang merenggut nyawa pelajar tersebut.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Herwiyanto, membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan bahwa anggotanya telah dikerahkan secara masif ke lapangan sejak pagi hari.

"Benar, saat ini tim kami sedang melakukan upaya penyelidikan mendalam untuk mengungkap identitas dan menangkap pelakunya. Beberapa personel sudah kami sebar di sekitar lokasi kejadian untuk mengumpulkan keterangan dari para saksi mata dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP)," tegas mantan Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim tersebut saat dikonfirmasi oleh awak media.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.