SURYA.co.id, SITUBONDO – Nama Gilang Herlambang kembali menjadi perbincangan publik setelah ulasannya mengenai Alun-alun Besuki, Situbondo, menuai kontroversi.
Kreator konten yang dikenal dengan gaya penyampaian lugas dan kritis itu menjadi sorotan setelah menyebut tugu bambu runcing di kawasan tersebut mirip "kue putu".
Pernyataan itu memicu beragam reaksi dari masyarakat hingga mendapat tanggapan langsung dari Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo.
Namun di tengah polemik yang berkembang, Gilang akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait maksud dari konten yang dibuatnya.
Melalui kolom komentar unggahan Instagram Bupati Situbondo pada Selasa (16/6/2026), pemilik akun Instagram @gilang.her tersebut menjelaskan bahwa dirinya datang ke Alun-alun Besuki bukan untuk mencari sensasi ataupun menjatuhkan pihak tertentu.
Menurut Gilang, kunjungannya ke lokasi justru berawal dari banyaknya permintaan warga yang meminta dirinya mengulas fasilitas publik di kawasan tersebut.
"Terima kasih Pak sudah merespon. Saya ke situ hanya menuruti permintaan warga bapak di kolom komentar, tidak bermaksud lain," tulis Gilang.
Sebagai kreator konten yang kerap membuat ulasan fasilitas publik dan ruang terbuka, Gilang menilai kritik maupun apresiasi seharusnya dilihat secara utuh melalui video lengkap yang diunggahnya.
Ia mengaku tidak hanya menyoroti kekurangan, tetapi juga memberikan penilaian positif terhadap sejumlah fasilitas yang dianggap sudah baik.
"Kalau dilihat video lengkapnya, saya juga menyampaikan mana yang bagus dan mana yang menurut saya masih kurang sesuai dengan kondisi di lapangan," lanjutnya.
Salah satu bagian video yang paling banyak diperbincangkan adalah ketika Gilang menyebut tugu bambu runcing di Alun-alun Besuki mirip kue putu.
Ucapan tersebut kemudian dianggap sebagian pihak sebagai bentuk penghinaan terhadap simbol daerah.
Menanggapi hal itu, Gilang menegaskan bahwa tidak ada niat untuk merendahkan maupun menghina ikon yang ada di Besuki.
Menurutnya, penyebutan tersebut muncul secara spontan karena bentuk bambu yang besar dan mencolok sehingga menjadi perhatian utama saat dirinya melakukan ulasan lokasi.
"Kalau perihal bambu, saya pikir tidak ada konotasi negatif ya Pak. Karena di narasi saya juga menyebut bambunya besar, yang artinya saya memuji," jelasnya.
Meski demikian, Gilang tetap menyampaikan permintaan maaf apabila ada pihak yang merasa tersinggung atas konten tersebut.
"Cuma kalau ada hal yang menyinggung, saya mohon maaf. Terima kasih banyak sudah direspons."
Dalam klarifikasi yang sama, Gilang juga membantah anggapan bahwa dirinya membuat konten demi mencari keuntungan pribadi.
"Btw saya tidak cari uang, Pak. Karena saya murni menggunakan dana pribadi," tambahnya.
Kontroversi ini bermula ketika Gilang mengunggah video review Alun-alun Besuki pada Senin (15/6/2026). Dalam video tersebut, ia mengulas berbagai fasilitas yang tersedia, mulai dari ruang terbuka publik hingga lapangan basket.
Namun perhatian publik justru tertuju pada komentarnya mengenai tugu bambu runcing yang menjadi salah satu ikon kawasan tersebut.
Potongan video itu kemudian viral di media sosial dan memunculkan perdebatan mengenai batas antara kritik, ulasan kreatif, dan penghormatan terhadap simbol daerah.
Konten tersebut akhirnya mendapat respons dari Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau yang akrab disapa Mas Rio.
Melalui unggahan Instagram pribadinya, Rio menyampaikan bahwa kritik dan candaan masih dapat diterima, tetapi tidak seharusnya menyasar simbol yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat.
"Bolehlah kita meroasting, tapi jangan ke lambang atau simbol satu daerah," kata Rio, dalam postingan instagram pribadinya Selasa (16/6/2026).
Rio menegaskan bahwa tugu tersebut dibangun dengan filosofi perjuangan masyarakat Besuki sehingga memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar bentuk fisiknya.
"Tugu ini dibuat bukan sembarangan. Dasarnya adalah perjuangan masyarakat Besuki. Kok dibilang kue putu," lanjutnya.
Kasus yang melibatkan Gilang Herlambang menunjukkan bagaimana seorang kreator konten kini berada di posisi yang tidak mudah.
Di satu sisi, publik mengharapkan ulasan yang jujur, spontan, dan menghibur. Namun di sisi lain, setiap pernyataan yang disampaikan dapat ditafsirkan berbeda oleh audiens yang lebih luas.
Dalam konteks ini, kontroversi "kue putu" tampaknya bukan semata persoalan kritik terhadap fasilitas publik, melainkan benturan antara gaya komunikasi kreator digital yang cenderung santai dengan sensitivitas masyarakat terhadap simbol dan identitas daerah.
Klarifikasi yang disampaikan Gilang memperlihatkan upayanya menjelaskan konteks sebenarnya dari video tersebut.
Sementara respons Bupati Situbondo menunjukkan bahwa simbol daerah memiliki nilai historis dan emosional yang perlu dipahami oleh siapa pun yang mengulasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di era media sosial, sebuah kalimat sederhana dapat berkembang menjadi perdebatan publik yang jauh lebih besar dari maksud awalnya.
Gilang Herlambang adalah kreator konten sekaligus komika asal Lumajang, Jawa Timur, yang dikenal luas dengan nama panggung Gilang Durhaka.
Lahir pada 31 Juli 2001, ia mulai dikenal publik setelah mengikuti ajang stand-up comedy tingkat nasional dan aktif di komunitas Stand Up Indo Lumajang.
Karier Gilang berkembang pesat ketika ia mulai menggabungkan kemampuan melawak dengan pembuatan konten digital di media sosial.
Berbasis di Malang, Jawa Timur, ia konsisten menghadirkan video komedi yang dekat dengan kehidupan anak muda, terutama mahasiswa dan anak kos. Tema yang sering diangkat meliputi kehidupan kampus, percintaan, pergaulan, hingga fenomena sosial yang sedang ramai diperbincangkan.
Gaya penyampaian Gilang dikenal lugas, ceplas-ceplos, dan penuh ekspresi. Karakter tersebut membuat kontennya mudah dikenali serta diminati oleh kalangan Generasi Z.
Tidak sedikit video yang ia unggah di TikTok maupun Instagram berhasil menarik jutaan penonton dan dibagikan ulang oleh pengguna media sosial lainnya.
Selain dikenal sebagai komika, Gilang juga beberapa kali menjadi sorotan publik karena konten-konten yang dianggap berani mengkritik atau menyindir fenomena tertentu.
Salah satu yang sempat ramai diperbincangkan adalah ketika ia terlibat polemik terkait konten yang menyinggung sebuah perguruan tinggi di Malang. Persoalan tersebut kemudian diselesaikan melalui mediasi.
Popularitas Gilang terus meningkat seiring konsistensinya menghadirkan konten komedi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak muda.
Berkat kreativitas dan gaya humor khasnya, ia kini menjadi salah satu kreator konten asal Jawa Timur yang memiliki pengaruh cukup besar di media sosial, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda.