Pelatih Semarang Achmad Resal Jadi Peserta Termuda Kursus AFC Pro 2026, Ikuti Jejak Eko Purjianto
muslimah June 19, 2026 02:14 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pelatih muda asal Kota Semarang, Achmad Resal Octavian (32), selangkah lebih dekat mewujudkan impiannya menembus level tertinggi kepelatihan sepakbola.

Mantan pemain PSIS Semarang itu menjadi salah satu peserta Kursus Lisensi AFC Pro yang berlangsung pada 11–15 Juni 2026.

Program tersebut merupakan jenjang lisensi kepelatihan tertinggi bagi seorang pelatih sepakbola profesional yang diselenggarakan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan ditujukan untuk mempersiapkan pelatih dalam menangani klub profesional maupun tim nasional di level tertinggi.

Keikutsertaan Resal membuat namanya mengikuti jejak pelatih asal Semarang yang lebih dulu mengantongi lisensi AFC Pro, yakni Eko Purjianto.

Resal mengaku bersyukur bisa lolos mengikuti kursus bergengsi tersebut. Pasalnya, proses seleksi berlangsung cukup ketat dengan jumlah peserta yang sangat terbatas.

"Saya bersyukur bisa ikut kursus Pro ini karena memang ingin meng-upgrade ilmu kepelatihan. Seleksinya cukup panjang, banyak pelatih yang mendaftar, tetapi hanya 18 peserta yang bisa mengikuti kursus tahun ini," kata Resal kepada Tribunjateng.com, Jumat (19/6/2026).

Dari 18 peserta tersebut, terdapat pelatih dari berbagai negara, termasuk Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Belanda. Menariknya, Resal menjadi peserta termuda dalam angkatan tersebut.

Satu di antaranya adalah Shin Sang-gyu, mantan asisten pelatih Shin Tae Yong di Tim Nasional Indonesia yang saat ini menjadi asisten pelatih Persebaya Surabaya.

"Ya, dari 18 peserta saya yang paling muda," ujarnya.

Selain Resal, sejumlah nama yang cukup dikenal di sepak bola nasional juga mengikuti kursus tersebut.

Di antaranya pelatih Kendal Tornado FC Stefan Keltjes, Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur dari PSM Makassar, Firman Utina dan Bayu Eka Sari dari Dewa United.

Pada modul pertama, peserta mendapatkan berbagai materi yang berfokus pada pengembangan pemain dan pendekatan kepelatihan modern.

Menurut Resal, salah satu materi yang paling menarik adalah memahami proses belajar pemain serta cara pelatih menghadapi berbagai tantangan dalam proses pembinaan.

"Ini baru blok pertama, nanti sampai blok delapan. Banyak materi tentang ilmu kepelatihan dan bagaimana mengelola sebuah tim. Di level Pro ini, pelatih harus bisa meng-handle semua aspek di dalam tim," jelasnya.

Pelatih kelahiran Semarang, 6 Oktober 1993 itu menilai perkembangan sepak bola modern berjalan sangat cepat.

Karena itu, pelatih dituntut terus memperbarui wawasan dan metode kepelatihannya agar tidak tertinggal.

"Sekarang sepak bola terus berkembang. Karena itu pelatih harus selalu meng-upgrade ilmunya. Kalau tidak, kita akan tertinggal di sepak bola modern," katanya.

Sekedar informasi, sebelum menekuni profesi saat ini, Resal ternyata sempat meniti karier sebagai pemain profesional.

Namun, karier tersebut harus berakhir lebih cepat akibat cedera serius yang dialaminya saat memperkuat PSIS Semarang pada tahun 2017.

"Karier sebagai pemain tidak lama karena mengalami cedera serius yang membuat saya harus pensiun dini. Dari situ saya belajar menjadi pelatih dan akhirnya fokus mendalami ilmu kepelatihan," ujarnya.

Keputusan pensiun dini pada tahun 2017 membuat Resal di tahun yang sama menekuni dunia kepelatihan di PSIS Semarang. Setelah pelatih Subangkit diberhentikan pada masa pramusim Liga 1 2018, Resal masih dipercaya masuk dalam rencana tim yang baru promosi kala itu.

Selain sebagai asisten pelatih, Resal juga sempat mendapat tambahan tugas sebagai penerjemah untuk striker PSIS pada musim 2018, Bruno Silva.

Resal diketahui memiliki kemampuan berbahasa Spanyol dan Portugis sebab pernah menimba ilmu bersama Timnas Indonesia di level junior dalam program Sociedad Anonima Deportiva (SAD) Indonesia di Uruguay.

Selama menjadi asisten pelatih di PSIS, ia pernah bekerjasama dengan sejumlah pelatih tim kebanggaan masyarakat Kota Semarang itu.

Mulai dari Subangkit, Vincenzo Annese, Bambang Nurdiansyah, Dragan Djukanovic, dan Ian Andrew Gillan.

Resal juga sempat menjadi karetaker atau pelatih sementara PSIS.

Setelahnya, Resal melanjutkan karir bersama Malut United sebagai asisten pelatih dan saat ini menjabat sebagai direktur teknik tim kebanggan masyarakat Maluku Utara itu.

Resal menambahkan, ke depan, ia memasang target besar dalam karier kepelatihannya. Ia ingin menangani klub Liga 1 dan membuktikan bahwa pelatih lokal mampu bersaing dengan pelatih asing.

"Target pribadi saya tentu ingin melatih tim Liga 1 dan bersaing dengan pelatih asing. Saya ingin menunjukkan bahwa pelatih lokal juga bisa bersaing dan berprestasi," tandasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.