Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Dengan intonasi yang lantang dan penuh percaya diri, seorang gadis cilik berdiri sambil sesekali memperagakan gestur bak pendongeng profesional di perpustakaan SD IT Pelita Khoirul Ummah yang berlokasi di Jalan Purnawirawan Raya No.41, Gunung Terang, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung, Lampung.
Baca Juga: Al Amin Fadilah Siswa MAN 1 Bandar Lampung Raih Prestasi Juara Scrabble Internasional
Ia adalah Ghania Maryam Mulya Zahro (10), siswi kelas 4 SD IT Pelita Khoirul Ummah yang berhasil menorehkan berbagai prestasi di bidang dakwah dan dongeng.
Meski kini dikenal sebagai salah satu peserta berbakat dalam lomba dongeng, Ghania sebenarnya lebih dahulu menapaki dunia dakwah atau dai cilik.
"Awalnya saya diminta mewakili kelas untuk lomba dai di sekolah," tutur Ghania Jumat (19/6/2026).
Saat itu dirinya masih duduk di kelas 2 sekolah dasar.
Penampilan pertamanya ternyata langsung berbuah manis.
Setelah kemenangannya itu, ia pun menjadi wakil sekolah untuk mengikuti ajang yang lebih besar, yaitu Festival Seni Islami (FSI) atau Pentas PAI dan berhasil meraih juara pertama.
"Rasanya seperti mimpi. Baru pertama kali ikut lomba di luar sekolah, tiba-tiba bisa juara satu," ungkapnya, Jumat (19/6/2026).
Setelah dua tahun mengoleksi piala di bidang dai, Ghaniapun mencoba beralih di perlombaan dongeng.
Keputusan itu diambil karena ia ingin memiliki lebih banyak keterampilan yang dapat menunjang kepercayaan dirinya saat tampil di depan umum.
"Saya ingin punya bakat lain selain Da'i supaya kemampuan saya semakin berkembang," katanya.
Prestasi di dunia dongeng pun tidak kalah membanggakan.
Penampilannya berhasil memikat para juri dan mengantarkannya meraih juara pertama.
“Pada lomba dongeng pertama, saya bawakan kisah perjuangan Raden Intan II, pahlawan asal Lampung yang berjuang melawan penjajahan Belanda,” ucapnya.
Meski sukses di dua bidang, Ghania mengaku lebih menyukai dunia dai dibandingkan dongeng.
Menurutnya, berdakwah lebih sesuai dengan karakter dan kemampuannya.
"Kalau Da'i, intonasinya lebih mudah. Kalau dongeng harus naik turun dan lebih sulit. Jadi saya lebih suka Da'i," jelasnya.
Di balik sederet prestasi yang diraih, Ghania memiliki disiplin latihan yang tinggi.
Menjelang lomba, ia biasanya berlatih selama dua hingga tiga minggu bahkan hingga satu bulan penuh.
Untuk menghafal naskah, ia membutuhkan waktu sekitar empat hari.
Metode yang digunakannya cukup sederhana, yaitu membaca berulang-ulang dan menyetorkan hafalan kepada sang ayah.
“Yang buat teks selalu ayah, kemudian aku hafalkan, setelah hafal nanti setor hafalannya ke ayah,” jelasnya.
Peran orang tua, khususnya ayah, sangat besar dalam perjalanan prestasinya. Selain membantu menyusun materi, sang ayah juga menjadi pembimbing yang memberikan evaluasi terhadap intonasi, ekspresi, hingga teknik penyampaian saat tampil.
Bagi teman-teman seusianya yang ingin berprestasi, Ghania membagikan resep sederhana yang menurutnya menjadi kunci keberhasilan.
"Harus mau berproses, rajin latihan, dan jangan menyerah meskipun capek. Kalau ingin jadi juara, harus terus berlatih," pesannya.
Deretan prestasi yang diraih Ghania :
- Juara 2 Dai di Festival Ramadhan Princhto tahun 2025 tingkat Provinsi
- Juara 2 Dai Global Surya Festival tahun 2025
- Juara 1 Dai Pentas PAI Tingkat Kecamatan 2025
- Juara 2 Dai Pentas PAI Tingkat Kota 2025
- Juara 2 Dai Cilik Yayasan Darul Qiroah tahun 2026
- Juara 2 Dai Festival Anak Soleh tingkat Nasional tahun 2026
- Juara 1 Bercerita Festival Anak Sholeh tingkat Nasional tahun 2026
- Juara Favorit Bercerita Festival Anak Sholeh tahun 2026
- Juara Favorit Dai Cilik Ramadhan Competition tingkat Nasional tahun 2026
- Juara 1 PENTAS PAI Tingkat Kecamatan tahun 2026
- Juara 1 Mendongeng FLS3N Tingkat kecamatan tahun 2026
- Juara 2 Mendongeng FLS3N Tingkat Kota Tahun 2026
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Bintang Puji Anggraini)