TRIBUNPEKANBARU.COM - Irjen Purn Sony Sonjaya buka-bukaan saat diperiksa penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Kamis (18/6/2026) kemarin.
Dia mengungkap pengadaan 5.000 CCTV dan pemindai sidik jari atau finger print fiktif.
Seharusnya CCTV dan finger print diperuntukan untuk dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebelumnya, Sony juga membeberkan 41 nama yang mengajukan pembuatan titik-titik SPPG atau dapur MBG.
Ya, mantan Wakil Kepala Irjen Purn Sony Sonjaya, lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 tersbeut mengeluarkan 'nyanyian' nya usai ditetapkan tersangka dan ditahan dalam kasus korupsi MBG tersebut.
Pengakuan Sony rekan se-angkatan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo di Batalyon Bhayangkara tersebut, diperjelas melalui Kuasa hukum Sony, Krisna Murti.
Dia mengatakan, pengakuan itu kliennya ungkapkan di hadapan penyidik saat menjalani pemeriksaan sebagai tersangka atas kasus yang menjeratnya tersebut di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung, Kamis (18/6/2026).
"Tadi pak Sony mengungkap yang lebih besar daripada kerugian negara. Apa? Jadi sebelum Pak Sony masuk (sebagai Wakil Kepala BGN) ada kontrak yang namanya CCTV dan pengadaan sidik jari (finger print)," kata Krisna kepada wartawan.
Baca juga: Lanjutkan MBG dan Tangkap Koruptor, Aksi Damai AMPPI di Pekanbaru
Krisna mengatakan, bahwa pengadaan CCTV itu dilakukan BGN menggunakan skema kontrak atau outsourcing dengan vendor dan memiliki nilai kontrak senilai Rp 300 miliar lebih.
Dijelaskan Krisna awalnya pengadaan ribuan CCTV dan Finger Print itu diperuntukan untuk 5.000 titik SPPG yang tersebar di sejumlah daerah dengan masing-masing dapur dipasang 5 buah.
Namun sebelum kontrak pengadaan itu habis pada 19 Februari 2026 lalu, kata Krisna wujud CCTV dan finger print itu ternyata tidak ada.
"Sebelum kontrak itu berakhir, Pak Sony manggul vendor itu, ditanya sama Pak Sony 'eh lu kan pasang 5.000 CCTV sama sidik jari. Coba diperlihatkan sama saya seperti apa, saya butuh SDN 01 Jakarta Timur, coba kamu lihat seperti apa?' mereka tidak bisa memperlihatkan," ucap Krisna.
"Jadi artinya 5 ribu CCTV dengan sidik jari yang penerima manfaat itu, untuk anak-anak penerima manfaat itu tidak terpasang," sambungnya.
Krisna pun menduga bahwa telah terjadi tindak pidana korupsi dalam pengadaan CCTV dan sidik jari itu. Lantaran pengadaanya memakan biaya negara cukup besar namun justru barang-barang tersebut tidak memiliki wujud.
"Artinya bahwa BGN sudah keluar uang Rp 300 miliar lebih, tapi nyatanya vendor itu tidak bisa menjawab dimana CCTV itu dipasang. Pak Sony menjawab itu total loss, artinya bahwa itu boleh dikatakan adalah fiktif," ungkapnya.
Meski begitu saat disinggung ihwal siapa sosok pengusul terkait pengadaan CCTV dan sidik jari itu, kata Krisna, Sony tidak bisa menjawab kepada penyidik.
Sebab menurutnya, CCTV beserta sidik jari tersebut sudah ada sebelum kliennya dilantik sebagai Wakil Kepala BGN.
"Enggak tahu (siapa yang mengusulkan) pak Sony masuk sudah ada (CCTV dan sidik jari/finger print)," jelasnya.
Krisna pun menerangkan, bahwa fakta itu kliennya kemukakan dalam rangka upayanya mengajukan justice collaborator (JC) terkait perkara yang kini sedang menjeratnya.
Kendati telah mengungkap fakta itu, Krisna mengatakan kliennya itu tetap menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk mengkaji layak tidaknya pengajuan JC yang dimohonkan oleh Sony.
"Nanti akan dikaji oleh penyidik akan dipertimbangkan oleh penyidik. Artinya ada dua JC, yang pertama soal nama-nama yang meminta titik-titik dan JC kedua adalah mengungkap kerugian negara sebesar Rp 300 miliar," ujarnya.
Mengenai hal ini, Kejaksaan Agung menyatakan tetap menghargai keterangan yang telah diberikan Sony dalam perkara tersebut.
Namun dikatakan Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejaksaan Agung, Syarief Sulaeman Nahdi meski telah membeberkan keterangan itu, penyidik tak serta merta menerima permohonan JC Sony.
Pasalnya saat ini penyidik masih perlu melakukan konfirmasi ulang keterangan Sony dengan sejumlah alat bukti yang telah pihaknya temukan lebih dulu.
"Namun demikian kami menghargai, menghargai saudara SS yang berinisiatif menyampaikan Informasi-informasi terhadap perkara ini," ucap Syarief.
Seperti diketahui sebelumnya, Sonny telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung.
Dia ditetapkan sebagai tersangka bersama dua orang lainnya yakni eks Kepala BGN, Dadan Hindayana dan eks Wakil Kepala BGN Loedwijk Pusung.
Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi mengatakan tersangka itu diketahui melakukan perbuatan melawan hukum terkait pengadaan barang dan jasa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saudara DH bersama-sama dengan saudara SS dan saudara LP dalam melakukan proses pengadaan baik barang dan jasa di BGN secara melawan hukum,” kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung RI, Syarief Sulaeman Nahdi saat konferensi pers di Kejagung, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Syarief mengatakan Dadan cs melalukan intervensi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sehingga penyusunan KAK (Kerangka Acuan Kerja) pengadaan barang dan jasa pada BGN untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak disusun sesuai kebutuhan riil di lapangan.
“Adanya mark up harga pengadaan sehingga terjadi kerugian yang tidak mendukung operasional pelaksanaan MBG,” ungkapnya..
Terkait dampak kasus korupsi MBG, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Medan Donal Simanjuntak mengatakan, ada 45 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sumut yang tak beroperasi alias tutup.
Dijelaskannya, hal itu diketahui dari laporan yang masuk ke pihaknya.
Sejauh ini 45 SPPG itu terdiri dari 11 SPPG Asahan dan 34 SPPG Siantar.
Menurutnya, tak beroperasinya SPPG itu disebabkan oleh belum masuknya anggaran operasional
dari APBN yang belum masuk.
"Jadi ada laporan sporadis gitu dana yang belum top up biasa begitu. cuma tidak sebanyak yang sekarang. Asahan ada 11, di Pematang Siantar 34. Total 45 SPPG yang tak beroperasi," katanya.
Diterangkannya, sejauh ini belum ada laporan lagi dari 33 Kab/Kota SPPG yang berhenti beroperasi gara-gara anggaran operasionalnya belum masuk.
"Yang melapor dua kabupaten itu. Kita enggak punya data konkret. Ini yang melapor, yang saya tahi kalaau enggak lapor artinya tidakk ada masalah," jelasnya.
Ia juga membeberkan penyebab 45 SPPG Sumut yang berhenti beroperasi.
Di antaranya karena permasalahan pengelolaan data dari pemerintah pusat.
"Penyebabnya ini, kan ada transaksi di jakarta. Pengelolaannya semua di Jakarta kalau namanya, Jakarta itu se Indonesia.
Maka memerlukan sumber daya yang cukup untuk melototin Virtual Account seluruh Indonesia maka ini menjadi pekerjaan besar juga, setelah dari situ prosesnya langung ke kementerian. Jadi memang ada tahapan begitu,"ucapnya.
Namun di sisi lain, berdasarkan penilaian Donal, penyebab dari keterlambatan anggaran ini karena kepala dapur tidak konsisten membuat laporan harian sehingga terjadi keterlambatan pembayaran
"Indikasiinya ada kepala dapur yang tidak konsisten membuat laporan harian. Itu kalau meereka konsisten, bikin laporan harian. Setiap Rabu pusat mengecek seluruh rekening apanyang berkurang baru nanti di top up," ucapnya.
Namun dari SPPG yang berhenti beroperasi, lanjutnya sudah ada laporan keuangan dari pusat sudah cair.
"Kami mendapat laporan kemarin sebagian sudah cair, data lengkapnya dari pusat. Sebagian ada yang belum cair. Karena, itu tadi perlu waktu," jelasnya.
Ia juga tidak menjelaskan secara rinci siapa pemilik 45 SPPG yang berhenti beroperasi karena anggaran dari pusat belum cair.\
Berikut 6 orang sudah ditetapkan sebagai tersangka;
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana
- Eks Wakil Kepala BGN Sonny Sonjaya
- Eks Wakil Kepala BGN Loedwijk Pusung
- Asep Yusuf Somantri selaku pihak swasta
- Andri Mulyono selaku Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (Vendor Motor Listrik).
- Glory Harimas Sihombing (GHS) selaku Ketua Yayasan Indonesia Food Security Riview.
Sementara itu di Pekanbaru, Aliansi Masyarakat Pekanbaru Peduli Indonesia (AMPPI), menggelar aksi damai, Kamis (18/6/2026) di Jalan Sudirman, Kota Pekanbaru, usung tema Lanjutkan MBG dan Tangkap Koruptor.
Gerakan ini dihelat sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta upaya pemerintah dalam memberantas korupsi.
Koordinator aksi Yuda menjelaskan, kegiatan damai ini diikuti sekitar 2.000 peserta.
Pihaknya sangat mendukung penuh program Presiden Prabowo Subianto, untuk terus melanjutkan program-program unggulan yang dinilai pro-rakyat. Khususnya Program MBG.
"Kita tahu, program MBG sudah memberikan manfaat nyata bagi jutaan anak sekolah di Indonesia, termasuk di Kota Pekanbaru, Riau.
Apalagi ini untuk pemenuhan kebutuhan gizi yang lebih baik," kata Yuda lantang.
Selain itu, lanjutnya, program ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang positif, dengan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
"Ini sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, khususnya para pelajar.
Program ini tidak hanya membantu pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga telah menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan," tambahnya.
Seiring dengan ini, AMPPI juga menyuarakan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam pemberantasan korupsi.
Pihaknyameminta agar penegakan hukum terhadap para pelaku korupsi dilakukan secara tegas, tanpa pandang bulu.
"Kami meminta kepada Presiden untuk terus memperkuat upaya pemberantasan korupsi, dan menindak tegas para koruptor yang selama ini sudah merugikan negara serta menyengsarakan rakyat Indonesia," pintanya yang diamini massa lainnya.
Lebih lanjut disampaikan, keberhasilan pembangunan membutuhkan dukungan seluruh kalangan masyarakat.
Melalui aksi damai ini, AMPPI mengajak seluruh masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa, untuk bersama-sama mendukung program-program yang berpihak kepada rakyat, serta mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi.
"AMPPI juga berharap, Indonesia dapat terus bergerak menuju cita-cita bangsa, yaitu menjadi negara yang adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyat," harapnya.
( Tribunpekanbaru.com / Tribunnews )