TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bondowoso dalam beberapa pekan terakhir dikeluhkan masyarakat dan pelaku usaha.
Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami pemadaman hingga tiga kali dalam sepekan dengan durasi rata-rata sekitar tiga jam setiap kejadian.
Salah satu warga yang terdampak adalah Nur Alifah Bahsa, penjual ayam dan es kul-kul di Desa Sumbersalam, Kecamatan Tenggarang. Ia mengaku rumahnya mengalami pemadaman sebanyak tiga kali dalam sepekan terakhir meski lokasinya hanya sekitar 500 meter dari gardu induk listrik.
Menurutnya, pemadaman sering terjadi secara mendadak pada siang hari dan baru kembali normal menjelang petang.
Baca juga: Swasembada Gula, Capaian Bongkar Ratoon Tebu di Bondowoso Capai 797 Hektare
"Tempo hari itu jam 1 siang mati, biasanya baru nyala pas sudah senja," ujarnya.
Nur mengaku khawatir pemadaman yang berlangsung lama dapat merusak bahan dagangan yang membutuhkan pendingin.
"Iya, kalau mati lama, takut daging ayam di freezer itu rusak. Kalau es kul-kul kan buahnya yang ditaruh di kulkas," jelasnya.
Baca juga: Program INI BUDI Sempurnakan Panggung Amarta Dewi Rengganis Bondowoso, Istri Bupati Turut Tampil
Keluhan serupa disampaikan Yusi Effendi, pelaku usaha ayam potong asal Desa Grujugan, Kecamatan Grujugan. Ia mengatakan kelancaran usahanya sangat bergantung pada pasokan listrik, terutama untuk menjaga kualitas daging ayam yang disimpan di dalam freezer.
Menurut Yusi, pemadaman berkepanjangan dapat menurunkan kualitas produk dan berpotensi menimbulkan kerugian usaha.
"Kalau lama kualitasnya rusak, sehingga merugikan," katanya.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Apresiasi Kesigapan Petugas Pertashop saat Tangani Kebakaran di Bondowoso
Tak hanya itu, proses pencabutan bulu ayam yang biasanya menggunakan mesin listrik terpaksa dilakukan secara manual saat listrik padam. Akibatnya, pekerjaan menjadi lebih lambat dan membutuhkan tenaga tambahan.
Yusi juga mengaku penggunaan token listrik prabayar terasa lebih boros dibanding sebelumnya. Dengan daya 450 VA, token senilai Rp 50 ribu yang biasanya cukup untuk satu bulan kini hanya bertahan sekitar dua pekan.
Ia menilai persoalan utama bukan hanya frekuensi pemadaman, tetapi juga minimnya informasi kepada pelanggan sebelum listrik dipadamkan.
Baca juga: Forum KDKMP Bondowoso Desak Percepatan Gerai Koperasi Merah Putih
Muhtar, warga Desa Sumbersalam, juga merasakan dampak pemadaman yang berulang. Dalam sepekan terakhir, ia mencatat listrik padam sebanyak tiga kali, yakni pada Minggu, Senin, dan Kamis.
Menurutnya, setiap kali melaporkan gangguan melalui aplikasi PLN Mobile, informasi yang diterima menyebutkan adanya perbaikan sistem dengan estimasi pemadaman sekitar tiga jam.
"Minggu, Senin, Kamis, padam," katanya.
Pemadaman tersebut tidak hanya mengganggu kebutuhan listrik rumah tangga, tetapi juga pasokan air karena rumahnya menggunakan sumur bor dengan pompa listrik.
Baca juga: Forum KDKMP Bondowoso Desak Percepatan Gerai Koperasi Merah Putih
"Pulang kerja mau isi daya baterai (charge) lampu padam. Kalau di perumahan itu kan tandonnya kecil ya, kadang nahan kencing juga kalau tiba-tiba air mati," terangnya.
Muhtar menduga pemadaman dilakukan secara bergilir karena sejumlah kerabat dan temannya di wilayah lain, seperti Desa Kembang dan Desa Taman, juga mengalami kondisi serupa.
Menanggapi keluhan pelanggan, Manajer ULP PLN Bondowoso, Daniel Pramana Putra, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa pengaturan beban dilakukan sebagai langkah mitigasi sementara guna menjaga sistem kelistrikan tetap aman, andal, dan stabil selama proses pemulihan berlangsung.
"PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di beberapa wilayah untuk menjaga keandalan dan stabilitas sistem kelistrikan," kata Daniel.
Terkait isu blackout maupun kabar mengenai menipisnya stok batu bara yang beredar di masyarakat, Daniel mengatakan hal tersebut bukan kewenangan PLN ULP Bondowoso untuk memberikan penjelasan.
"Sehingga kami belum dapat memberikan informasi terkait hal tersebut," ujarnya.
PLN juga memastikan seluruh laporan dan keluhan pelanggan tetap dilayani melalui aplikasi PLN Mobile maupun Contact Center 123. Selain itu, tim operasional dan teknisi disiagakan selama 24 jam untuk menjaga keandalan pasokan listrik.
Mengenai hingga kapan pemadaman bergilir akan berlangsung, Daniel mengatakan kebijakan tersebut ditentukan oleh kantor induk PLN, sedangkan PLN ULP Bondowoso bertugas melaksanakan pengaturan yang telah ditetapkan.
"Untuk pemadaman, diatur oleh kantor induk dan PLN Bondowoso hanya sebagai pelaksana," tambahnya.