POSBELITUNG.CO – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel saat ini dilaporkan berada di titik nadir.
Bukan tanpa alasan, hubungan kedua negara tersebut hancur akibat keputusan Presiden AS Donald Trump untuk berdamai dengan Iran.
Menurut laporan media Israel, Yedioth Ahronoth, Trump merasa dikhianati oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu setelah menyimpulkan bahwa sekutunya tersebut sengaja menyabotase berbagai upaya negosiasi perdamaian demi memperpanjang perang.
Sebelum eskalasi konflik meluas, Trump dilaporkan sangat percaya bahwa kampanye militer melawan Iran akan berjalan dengan mudah dan cepat.
Baca juga: Video: AS–Iran Sepakat Damai, Ribuan Kapal Tertahan di Hormuz, Ranjau Laut Hambat Normalisasi
Keyakinan ini muncul setelah Trump mengadakan pertemuan di Gedung Putih bersama Netanyahu dan Direktur Mossad, David Barnea.
Meskipun jajaran pejabat senior pemerintahan AS saat itu sudah memperingatkan bahwa situasi di lapangan jauh lebih rumit, Trump memilih untuk sepenuhnya berpihak pada klaim Israel.
Namun, realitas di lapangan telah berkata lain.
Alih-alih menyerah, Iran justru memberikan perlawanan sengit, termasuk memblokir Selat Hormuz yang memicu guncangan hebat pada stabilitas ekonomi global.
Baca juga: Video: Karina Ranau Laporkan Dugaan Kekerasan Usai Didorong Pria Tak Dikenal hingga Terpental
Menyadari dampak buruk ekonomi yang kian meluas, Trump mulai mengubah posisinya dan mendesak agar konflik segera diakhiri — keinginan yang kabarnya tidak diacuhkan oleh Israel.
Puncak keretakan hubungan kedua pemimpin ini terjadi saat militer Israel meluncurkan serangan udara ke Beirut, Lebanon.
Di mata pemerintah AS, tindakan Netanyahu dianggap sebagai manuver di balik layar yang sengaja merusak kesepakatan damai yang sedang dirancang Trump.
(Youtube Pos Belitung)