Lekooh: Kenikmatan Rawon dan Coto Makassar yang 'Lekoh' di Jaksel
GH News June 19, 2026 06:09 PM
Jakarta -

Jika biasanya makan coto Makassar dan rawon identik di warung makan, maka pengalaman berbeda bisa kamu temukan di Lekooh. Tempat makannya nyaman dengan nuansa kekinian yang menyasar anak muda!

Kawasan Cikajang diisi deretan kafe, restoran, dan coffee shop, yang umumnya menawarkan menu-menu Western atau kekinian lainnya. Namun kini ada 'pemain baru' yang menawarkan dua hidangan berkuah tradisional sebagai menu andalan, coto Makassar dan rawon.

Nama tempatnya Lekooh yang berada di bagian depan Oma Huis, sebuah artisan retail space, di Jalan Cikajang Nomor 74. Usaha kuliner yang dirintis Desi Dwi Jayanti ini didirikan pada November 2025.

Detail Informasi
Nama Tempat Makan Lekooh
Alamat Oma Huis, Jalan Cikajang Nomor 74, Jakarta Selatan
Instagram lekooh.jkt
Jam Operasional 07.00-21.00
Estimasi Harga mulai dari Rp 55 ribu
Tipe Kuliner coto Makassar dan rawon
Fasilitas
  • area makan nyaman di tempat

Anak muda yang ingin melestarikan coto Makassar

LekoohGerai Lekooh di Oma Huis, Cikajang yang mencuri perhatian. Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Berbincang dengan tim (18/6), Desi mengungkap semangatnya melestarikan coto Makassar lewat bisnisnya ini. Ia sendiri bukan orang Makassar, melainkan Kediri, Jawa Timur.

Namun kecintaannya pada coto Makassar tumbuh setelah ia menikah dengan sang suami yang berasal dari sana. Desi pun akrab dengan aneka cita rasa coto Makassar, plus model bisnisnya yang ia amati selama ini.

"Kalau diperhatikan, warung coto Makassar itu jarang yang punya cabang banyak. Alasannya karena racikan coto itu sangat spesifik, bergantung pada resep kokinya. Nah kokinya itu biasanya orang tua dimana masakannya sulit diduplikasi dan mereka tidak membakukan resep," kata Desi.

Ia menilai kondisi itu akhirnya membuat eksistensi sebuah warung coto Makassar bisa terancam, apalagi jika tak ada penerus. Karena itu, bagi Desi, mencatat resep dengan detail adalah langkah penting untuk melestarikan coto Makassar ke depannya.

Wanita 37 tahun ini bahkan sampai memiliki Non-Disclosure Agreement (Perjanjian Kerahasiaan) untuk menjaga resep coto Makassar yang dikembangkannya selama sekitar 2 bulan, sebelum mendirikan Leekoh.

'Rampa patang pulo' dan susu kacang, rahasia kelezatan coto Makassar

Di balik kenikmatan coto Makassar, ada penggunaan banyak rempah yang jadi rahasianya. Bahkan ada ungkapan 'Rampa patang pulo' di kalangan orang Makassar, yang merujuk pada 40 jenis rempah tradisional yang digunakan sebagai bumbu otentik kuah coto Makassar.

Prinsip ini juga diyakin oleh Desi, tapi menurutunya, jumlah rempahnya memang tidak tepat 40. "Sekitar hampir 30 ya yang dipakai," katanya.

Ia juga menggunakan kacang tanah goreng untuk bumbu coto Makassar buatannya. Hanya saja, Desi mengolahnya jadi susu kacang dulu dengan cara menghaluskan kacang tanah goreng menggunakan beberapa bumbu sampai keluar sari-sarinya.

Baru kemudian susu kacang ini ditambahkan ke dalam kuah coto. Alhasil, konsistensi kekentalan coto bisa maksimal dan tidak terpisah antarkuah dengan buliran kacang tanahnya.

Nikmatnya Coto Makassar isi daging dan aneka jeroan

LekoohSeporsi coto Makassar dibanderol Rp 59 ribu sudah termasuk buras atau ketupat. Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Leekooh menawarkan paket Coto Makassar Leekoh seharga Rp 59 ribu, sudah termasuk ketupat/buras. Untuk isian coto bisa pilih daging saja atau campur jeroan.

Desi menyediakan pilihan jeroan sapi cukup lengkap, yaitu paru, jantung, ati, lidah, babat, dan limpa. Semua komponen ini direbus selama sekitar 2 jam sebelum disajikan hingga mendapatkan tekstur yang pas.

Untuk daging, Lekooh menggunakan daging sapi sengkel impor Australia. Dari segi harga dan kualitas, menurutnya, penggunaan daging impor lebih aman untuk keberlangsungan bisnis dibanding daging sapi lokal yang kadang harga dan pasokannya fluktuatif.

Usai direbus 2 jam, daging sengkel dipotong kecil-kecil untuk disajikan di mangkuk coto. Teksturnya empuk dan kenyal, enak diseruput bersamaan dengan kuah coto yang harum berempah. Apalagi porsi yang diberikan royal!

Yang bikin kami jatuh cinta, kuah coto Makassar di sini terbilang lebih kental. Jika diibaratkan 'body' dalam dunia kopi, maka jenisnya terbilang 'full bodied' yang memuaskan selera.

Tercecap cita rasa seimbang aneka jenis paduan rempah, disusul rasa gurih kacang (nutty) yang tipis. Karena rasanya yang cenderung 'balanced' dan tidak terlalu gurih, maka coto ini enak diracik lagi dengan pelengkap sambal, kecap, dan perasan jeruk nipis.

Sambal coto Makassar diracik spesial oleh Desi menggunakan tauco sehingga ada jejak sedikit asam segar.

Rawon dengan sentuhan Makassar yang istimewa

LekoohRawon di Lekooh juga layak dicoba dengan pendamping telur asin. Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Kalau ke Lekooh, kamu juga patut mencoba rawon. Karena sebenarnya rawon lebih dulu dijual oleh Desi. Ia menawarkannya dalam sistem pre order (PO) sejak tahun 2020, ketika masa pandemi Covid-19.

Desi sudah sering membuat rawon untuk keluarganya sejak dulu, termasuk keluarga sang suami. Ia menyebut banyak orang Makassar juga menyukai rawon buatannya yang berkuah lekoh. Karena itu ia percaya diri menawarkannya.

Seporsi paket Rawon Lekooh dibanderol Rp 59 ribu. Isinya sudah termasuk nasi, rawon, kerupuk udag, telur asin, dan sambal.

Tampilan rawon di sini menggugah selera dengan warna hitam yang cukup pekat. Soal rasa, sentuhan keluaknya terbilang masih ringan dengan rasa gurih datang dari aneka rempahnya. Rawonnya tipe yang gurih dan 'ngaldu'.

Desi mengatakan rawon memang makanan khas Jawa Timur, tapi ia memberi sentuhan Ujung Pandang lewat pemakaian keluak. Ia menggunakan keluak asli Makassar yang menurutnya lebih lembap.

Rasa rawon semakin enak dimakan bareng kecambah dan telur asin. Ada juga sambal terasi yang pedasnya cukup kuat untuk menambah kenikmatan.

Mimpi ekspansi ke luar negeri

Saat ini Lekooh juga sudah menambah gerai kedua di Fresh Market Bintaro. Meski begitu, Desi mengaku tidak ambisius memperbanyak cabang.

Ia lebih ingin melestarikan makanan tradisional dan berharap bisa memperkenalkannya ke luar negeri. "Kan kita digempur dengan makanan Korea, makanan Italia, dan makanan apa lagi. Pengin banget punya cabang sampai ke Singapura, sampai ke Amsterdam. Biar kita ada representasi sampai ke luar negeri," tutupnya.

Ingin tempat makan dan produk Anda direview oleh Detikfood? Kirim email ke redaksi@detikfood.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.