Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax membuat konsumsi Pertalite di Kota Solo disebut meningkat.
Bahkan, antrean panjang juga sempat terjadi di stasiun pengisian Pertalite di sejumlah SPBU Kota Solo.
Hal itu dibenarkan oleh Area Manager Communication & Relation Pertamina Patra Niaga Regional Jateng-DIY, Taufik Kurniawan.
Taufik menerangkan bahwa secara antrean, pengguna Pertalite mengalami peningkatan.
Namun, saat ini jumlah kenaikannya masih dalam perhitungan pihak Pertamina.
"Saat ini, untuk kenaikan (Pertalite) belum ada data yang bisa menjadi pembanding yang sepadan. Posisi kenaikan (harga Pertamax) tanggal 10 Juni, kami harus melihatnya minimal satu bulan untuk menunjukkan tren pergeseran konsumsi," ungkap Taufik di Solo, Jumat (19/6/2026).
Ia menambahkan, kenaikan harga BBM tersebut juga mengakibatkan terjadinya penurunan konsumsi Pertamax.
"Penurunan (konsumsi Pertamax) pasti, tapi untuk datanya berapa belum bisa kami sampaikan karena kami butuh pembanding yang pas minimal satu bulan," lanjut dia.
Disinggung mengenai stok Pertalite di area Solo dan sekitarnya, Taufik menegaskan bahwa saat ini kondisi stok masih aman.
Ia pun berharap masyarakat tidak khawatir terkait isu kelangkaan Pertalite.
"Jangan khawatir masyarakat, kunci utama itu tidak panik. BBM selalu tersedia setiap saat, mau itu malam, siang, pagi, masih tersedia terus. Stok Pertalite aman, kami tambah sampai 18 persen, pasti barangnya dapat," jelas Taufik.
Dalam kesempatan tersebut, Taufik menjelaskan bahwa pihak Pertamina akan menambah stok Pertalite sekitar 10 sampai 18 persen untuk setiap SPBU di Jawa Tengah (Jateng) dan DIY.
Baca juga: Pertamina Antisipasi Lonjakan Wisatawan, Stok Pertalite di SPBU Jateng-DIY Ditambah hingga 18 Persen
Penambahan stok tersebut sebagai upaya antisipasi lonjakan konsumsi Pertalite pada masa libur sekolah beberapa waktu mendatang.
"Kami mengantisipasi adanya peningkatan konsumsi (Pertalite) jelang libur sekolah dengan menambah stok Pertalite di seluruh SPBU hingga 18 persen. Dan ini kami evaluasi terus setiap harinya dengan SPBU, tren peningkatan konsumsinya seperti apa, dan hal-hal seperti apa yang dilakukan SPBU," katanya.
Selain penambahan stok, Taufik juga mengatakan pihaknya akan menambah petugas marshal untuk mengatur antrean di setiap SPBU nantinya.
Dalam mengatur antrean tersebut, Pertamina berencana menggandeng kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub) setempat.
"Di Solo dan Semarang menjadi tujuan libur sekolah, tidak terlalu banyak skema seperti itu karena driveway mesin pompa dengan jalan lumayan jauh atau luas, pengaturan situasional sesuai karakter SPBU. Sementara di Jogja jalannya sempit, didatangi pengunjung luar kota banyak, SPBU-nya kecil. Kami antisipasi dengan kerja sama dengan Dishub dan Ditlantas supaya konsumen aman dan nyaman," sebutnya.
Saat disinggung apakah terjadi kenaikan jumlah pendaftar barcode penerima Pertalite, Taufik mengatakan belum ada kenaikan secara signifikan. Namun, dia menegaskan kendaraan atas nama instansi dan perusahaan tetap dianjurkan menggunakan Pertamax.
"Beberapa waktu terakhir sudah ada yang menanyakan, tapi kami sampaikan kalau atas nama instansi atau perusahaan dianjurkan masih menggunakan Pertamax. Untuk instansi tidak bisa didaftarkan. Tapi untuk pengguna kendaraan umum, kami belum memantau adanya peningkatan pendaftar. Saat ini di SPBU dan sistem 135 masih landai, belum ada pergeseran terlalu serius," pungkasnya. (*)