TRIBUNGORONTALO.COM – Hamparan eceng gondok kembali menutupi akses menuju Danau Limboto Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Kondisi tersebut dikeluhkan para nelayan karena menghambat aktivitas melaut dan berdampak langsung terhadap pendapatan mereka.
Nelayan Desa Pentadio Barat Kecamatan Telaga Biru, Haris Hamza (38), mengatakan pertumbuhan eceng gondok kali ini berlangsung sangat cepat hingga menutup jalur keluar masuk perahu.
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung lebih dari satu bulan.
"Sudah lebih dari satu bulan. Pertumbuhan eceng gondok ini cepat sekali sehingga memang perlu perhatian khusus dari pemerintah," kata Haris saat diwawancarai, Jumat (19/6/2026) sore di lokasi.
Lebih lanjut, Haris menjelaskan, persoalan tersebut bukan pertama kali terjadi.
Dalam setahun terakhir, hamparan eceng gondok sudah empat kali menutup akses menuju danau.
Ia menilai penanganan yang dilakukan selama ini masih bersifat sementara karena tidak lama setelah dibersihkan, tumbuhan air tersebut kembali memenuhi permukaan danau.
Akibatnya, sebagian nelayan kesulitan menurunkan perahu, bahkan ada yang memilih mengangkat perahunya ke daratan.
"Kalau cuma dibuka begitu saja, cepat sekali tumbuh lagi. Ada nelayan yang sudah mengangkat perahunya ke darat," ujarnya.
Menurut Haris, upaya pembersihan sempat mendapat bantuan dari Balai Sungai yang menyediakan satu unit alat pembersih eceng gondok.
Baca juga: Rizky Safira, Gadis Asal Bogor Suarakan Peran Gen Z Majukan Pangan Bangsa di PENAS Gorontalo
Namun, alat tersebut kini mengalami kerusakan dan belum kembali beroperasi.
"Balai Sungai sudah pernah membantu dengan menyediakan alat, tetapi sekarang alatnya rusak dan masih menunggu perbaikan," katanya.
Selain menghambat akses, keberadaan eceng gondok juga berdampak pada hasil tangkapan ikan para nelayan.
Lanjut Haris menuturkan pendapatan yang diperoleh saat ini jauh menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Dalam satu kali melaut, penghasilan nelayan berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Padahal sebelumnya pendapatan bisa mencapai Rp200 ribu per hari.
"Kalau sekarang tidak menentu. Kadang Rp50 ribu, paling tinggi Rp100 ribu. Dulu masih bisa sampai Rp200 ribuan," tuturnya.
Sementara itu, nelayan lainnya, Lukman Kahilina (46), mengatakan keberadaan eceng gondok memang tidak merusak perahu, tetapi membuat perjalanan menuju lokasi penangkapan ikan menjadi lebih sulit.
Menurutnya, perahu sering terjebak di antara hamparan tumbuhan air sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai perairan terbuka.
Baca juga: Rizky Safira, Gadis Asal Bogor Suarakan Peran Gen Z Majukan Pangan Bangsa di PENAS Gorontalo
"Kerusakan perahu memang tidak ada, tetapi sangat sulit menembus eceng gondok. Perjalanan menjadi lebih lama," ungkap Lukman.
Dirinya bilang kondisi tersebut membuat nelayan harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh.
Meski situasi semakin sulit, sebagian besar nelayan masih bertahan menjalani profesi tersebut karena belum memiliki pekerjaan pengganti.
Keduanya berharap pemerintah dapat lebih serius menangani persoalan eceng gondok di Danau Limboto.
Sebab, jika dibiarkan terus menerus, aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari danau akan semakin terdampak.
"Harapannya pemerintah lebih fokus menangani eceng gondok ini supaya aktivitas nelayan bisa kembali normal," pungkas Haris.
Pantauan Tribun Gorontalo siang itu terdapat beberapa perahu yang sudah terjebak oleh eceng gondok, terlihat sorea itu ada dua perahu di bagian pinggir danau.
Selain itu terdapat dua alat berat yang diketahui memamg sudah tidak beroperasi.
Selain itu hamparan eceng gondok dari sisi timur hingga barat sangat terlihat. Selain itu bau busuk dari lumpur hasil galian.
Selain itu terdapat dua excavator di bagian ujung yang mengerukan danau.
Terdapat jalur untuk perahu yang dikerjakan masyarakat namun jalur itu belum sepenuhnya selesai.
Diketahui Danau Limboto merupakan tempat mencari nafkah oleh warga sekitar sehingga ketika ada eceng gondok membuat pekerjaan mereka terhenti. (*/Jefri)