TRIBUNJABAR.ID, BOGOR - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau langsung proyek rehabilitasi dan renovasi di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Bogor.
Kunjungan kerja ini bertujuan untuk memastikan kualitas dan percepatan penyelesaian fasilitas pendidikan penunjang belajar mengajar.
Hadir pula pada kesempatan tersebut antara lain Wali Kota Bogor saat ini adalah Dedie Abdu Rachim dan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Dudu Rohman.
Dalam peninjauannya, Menko AHY mengungkapkan bahwa proyek renovasi sekolah tersebut sudah hampir rampung sepenuhnya.
Pembangunan saat ini telah mencapai target 95 persen, dan sisa pengerjaan minor akan dituntaskan dalam waktu dekat.
Ia juga menilai ada perubahan signifikan usai dilakukan rehabilitasi dan renovasi yakni mulai dari area kelas, meja, kursi belajar, serta estetika lingkungan sekolah kini jauh lebih layak dan asri dibanding kondisi sebelum renovasi.
Pemerintah berharap perbaikan total infrastruktur ini dapat memberikan dampak psikologis positif bagi seluruh warga sekolah.
AHY menegaskan bahwa kenyamanan fasilitas adalah kunci utama dalam mendukung konsentrasi belajar.
"Saya melihat perbedaan sebelum dilakukan rehabilitasi dan renovasi, dan sesudah dilakukan. Fasilitas semakin baik, lingkungan makin asri, termasuk meja dan kursi belajar juga sudah bagus," ujar AHY dalam sambutannya.
Ia juga mengatakan, perbaikan ini diharapkan mampu memicu motivasi para siswa untuk lebih giat mendalami ilmu umum maupun ilmu agama Islam.
Pemerintah melalui Kementerian PU dan Kementerian Agama tengah menggenjot percepatan rehabilitasi dan renovasi 1.367 madrasah secara nasional.
Program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini memastikan fasilitas pendidikan lebih aman, bersih, dan asri untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mencegah terulangnya insiden robohnya bangunan sekolah
Menurut Menko AHY, Pemerintah terus bergerak cepat merealisasikan program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan.
Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 Tahun 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran hampir Rp4 triliun untuk melakukan rehabilitasi, renovasi, dan pembangunan infrastruktur di 1.367 madrasah di seluruh Indonesia.
Langkah masif ini diambil sebagai respons cepat dan konkret pemerintah terhadap insiden tragis robohnya bangunan pondok pesantren di Sidoarjo yang menelan korban jiwa. Pemerintah menegaskan bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di masa depan.
Semangat utama dari program ini adalah membangun kembali fasilitas pendidikan agar lebih kokoh, lebih baik, dan memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap.
Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang berkolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag), renovasi ini menyasar seluruh tingkatan pendidikan di bawah naungan Kemenag, mulai dari PAUD, Madrasah Ibtidaiyah (MI/SD), hingga madrasah tingkat menengah.
Di wilayah Jawa Barat sendiri, terdapat 127 madrasah yang masuk dalam daftar renovasi, termasuk 15 sekolah tingkat dasar di Kabupaten Bogor yang kini telah selesai diperbaiki.
"Diharapkan, dengan lingkungan baru yang nyaman ini, para guru semakin bersemangat dalam mengajar. Begitu pula dengan anak-anak yang diharapkan dapat bersekolah dengan baik serta lebih termotivasi untuk menimba ilmu, baik pengetahuan umum maupun agama Islam," Katanya.
Program yang menjadi bagian dari Hasil Terbaik Cepat kabinet Presiden Prabowo ini dibagi ke dalam beberapa tahapan pelaksanaan:
Tahap Pertama (2025): Sebanyak 548 madrasah dikerjakan melalui skema Single Year Contract (kontrak tahun tunggal) dengan total anggaran mencapai Rp1,3 triliun.
Tahap Kedua (Khusus Wilayah): Skema Single Year Contract juga diterapkan di Provinsi Kalimantan Barat untuk 13 madrasah dengan anggaran sekitar Rp60 miliar.
Tahap Multi-Tahun (2025–2026): Ini merupakan porsi terbesar yang mencakup 836 madrasah menggunakan skema Multi Years Contract.
Saat ini, progresnya secara umum telah mencapai 62 persen dengan serapan anggaran sebesar Rp2,35 triliun.
Program perbaikan infrastruktur ini dinilai memiliki urgensi yang sangat tinggi.
Selain demi menjamin keselamatan fisik siswa di lingkungan sekolah, renovasi massal ini merupakan pilar penting pemerintah dalam mengejar target nasional, yaitu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia melalui jalur pendidikan yang berkualitas dan aman.
"Pembenahan menyeluruh ini diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia melalui penyediaan infrastruktur pendidikan yang lebih kokoh, lengkap, dan merata," pungkasnya.