TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kenaikan harga bahan pokok menekan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner.
UMKM kuliner kini berada di persimpangan jalan.
Menekan margin keuntungan ataukah menyesuaikan harga produk.
Pilihan ini tentu memiliki konsekuensi berbeda. Saat margin keuntungan ditekan, pelaku usaha harus menghadapi semakin sempitnya ruang memenuhi kebutuhan operasional hingga kebutuhan rumah tangga.
Namun ketika harga jual dinaikkan atau porsi disesuaikan, risiko kehilangan pelanggan juga tidak bisa dihindari.
Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, pelaku usaha kuliner harus berhitung lebih cermat.
Baca juga: Inflasi 3,08 Persen Tekan UMKM di 2026, Ekonom Unismuh Makassar: Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Kenaikan harga bahan pokok membuat biaya produksi terus meningkat.
Sementara tidak semua konsumen mampu menerima penyesuaian harga dalam waktu bersamaan.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sulsel, Andi Eka Prasetya, memahami kenaikan harga bahan pokok menjadi tantangan terberat bagi UMKM kuliner untuk bertahan.
Di tengah kondisi tersebut, upaya untuk naik kelas menjadi semakin sulit.
Bahkan bagi sebagian pelaku usaha, menjaga usahanya tetap beroperasi setiap hari sudah menjadi perjuangan tersendiri.
Menurutnya, akses pembiayaan yang terjangkau menjadi salah satu instrumen penting menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya produksi terus meningkat.
"Kami terus mendorong dan memfasilitasi UMKM untuk memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan oleh perbankan dan lembaga penyalur yang ditunjuk pemerintah," kata Andi Eka Prasetya kepada Tribun-Timur.com, pada Jumat (19/6/2026) malam.
"KUR merupakan program pembiayaan pemerintah dengan suku bunga yang relatif rendah dan persyaratan yang lebih mudah dibandingkan dengan kredit komersial, sehingga menjadi salah satu solusi bagi UMKM yang membutuhkan tambahan modal kerja maupun investasi usaha," lanjutnya.
Menurutnya, stimulus ekonomi tidak hanya diberikan melalui pembiayaan. Pemerintah juga berupaya memperkuat daya saing UMKM melalui berbagai program pendampingan dan fasilitasi usaha.
Langkah ini dinilai penting agar pelaku usaha memiliki peluang berkembang di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
"Salah satunya adalah fasilitasi sertifikasi halal secara gratis, baik melalui skema self declare maupun skema regular. Program ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi UMKM karena meningkatkan legalitas produk, memperkuat kepercayaan konsumen, memperluas akses pasar, serta menjadi salah satu persyaratan untuk masuk ke ritel modern maupun peluang ekspor,"kata Andi Eka.
Sertifikasi halal kini tidak hanya menjadi kebutuhan bagi konsumen muslim, lebih jauh penting dalam meningkatkan kredibilitas produk.
Dengan legalitas, pelaku UMKM memiliki peluang lebih besar memperluas jaringan pemasaran hingga menembus pasar yang lebih luas.
"Ada juga bantuan bagi usaha produktif berupa bantuan kemasan dan bantuan peralatan kepada UMKM yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku," jelasnya
Dukungan dalam bentuk peralatan dan kemasan juga dinilai mampu meningkatkan kualitas produk UMKM.
Kemasan menarik dapat meningkatkan daya tarik produk di pasar, sementara peralatan produksi memadai berpotensi meningkatkan kapasitas usaha.
"Ini bisa diakses dengan mengajukan proposal ke kami," tegasnya.
Bantuan ini pun disebutnya menjadi pendekatan yang bisa dimanfaatkan pelaku UMKM khususnya kuliner.
Naiknya harga bahan pokok ini sudah berdampak pada harga warung nasi padang di Makassar dan Gowa.
Sejumlah pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual demi menjaga margin keuntungan.
Beberapa faktor naiknya harga seperti lonjakan harga bahan pokok, penyesuaian harga BBM, meroketnya harga kemasan plastik, hingga efek domino pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Di jantung Kota Makassar, para pemilik rumah makan mulai menerapkan strategi harga baru.
Seperti Rumah Makan Padang di Jl Cendrawasih Makassar.
Skema tarif dinamis mulai diberlakukan berdasarkan jenis protein.
Harga lauk yang masih stabil Rp20 ribu untuk ayam goreng, telur, dan ikan.
Sedangkan lauk untuk ayam bakar dan rendang naik Rp2 ribu, dari Rp20 ribu menjadi Rp22 ribu.
Kenaikan serupa juga merata di kawasan pendidikan dan pemukiman seperti Jalan Daeng Tata, Makassar.
Rumah makan di area ini rata-rata naik dari yang semula Rp15 ribu menjadi Rp17 ribu per porsi.
Rahman, seorang pencinta Nasi Padang, mengaku titik-titik langganannya kini kompak mematok harga baru.
"Di jalan poros Pallangga dan Jalan Pelita Taborong Kabupaten Gowa itu langgananku. Seminggu bisa dua sampai tiga kali beli, dan harganya memang sudah naik jadi Rp17.000 semua di dua lokasi itu," keluh Rahman kepada Tribun-Timur.com, Jumat (19/6/2026).
Naiknya harga bahan pokok ini pun harus berdampak pada harga makanan.
Laporan wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz