Dampak Kenaikan BBM, Penjualan Pertamax Eceran di Mimika Meningkat saat Malam Hari
Paul Manahara Tambunan June 19, 2026 09:27 PM

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Feronike Rumere

TRIBUN-PAPUA.COM, MIMIKA – Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional mulai mengubah pola konsumsi dan perilaku belanja masyarakat, termasuk di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Menariknya, kondisi ini justru membawa berkah tersendiri bagi para pedagang BBM eceran, khususnya untuk penjualan jenis Pertamax pada malam hari.

Salah satu penjual BBM eceran di kawasan Jalan Budi Utomo Ujung, Mimika, Andi menceritakan bagaimana dagangannya kini justru kerap dicari warga saat larut malam.

Andi menjual Pertalite eceran dengan harga Rp 20.000 per botol ukuran besar (1.500 ml), atau Rp 10.000 untuk setengah botol.

Baca juga: Pertamax di Jayawijaya Naik Rp16.500, BBM Subsidi Tetap Aman

Sementara untuk Pertamax eceran dibanderol seharga Rp 25.000 per botol.

Meski harga Pertamax eceran terbilang cukup tinggi, permintaannya justru melonjak tajam ketika matahari mulai tenggelam.

Fenomena ini terjadi saat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat sudah menutup operasionalnya.

"Kalau malam banyak karyawan yang baru pulang kerja, jadi mau tidak mau mereka beli di eceran," ujar Andi kepada Tribun-PapuaTengah.com, Jumat (19/6/2026).

Imbas Pembatasan Pertalite Subsidi

Andi mengaku, sebelum adanya penyesuaian harga terbaru, Pertamax eceran merupakan produk yang paling tidak dilirik oleh pengendara yang melintas.

Namun kini, kondisinya berbalik 180 derajat.

"Sebelumnya Pertamax kurang laku. Tapi sekarang tetap ada yang beli, apalagi malam hari saat pom bensin sudah tutup, jadi mau tidak mau harus beli," ujarnya.

Faktor lain yang memicu beralihnya konsumen ke Pertamax eceran adalah ketatnya pembatasan pembelian Pertalite di SPBU karena statusnya sebagai BBM bersubsidi.

Baca juga: Nasib Sopir Truk di Abepura: Sudah Antre Solar Berjam-jam, Lewat 120 Menit Langsung Disuruh Keluar

Kondisi ini membuat stok Pertalite di tingkat pengecer sangat terbatas dan cepat habis.

"Kalau beli Pertalite ya dibatasi. Saya biasanya cuma bisa beli 5 liter (di SPBU) untuk dipindahkan ke botol, karena Pertalite ini juga kan subsidi," kata Andi.

Mmeski peminat Pertamax eceran merangkak naik, Andi mengaku tidak bisa menyetok barang dalam jumlah banyak karena keterbatasan modal dan pasokan.

Dalam sehari, lapak ecerannya rata-rata hanya mampu menyediakan dan menjual sekitar 10 botol Pertamax sebelum akhirnya dinyatakan habis total.

Kondisi di lapangan ini menjadi potret nyata bagaimana masyarakat di Mimika mulai adaptif secara mandiri, demi menyesuaikan antara kebutuhan mobilitas harian dengan ketersediaan stok BBM di luar jam operasional resmi SPBU.

Sebagai informasi tambahan, harga resmi Pertamax di SPBU saat ini berada di angka Rp 16.650 per liter, sedangkan untuk jenis Pertalite masih bertahan di angka Rp 10.000 per liternya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.