TRIBUNJAKARTA.COM, GROGOL PETAMBURAN - Universitas Trisakti selama ini kerap diidentikkan sebagai "kampus elit" dengan mayoritas mahasiswa dari kalangan menengah ke atas.
Namun, melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax ternyata tetap memukul kehidupan para mahasiswanya.
Bagi sebagian mahasiswa di kampus reformasi ini, kenaikan harga Pertamax sudah berada di titik yang tidak rasional lagi bagi kantong mahasiswa.
Alhasil, demi menghemat pengeluaran, mereka kini rela turun kelas dan ikut berdesakan di jalur antrean Pertalite.
Dampak nyata ini dirasakan langsung oleh Maftuh Amrullah, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Trisakti.
Maftuh meluruskan stigma bahwa seluruh mahasiswa Trisakti bergelimang harta. Nyatanya, cukup banyak mahasiswa yang berkuliah di sana lewat jalur beasiswa, termasuk dirinya.
Sebagai mahasiswa yang mengandalkan sepeda motor untuk mobilitas pulang-pergi ke kampus setiap hari, Maftuh mengaku sangat terbebani dengan situasi saat ini.
""Kalau sekarang tuh beli Pertamax kayak beli barang mahal banget, edan banget gitu. Dulu pas selisih harganya cuma Rp 2.000 (dengan Pertalite), ya saya aman-aman aja beli Pertamax.
Tapi kalau sekarang selisihnya sampai Rp 6.000 sama Pertalite ya nyesek banget," ujar Maftuh saat ditemui di lokasi unjuk rasa di depan DPR RI, Jumat (19/6/2026).
Akibat mahalnya harga Pertamax, Maftuh terpaksa beralih ke Pertalite.
Namun, migrasi besar-besaran pengguna kendaraan ke Pertalite memicu persoalan baru yakni kelangkaan dan antrean yang mengular panjang.
"Sekarang nyari Pertalite susah, cepat habis. Pernah saya mau beli malam-malam jam 12 atau jam 1 malam, yang biasanya SPBU sudah sepi, sekarang jam segitu masih ramai antrean.
Malah beberapa kali saya mau beli, Pertalite-nya sudah habis," keluhnya.
Maftuh menegaskan, dirinya kini tidak akan sudi menyentuh Pertamax kecuali dalam kondisi yang benar-benar darurat.
"Saya enggak bakal beli Pertamax kalau misalnya bensinnya enggak habis banget. Terpaksa," katanya.
Hal senada disampaikan Adit, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Trisakti.
Sebagai mahasiswa yang aktif bermobilitas menggunakan kendaraan pribadi, kebijakan kenaikan harga BBM ini menjadi pukulan paling telak yang ia rasakan dari kondisi ekonomi saat ini.
Menurut Adit, harga Pertamax yang dipatok pemerintah saat ini sebesar Rp 16.250 perliter sudah tidak bersahabat dan melampaui batas kemampuan finansial rata-rata mahasiswa.
"Kenaikan BBM ini yang paling terasa karena mobilitas kita pakai kendaraan pribadi. Untuk mengisi BBM Pertamax sekarang harganya sangat mahal dan tidak tidak logis buat kami sebagai mahasiswa," kata Adit.
Ia pun mempertanyakan kebijakan pemerintah yang dirasa justru mempersulit ruang gerak masyarakar.
"Gimana kami mau support negara kami sendiri kalau dibatasi dengan menaik-naiknya harga BBM itu sendiri?" tuturnya.
Sama seperti Maftuh, Adit yang biasanya setia mengisi kendaraannya dengan Pertamax, kini memilih realistis dengan mengisi Pertalite kendati antre panjang.
"Iya, biasanya saya pakai Pertamax. Tapi sekarang saya lebih rela mengantre Pertalite meskipun antreannya panjang banget," pungkas Adit.
Dalam aksi hari ini, mahasiswa Universitas Trisakti membawa tiga tuntutan utama mencakup isu ekonomi, evaluasi kinerja pemerintah, hingga supremasi sipil.
Di mana salah satu tuntutannya yakni meminta pemerintah menurunkan harga BBM nonsubsidi dan memastikan stok BBM subsidi untuk menghindari kelangkaan.