TRIBUNJATENG.COM - Aksi kontroversial Rahadian Saputra yang mengenakan kebaya saat mengikuti prosesi sakral Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, sempat memicu kegaduhan di media sosial.
Meski sempat bersikeras pakaian tidak memiliki batasan gender, Rahadian akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka setelah tindakannya dianggap melanggar aturan adat yang ketat.
Pihak Pura Mangkunegaran sendiri menegaskan tidak pernah memberikan izin atau dispensasi bagi siapa pun untuk menyimpang dari panduan busana resmi yang telah ditetapkan demi menjaga kesakralan ritual.
Baca juga: Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran Sedot Ribuan Warga, Dorong Wisata dan Ekonomi Surakarta
Rahadian Saputra melalui akun Instagram-nya mengunggah dirinya bersama sejumlah wanita mengenakan kebaya.
Salah satu akun, diandrapriscilla, berkomentar, “Maaf kak, itu temannya cowok kok pakai kebaya?”
Lalu akun lain, paola.serena, menjawab, “Karena yang punya acara mengizinkan,” tulisnya.
Setelah itu, Rahadian sendiri menjawab, “Karena pakaian tidak punya jenis kelamin, kawan.”
Minta Maaf
Kini Rahadian menyampaikan permintaan maaf yang ia unggal melalui Instagram pada Jumat (19/6/2026).
Rahadian mengaku salah karena telah menyalahi aturan berpakaian ketika menghadiri acara sakral.
"Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita dalam acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu," ungkapnya.
Rahadian menyebut keputusan memakai kebaya itu diambil olehnya sendiri.
Ia lantas meminta maaf kepada masyarakat, terkhusus kepada keluarga Pura Mangkunegaran.
"Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri, oleh karena itu tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya ada pada saya.
Saya menyadari tindakan saya tersebut menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman terhadap nilai adat dan budaya.
Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Mangkunegaran, para budayawan, masyarakat Jawa dan masyarakat Indonesia yang merasa kecewa dan tersinggung terhadap tindakan saya," ungkapnya.
Klarifikasi Mangkunegaran
Penampilan seorang pria yang mengenakan kebaya dalam prosesi Kirab Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, mendadak viral dan memicu perbincangan hangat di media sosial.
Sosok pria tersebut diketahui bernama Rahadian M. Saputra.
Namanya mencuat setelah unggahan di akun Instagram pribadinya memperlihatkan dirinya berpose bersama sejumlah perempuan yang juga mengenakan kebaya dalam rangkaian acara tersebut.
Unggahan itu kemudian menuai beragam komentar dari warganet. Salah satu akun, diandrapriscilla, bahkan mempertanyakan penampilan tersebut.
"Maaf kak, itu temannya cowok kok pakai kebaya?" tulisnya.
Komentar tersebut kemudian ditanggapi oleh akun lain, paola.serena, yang memberikan penjelasan terkait keikutsertaan Rahadian dalam busana kebaya.
"Karena yang punya acara mengizinkan," tulisnya.
Tak berhenti di situ, Rahadian M. Saputra sendiri turut memberikan tanggapan yang langsung menjadi sorotan publik. Ia menegaskan pandangannya soal kebebasan dalam berpakaian.
"Karena pakaian tidak punya jenis kelamin, kawan," jawabnya.
Namun, pernyataan dan penampilannya itu kembali menjadi bahan perbincangan, mengingat pihak Pura Mangkunegaran sebenarnya telah menetapkan aturan ketat terkait busana yang dikenakan dalam prosesi Kirab Suro.
Dalam ketentuan tersebut, panitia telah mengatur secara detail mulai dari jenis pakaian, warna, hingga kelengkapan busana yang wajib dipatuhi oleh seluruh peserta, baik laki-laki maupun perempuan.
Aturan tersebut dibuat sebagai bagian dari upaya menjaga kesakralan dan keseragaman dalam pelaksanaan ritual adat yang menjadi bagian penting dari tradisi Malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran.
Terkait ini, Pengageng Kawedanan Panti Budaya GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo melalui keterangan tertulis menandaskan tak pernah mengizinkan pakaian yang tak sesuai ketentuan tersebut.
“Mangkunegaran telah mengeluarkan panduan ageman untuk ritual adat 1 Sura, panitia penyelenggara 1 Sura Be 1960 tidak pernah memberikan izin, dispensasi, ataupun perlakuan khusus kepada pihak mana pun,” ungkap GRAj Ancillasura, Kamis (18/6/2026).
Ia pun meminta agar semua pihak bisa memaknai peringatan Tahun Baru Jawa ini sebagai momentum berefleksi diri.
Ia berharap nilai budaya yang dipegang teguh bisa terus dilestarikan.
Baca juga: Kirab 1 Suro Keraton Solo Sempat Tegang, Terjadi Adu Mulut antara Kubu Purbaya dan Mangkubumi
“Semoga semangat refleksi, ketertiban, dan saling menghormati yang hadir dalam peringatan Malam 1 Sura Be 1960 dapat terus menjadi bagian dari kehidupan bersama serta memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi,” jelasnya.
Ia pun berterima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi dalam peringatan ini.
“Mangkunegaran mengucapkan terima kasih atas antusiasme masyarakat yang begitu besar dalam mengikuti peringatan Malam 1 Sura Be 1960,” tuturnya. (*)