TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di sebuah kios sewaan berukuran 4x5 meter yang tersempil di antara gang-gang sempit kawasan padat penduduk Kembangan Utara, Jakarta Barat, kepulan asap tipis membawa aroma cabai balado yang kuat, manis, sekaligus menggigit.
Di kios kecil sederhana itulah, sekitar 200 meter dari pemukiman warga dan rumah sang pemilik, sebuah transformasi ekonomi mikro sedang ditulis.
Di dalam ruangan yang didominasi oleh dinding triplek itu, Yani, seorang perempuan paruh baya sibuk membolak-balik potongan kentang ke dalam adonan cabai di dalam wajan, sebelum dipanggang di dalam oven.
Di tengah-tengah kesibukan itu, duduk Hotifah. Perempuan berusia 46 tahun yang lebih akrab disapa Ipeh ini adalah nakhoda sekaligus otak di balik merek dagang Maipeh Food.
Mengenakan pakaian santai serba hitam, wajahnya tampak rileks saat mengawasi proses pencampuran kentang goreng renyah dengan adonan sambal cabai yang masih mengepul.
Suasana kerja pagi itu terasa hangat, cair, dan dipenuhi obrolan ringan khas ibu-ibu paruh baya.
Sebuah kontras yang tajam jika melihat produk yang mereka hasilkan kini telah mejeng gagah di puluhan etalase modern minimarket Indomaret di seantero Jakarta Barat.
Bagi Ipeh, aroma cabai dan tumpukan karung kentang ini adalah "nyawa kedua".
Empat tahun lalu, tepatnya pada tahun 2022, hidup Ipeh berada di titik nadir. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia menyisakan ekor badai berupa gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.
Ipeh, yang telah menghabiskan belasan tahun bekerja di bagian keuangan (finance) di sebuah perusahaan kontraktor dan pengelolaan apartemen di kawasan Cengkareng, mendapati posisinya dipangkas.
Situasi kian mencekam ketika sang suami, yang bekerja sebagai sopir, juga menerima surat pemecatan yang sama hanya dalam hitungan bulan.
Dua tulang punggung keluarga patah sekaligus dalam waktu yang hampir berdekatan.
"Saya kena PHK, suami juga kena PHK. Berbarengan, cuma beda beberapa bulan saja. Duluan suami yang kena," kenang Ipeh sambil tertawa pahit, tatapannya menerawang mengingat masa-masa ketika dapur rumahnya terancam berhenti mengepul.
Dengan latar belakang pendidikan yang hanya sebatas lulusan SMA, mencari pekerjaan baru di usia kepala empat di tengah situasi pascapandemi adalah sebuah kemustahilan yang nyaris nyata.
Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, trauma PHK itu justru memicu insting bertahan hidup yang kuat.
Ipeh mulai menggali memori masa kecilnya. Orang tuanya dulu adalah pemilik sebuah Warung Tegal (Warteg) di kawasan Kapuk Poglar, Pesing, Jakarta Barat.
Warteg tersebut sempat menjadi tumpuan hidup keluarga sebelum akhirnya gulung tikar saat Ipeh duduk di bangku SMP karena pabrik-pabrik di kawasan industri tersebut serentak direlokasi.
"Dari situ saya berpikir, kalau saya mau bikin warteg lagi sekarang, kayaknya tidak bakal berjalan deh. Warteg itu rumit. Keluarga saya masih banyak yang punya warteg, dan saya tahu betul kerumitannya. Kita harus punya banyak orang yang bantu, waktu tidur tidak bakal terkontrol, dan anak kurang bisa dilihatin," tutur Ipeh logis.
Dari analisis sederhana itulah, muncul sebuah ide brilian: mengapa tidak mengambil salah satu menu paling ikonik dan tahan lama dari etalase warteg, lalu mengemasnya menjadi produk premium yang bisa dinikmati di seluruh penjuru Indonesia?
Pilihan itu jatuh pada kentang mustofa, sebuah olahan kentang berbentuk korek api yang digoreng kering dan dibalut bumbu balado.
Kuliner tradisional yang akrab di lidah semua kalangan, namun jarang dikelola dengan manajemen modern.
Baca juga: Dari Dapur Kontrakan ke Rak Swalayan, Lompatan Cuan Kebab Endul Berkat Rumah BUMN BRI
Perjalanan Maipeh Food tidak dimulai di atas karpet merah permodalan yang megah.
Duka lara PHK itu dihadapi Ipeh dengan modal awal yang sangat bersahaja, yakni hanya Rp134.000 pada tahun 2022.
Uang seadanya itu dibelikan beberapa kilogram kentang, cabai, minyak goreng, dan kemasan plastik mika (pouch) bening biasa.
Pada fase awal ini, produk Ipeh adalah potret klasik dari mayoritas UMKM pemula.
Produknya cepat berminyak, teksturnya mudah layu, dan hanya mampu bertahan maksimal satu hingga dua bulan sebelum akhirnya berubah tengik.
Ipeh, yang secara jujur mengakui bahwa dirinya sebenarnya tidak suka memasak, dan bahkan untuk konsumsi sehari-hari keluarganya lebih sering membeli, dipaksa oleh keadaan untuk melakukan eksperimen mandiri di dapur rumahnya.
Langkah konkret pemasaran pertamanya dimulai ketika seorang teman mengajaknya untuk ikut serta dalam bazar yang diadakan oleh Jakpreneur di area parkiran Puri, Jakarta Barat.
Dengan modal keberanian, Ipeh memajang produk kentang mustofanya yang saat itu masih mengusung merek lawas, Pak Mustofa 89.
"Waktu pertama kali ikut bazar, alhamdulillah habis. Peminatnya banyak. Dari situ saya makin semangat jualan. Oh, ternyata produk saya diminati dan dihargai sama orang lain," katanya dengan mata berbinar.
Sejak saat itu, Ipeh mulai memanfaatkan status WhatsApp untuk menjaring pembeli lokal dan memberanikan diri merambah ekosistem penjualan daring.
Namun, Ipeh segera membentur dinding pembatas. Penjualan lewat WhatsApp dan bazar ke bazar memiliki batas jenuh.
Produknya sulit menembus pasar yang lebih luas karena tampilan kemasan yang amatir dan nama merek yang kurang menjual.
Konsumen cenderung ragu dengan ketahanan pangan yang dikemas seadanya.
Tahun 2023 menjadi momentum transformasi total bagi Ipeh. Melalui jejaring pertemanan sesama pelaku usaha mikro, ia diperkenalkan dengan Rumah BUMN BRI Jakarta.
Masuk ke dalam ekosistem pembinaan bank pelat merah ini membuka cakrawala baru bagi Ipeh mengenai bagaimana sebuah bisnis harus dikelola.
Di Rumah BUMN BRI, Ipeh tidak sekadar diajarkan cara memproduksi barang, melainkan diasah kemampuan nonteknisnya (soft skills).
"Kami belajar tentang penggunaan AI (Artificial Intelligence) untuk efisiensi bisnis, akuntansi dasar, manajemen keuangan, hingga cara membuat konten digital untuk promosi," urai Ipeh.
Bagi seorang ibu rumah tangga yang gagap teknologi, kelas-kelas digital ini awalnya terasa asing. Namun, kurikulum yang aplikatif perlahan meruntuhkan rasa malunya.
"Saya dulu itu malas banget bikin konten. Mau kelihatan di depan kamera saja malu. Tapi di (Rumah BUMN) BRI kami dibimbing, diajarkan membuat konten sederhana sehari satu konten. Hasilnya? Alhamdulillah, saya malah sempat dapat Juara 1 untuk pembuatan konten, dan di program BRIncubator BRI dapat Juara 2. Ilmu dari Rumah BUMN BRI itu sangat bermanfaat dan masih terpakai sampai sekarang," tambahnya.
Berbekal ilmu dari kelas kurasi dan manajemen merek tersebut, Ipeh mengambil keputusan ekstrem yang berani pada pertengahan 2023: melakukan rebranding total.
Ia menanggalkan nama "Pak Mustofa 89" yang dirasa kaku dan tidak menarik secara visual. Menggunakan nama panggilannya sendiri, lahirlah merek Maipeh Food.
Tidak tanggung-tanggung, Ipeh nekat menginvestasikan modal hingga Rp10 juta—sebuah nominal yang sangat besar bagi pelaku usaha mikro saat itu—untuk merombak desain kemasan, logo, dan aspek legalitas produknya.
Kemasan mika bening ditinggalkan dan diganti dengan standing pouch modern bermaterial full aluminium foil tebal tanpa lapisan kertas.
Keputusan itu terbukti menjadi katalisator utama. Tampilan baru ini langsung mendongkrak nilai jual produk di mata konsumen.
Begitu selesai rebranding, lonjakan omzet yang terjadi bukan lagi merangkak perlahan, melainkan langsung melejit pesat.
Semua orang, instansi pemerintahan, hingga distributor ritel mulai melirik potensi besar Maipeh Food.
Baca juga: Kisah Sebatang Duri Emas dari Jelambar: Dirawat Bak Anak, Dibesarkan Rumah BUMN BRI
Di dalam kios produksinya, Ipeh menunjukkan rahasia mengapa kentang mustofa buatannya kini mampu bertahan hingga satu tahun penuh tanpa menggunakan bahan pengawet kimia sedikit pun.
Rahasia tersebut rupanya terletak pada kombinasi disiplin pemilihan bahan baku, metode pengolahan yang presisi, dan teknologi pengemasan modern—yang sebagian besar formulasinya ia temukan dari hasil diskusi di komunitas binaan Rumah BUMN.
Untuk menjaga standar mutu, Maipeh Food hanya menggunakan Kentang Dieng asli yang dipasok langsung dari Pasar Induk.
Ipeh berkisah bahwa mereka pernah mencoba menggunakan jenis kentang lain karena harganya yang lebih murah di pasaran.
Namun, eksperimen itu gagal total karena teksturnya berbeda jauh dan rasanya kurang memuaskan.
Karyawan yang bertugas menggoreng bahkan langsung mengenali perbedaannya begitu kentang menyentuh minyak panas.
Proses manufaktur skala mikro ini dimulai dari pengupasan dan pemotongan kentang yang kini sudah beralih menggunakan mesin mekanis otomatis, bukan lagi pisau manual.
Setelah dipotong tipis memanjang menyerupai korek api, kentang dicuci bersih hingga kadar patinya berkurang, lalu masuk ke dalam wajan penggorengan yang dijaga ketat suhunya oleh Asih, karyawan bagian penggorengan.
Setelah matang, kentang dimasukkan ke dalam mesin spinner untuk meniriskan minyak sekecil mungkin.
Langkah krusial berikutnya adalah proses pencampuran bumbu balado basah racikan sendiri, yang dilanjutkan dengan tahap pengovenan oleh Yani di bagian oven.
"Fungsi dioven itu krusial sekali. Oven membuat kentang menjadi jauh lebih garing, dan sisa-sisa minyak yang masih menyangkut di bumbu akan luruh ke bawah. Nah, kombinasi antara pengovenan yang pas dan penyegelan kemasan menggunakan sistem injeksi gas nitrogen inilah yang membuat produk kami tahan satu tahun," kata Ipeh.
"Kami mengeluarkan oksigen dari dalam kemasan dan menggantinya dengan nitrogen, sehingga oksidasi yang bikin bau tengik bisa dicegah," jelas Ipeh secara ilmiah.
Meningkatnya kapasitas produksi dari yang dulunya hanya mengolah 5 kilogram kentang per batch, kini menjadi 100 kilogram sekali produksi, membawa dampak sosial yang nyata bagi ekosistem gang sempit di Kembangan Utara.
Ipeh memilih untuk tidak mencari pekerja dari luar, melainkan memberdayakan ibu-ibu tetangga sekitar rumahnya yang membutuhkan tambahan penghasilan.
Yani, karyawan pertama Maipeh yang setia menemani sejak tahun 2023, menjadi saksi hidup pertumbuhan usaha ini.
Sembari mengaduk kentang, Yani menceritakan bagaimana kontrasnya pekerjaan dulu dan sekarang.
"Saya ikut di sini (Maipeh Food) dari zaman semuanya masih manual, belum punya mesin pengupas dan pemotong seperti sekarang. Dulu kalau mengupas 50 kilo saja rasanya sudah mau pingsan, dari pagi sampai magrib baru selesai karena pakai tangan satu-satu. Sekarang 100 kilo cepat sekali karena tinggal masukkan ke mesin," kata Yani dibarengi tawa.
Mengenang cerita itu, Ipeh pun langsung menyahut dengan menyatakan keinginannya membeli mesin molen otomatis untuk membantu mencampur kentang dengan cabai agar tangan Yani tidak pegal.
"Mungkin nanti dari pihak BRI bisa bantu memfasilitasi mesin aduknya," harap Ipeh sembari mengamini kalimatnya sendiri.
Dari setiap 100 kilogram kentang Dieng mentah yang diproses, Maipeh Food mampu memproduksi sekitar 700 pouch ukuran standar 40 gram, yang dijual dengan harga eceran Rp15.000 per pouch.
Dalam sebulan, lini produksi ini mampu memutarkan 2.000 hingga 3.000 pouch kentang mustofa, sebuah lompatan kuantum dari usaha bermodal seratus ribuan di teras rumah.
Baca juga: Sentuhan Magis Sisi: Racik Batik di Atas Keramik, Sukses Mendunia Bersama BRI
Keputusan bisnis paling strategis yang diambil Ipeh terjadi pada awal tahun 2024.
Kala itu, ia menganalisis bahwa kemasan tabung eksklusif Maipeh ukuran 150 gram yang dijual seharga Rp50.000 sangat sukses di pasar suvenir korporat dan instansi pemerintahan.
Terbukti dengan seringnya Ibu Mirdiyanti (istri mantan Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono) memesan ratusan tabung untuk suvenir bagi para pejabat.
Namun, kemasan tabung tidak akan pernah bisa menembus pasar massal seperti ritel modern karena harganya yang terlalu tinggi untuk ukuran camilan harian.
"Saya ngomong ke desainer rebranding saya, 'Tolong buatkan saya kemasan pouch kecil'. Dia sempat bingung karena kemasan tabung sudah bagus dan laku. Tapi saya tegaskan, target pasar saya berbeda. Untuk retail, saya butuh kemasan ekonomis yang perputarannya cepat," cetus Ipeh tajam.
Intuisi bisnis itu terbukti akurat. Pada pertengahan tahun 2024, Indomaret membuka kurasi terbuka untuk produk-produk UMKM lokal di wilayah Jakarta Barat.
Berbekal kemasan pouch 40 gram yang sudah matang secara visual dan memiliki daya tahan satu tahun, Maipeh Food maju ke meja kurasi.
Hasilnya mengejutkan pihak penyelenggara. Di saat pelaku UMKM lain rata-rata hanya diberikan izin uji coba di 20 toko, Maipeh Food langsung dianugerahi akses ke 50 toko sekaligus karena performa manajemen dan kapasitas produksinya dinilai sangat siap.
Jaringan distribusi Maipeh Food kini telah bertransformasi menjadi gurita bisnis skala mikro yang solid.
Sejak resmi masuk pada November 2024, produk ini telah tersebar di 67 titik gerai Indomaret di seluruh wilayah Jakarta Barat, serta memperluas jangkauan grosirnya melalui jaringan Indogrosir yang meliputi area Jakarta hingga Tangerang.
Berdasarkan data penjualan ritel modern tersebut, Maipeh Food secara membanggakan tercatat sebagai salah satu produk UMKM dengan tingkat penjualan paling laris di wilayah Jakarta Barat.
Sayap bisnis Maipeh Food tidak berhenti di batas teritorial nasional.
Melalui kemitraan strategis dengan platform Master Bagasi, kentang mustofa dari gang Kembangan ini secara rutin diekspor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi komunitas diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Kecepatan produksi Ipeh juga membuahkan kepercayaan besar dari mitra korporasi seperti Centong Daily, yang rutin mengontrak Maipeh untuk menyediakan ribuan pouch paket goodie bag sebanyak tiga hingga empat kali setahun, dengan tenggat pengerjaan super kilat.
Keandalan produksi ini juga teruji saat mereka sukses menyuplai kebutuhan pangan kering skala besar untuk Dapur MBG selama bulan suci Ramadan dengan menghabiskan total 300 kilogram kentang mentah per batch produksi.
Bahkan, saat ini Maipeh Food sedang berada di tengah persiapan ekspansi produk yang revolusioner.
Seorang pembeli internasional dari Afrika Selatan memberikan tantangan kepada Ipeh untuk memproduksi varian baru dengan menggunakan bahan dasar singkong, namun dengan bumbu balado khas Maipeh.
Langkah ini diambil karena singkong merupakan makanan pokok di Afrika Selatan, sekaligus sebagai strategi taktis untuk menekan biaya bahan baku kentang yang fluktuatif di pasar global.
Di samping riset singkong tersebut, Ipeh juga bersiap meluncurkan varian keripik tempe pada bulan depan untuk melengkapi portofolio produknya di rak ritel modern.
Keberhasilan luar biasa yang ditunjukkan oleh Maipeh Food merupakan salah satu dari ribuan potret sukses yang lahir dari rahim pembinaan institusional yang terstruktur.
Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta, Jajang Rohmana, menjelaskan bahwa hingga pertengahan tahun 2026 ini, Rumah BUMN BRI telah menaungi, membina, dan mengasuh sedikitnya 11.000 pelaku UMKM yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan Banten.
Jajang menegaskan, filosofi pembinaan di Rumah BUMN BRI telah bergeser dari model bantuan sosial konvensional menjadi model inkubasi bisnis hulu-ke-hilir yang ketat, terintegrasi, dan berorientasi pada hasil.
Rumah BUMN bukan lagi sekadar tempat berkumpul atau ruang seminar seremonial, melainkan sebuah laboratorium produktif yang dirancang untuk mencetak pengusaha lokal agar memiliki daya saing global dan mampu menjadi penopang utama pilar ekonomi nasional.
Pilar utama dari akselerasi kelas UMKM ini terletak pada program unggulan bernama BRIncubator.
Jajang menekankan bahwa BRIncubator memiliki perbedaan fundamental dengan pelatihan biasa yang sifatnya sporadis atau putus setelah satu kali pertemuan.
Program ini merupakan inkubasi bisnis berkelanjutan yang berjalan intensif selama satu hingga dua bulan dengan penerapan kurikulum berjenjang yang dipantau ketat secara kontinyu.
Sistem penyaringan peserta BRIncubator diawali dengan skema seleksi terbuka (open call) yang bisa diakses oleh seluruh pelaku usaha mikro di wilayah kerja terkait.
Setelah data pendaftaran masuk, tim kurator profesional dari Rumah BUMN BRI akan melakukan proses kurasi berlapis guna menyaring peserta yang tidak hanya memiliki produk potensial, melainkan juga menunjukkan komitmen serta mentalitas bertumbuh yang tinggi.
Struktur kurikulum di dalam BRIncubator dirancang secara sistematis dari tingkat paling dasar.
Pada level awal, para peserta dibekali ilmu manajemen keuangan mikro, pemisahan rekening pribadi dan usaha, serta pemenuhan legalitas dasar seperti Nomor Induk Berusaha (NIB).
Memasuki tingkat menengah, fokus pembinaan bergeser pada digitalisasi, pelatihan konten kreator, optimalisasi kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi bisnis, serta transformasi merek dan kemasan.
Kurikulum ini bermuara pada tingkat lanjut, di mana pelaku usaha dipersiapkan secara matang untuk menghadapi kurasi ritel modern, manajemen rantai pasok (supply chain), hingga kesiapan teknis menghadapi pasar ekspor global.
Jajang juga memaparkan bahwa pihaknya sangat memahami dilema terbesar yang dihadapi oleh pelaku usaha mikro di lapangan, yaitu benturan antara waktu untuk belajar dan waktu untuk mencari nafkah.
Bagi pengusaha kecil, menghadiri pelatihan selama berhari-hari berarti mengorbankan waktu produksi di dapur atau waktu berjualan di pasar, yang berdampak langsung pada penurunan omzet harian mereka.
Oleh karena itu, Rumah BUMN BRI merancang sebuah formula solusi penyeimbang berupa insentif nyata, yakni perluasan akses pasar langsung bagi peserta yang menunjukkan performa terbaik selama masa inkubasi.
Langkah konkret ini terbukti sangat ampuh memotivasi para pelaku usaha untuk serius menyerap materi pelatihan.
Jebolan-jebolan terbaik dari program BRIncubator tidak dilepas begitu saja ke pasar bebas, melainkan langsung ditarik ke dalam jaringan pemasaran BRI.
Mereka dilibatkan dalam berbagai ajang pameran dagang strategis berskala nasional, seperti pameran besar di Lapangan Banteng saat momen Ramadan lalu.
Lebih dari itu, produk unggulan seperti Maipeh Food juga difasilitasi untuk masuk ke dalam ekosistem vending machine BRI yang ditempatkan secara eksklusif di lobi-lobi utama kantor kementerian negara, memberikan eksposur langsung di hadapan para pengambil kebijakan nasional.
Kembali ke dalam kios produksinya yang sederhana di Kembangan Utara, Ipeh membagikan refleksi mendalam mengenai apa arti sejati dari seorang pelaku UMKM yang "naik kelas".
Baginya, kesuksesan Maipeh Food menembus jaringan ritel modern dan pasar diaspora bukan karena ia memiliki modal besar atau latar belakang pendidikan bisnis yang mentereng, melainkan karena ia selalu menjaga cangkir pikirannya tetap kosong agar bisa diisi oleh ilmu-ilmu baru.
"Saya memulai semuanya benar-benar dari nol pengetahuan bisnis. Saya tidak punya basic pendidikan keuangan korporat, saya cuma lulusan SMA. Dan seperti yang saya bilang, saya bahkan tidak suka masak. Tapi saya punya satu kelebihan: saya tidak pernah malu untuk bertanya dan belajar," ucap Ipeh serius.
Ipeh menceritakan bagaimana ia kerap menyerap ilmu dari setiap orang yang ia temui di Rumah BUMN, pameran, maupun komunitas Jakpreneur.
Ia tidak segan mendatangi pelaku usaha yang lebih senior hanya untuk menanyakan hal-hal teknis yang spesifik, seperti sistem penggajian karyawan yang ideal untuk skala mikro atau strategi menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan mutu bahan baku.
Meskipun jawaban yang didapat terkadang tidak terlalu detail karena batasan rahasia perusahaan, Ipeh selalu tertantang untuk mendalami dan membedah pola tersebut secara mandiri di rumah hingga menemukan formula yang tepat.
Prinsip hidup yang berakar pada pengalaman dibantu oleh ekosistem Rumah BUMN BRI dan sesama teman pelaku usaha membuat Ipeh tumbuh menjadi sosok mentor yang sangat terbuka bagi UMKM lain. Ia menolak menjadi pelaku usaha yang pelit ilmu.
Di sela-sela kesibukannya memimpin Maipeh Food yang hingga kini ia kelola secara mandiri tanpa menyentuh kredit perbankan, Ipeh kerap meluangkan waktu berjam-jam untuk melayani sesi konsultasi gratis dari pelaku usaha mikro pemula yang menghubunginya via pesan singkat.
"Kemarin ada teman UMKM yang seharian bertanya kepada saya, dia mengeluh karena produk keripiknya baru jalan tiga bulan saja baunya sudah tengik. Saya tidak langsung menyuruh dia membeli mesin penyegel nitrogen yang mahal seperti yang saya punya. Saya minta dia mengirimkan satu produknya ke sini, dan saya tegaskan saya harus membelinya agar dia tidak rugi," kata Ipeh.
"Saya telusuri dulu di mana kesalahannya, karena bisa jadi masalahnya bukan di kemasan, melainkan pada alur produksi, kualitas minyak, atau cara penirisan yang kurang sempurna. Saya tidak ingin dia telanjur membeli alat mahal namun produknya tetap rusak lalu menyalahkan alat tersebut," cerita Ipeh detail.
Dari modal seadanya senilai seratus tiga puluh empat ribu rupiah, dihantam badai PHK yang merenggut kemapanan, hingga kini sukses menggerakkan ekonomi para tetangga di sekitarnya dan menembus jaringan ritel nasional, Ipeh telah membuktikan satu hal.
Dengan ekosistem pembinaan yang tepat seperti yang disediakan oleh Rumah BUMN BRI, sekat-sekat pembatas antara gang sempit dan pasar modern bisa diruntuhkan.
"Ilmu saya tidak didapat dari bangku kuliah atau buku-buku teori tebal. Ilmu saya adalah kumpulan dari kebaikan orang-orang yang membantu saya saat saya jatuh, dan tugas saya sekarang adalah mengalirkan kembali ilmu itu kepada orang lain agar roda ekonomi kita bisa terus berputar bersama-sama," kata Ipeh menutup obrolan.