Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Di balik kisah Adi Taufik Suhartono (15) yang menjadi perhatian publik karena meminta bantuan petugas Damkar untuk mendampinginya mengambil rapor, tersimpan kebanggaan mendalam dari sang kakak kandung, Iin Setiawati.
Menurut Iin, Adi bukanlah anak yang banyak bicara. Namun di balik sifat pendiamnya, tersimpan semangat hidup dan kemandirian yang membuat dia bangga.
"Kalau buat saya, dengan umur segitu dia sudah membanggakan. Dia mau bekerja untuk dirinya sendiri. Walaupun penghasilannya tidak menentu, tapi dia berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri," ujar Iin saat ditemui di rumah mereka di Banjaranyar, Jumat (19/6/2026).
Iin menuturkan, sejak kehilangan ibunya beberapa tahun lalu, Adi perlahan belajar hidup mandiri.
Bahkan sejak masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, ia sudah mulai bekerja membantu mengantarkan barang dagangan ke sejumlah warung di wilayah Pasawahan dan Cikupa.
Meski pernah tinggal bersamanya agar lebih terkontrol, Adi memilih tinggal sendiri di rumah salah satu keluarga yang tidak ditempati. Namun rumah tersebut masih berada tidak jauh dari tempat tinggal kakaknya.
"Dia memang ingin belajar mandiri. Alhamdulillah sampai sekarang bisa menjaga dirinya sendiri," katanya.
Baca juga: Kisah Kemandirian Adi Taufik Sentuh Hati Bupati Ciamis, Dapat Uang Kadeudeuh dan Paket Sembako
Baca juga: Ditemani Damkar Saat Ambil Rapor, Kisah Adi Taufik Bikin Haru Bupati dan Warga Ciamis
Saat menceritakan momen pengambilan rapor yang didampingi petugas Damkar, Iin mengaku sempat terkejut.
Awalnya ia hanya mengetahui adiknya mengeluhkan tidak ada yang bisa mendampinginya ke sekolah karena jadwal pembagian rapor anaknya sendiri bertepatan dengan jadwal pengambilan rapor Adi.
Tak disangka, curhatan sederhana itu mendapat respons dari petugas Damkar Pos WMK Banjarsari.
"Awalnya saya juga kaget. Adi cerita, terus ternyata benar-benar didampingi Damkar. Buat kami itu seperti kejutan dan perhatian yang luar biasa," ujarnya.
Menurut Iin, adiknya sempat terlihat menahan haru saat didampingi petugas Damkar ke sekolah.
"Dia orangnya tidak banyak cerita. Tapi saya tahu dia pasti terharu. Mungkin sedih juga, tapi tidak bisa mengungkapkan karena dia laki-laki," katanya.
Sebagai kakak, Iin hanya berharap Adi terus mempertahankan semangatnya dan mampu meraih cita-cita yang selama ini diimpikannya.
"Harapan saya sederhana, semoga dia menjadi anak yang membanggakan untuk dirinya sendiri dulu. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk keluarga dan membantu orang lain," ucapnya.
Kebanggaan itu semakin bertambah ketika perhatian datang dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Ciamis yang mengirimkan bantuan dan motivasi kepada Adi.
"Alhamdulillah, kami merasa diperhatikan. Terima kasih kepada Pak Bupati Ciamis dan semua yang sudah peduli dan memberikan semangat untuk Adi," katanya.
Adi Taufik Suhartono merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Setelah sang ibu meninggal dunia pada tahun 2023, ia tumbuh dengan dukungan kakak-kakaknya yang berusaha mendampinginya di tengah berbagai keterbatasan.
Meski menjadi anak paling kecil di keluarga, Adi justru dikenal sebagai sosok yang mandiri.
Sejak duduk di bangku kelas 6 SD, ia sudah terbiasa mencari penghasilan sendiri dengan mengantar sembako ke warung-warung dan menerima jasa titip maupun antar makanan bagi warga sekitar.
Kakak kandungnya itu mengaku bangga melihat semangat sang adik yang tidak pernah malu bekerja meski usianya masih remaja.
"Dia anak bungsu dari enam bersaudara. Walaupun masih kecil, dia sudah terbiasa berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Itu yang membuat kami bangga," ujar Iin.(*)