BANJARMASINPOST.CO.ID BANJARMASIN – Kayu manis dari kawasan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku obat tradisional dan produk kosmetik berbasis herbal.
Kandungan senyawa aktif seperti cinnamaldehyde, flavonoid hingga antioksidan membuka peluang pengembangan produk kesehatan sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
Potensi ini menjadi fokus utama kegiatan Studi Ilmiah yang dilakukan siswa SMK Unggulan Husada Banjarmasin melalui penelitian lapangan langsung ke Loksado Jumat dan Sabtu.
Kepala dan Penanggung Jawab SMK Unggulan Husada Banjarmasin Apt. Hj. Popong Nurapipah, S. Farm, menegaskan bahwa riset ini tidak sekadar kegiatan luar kelas, tetapi bagian dari pembelajaran berbasis manfaat nyata.
“Kayu manis ini bukan hanya rempah biasa. Ada peluang besar dikembangkan jadi obat tradisional, suplemen, bahkan kosmetik herbal," katanya diwakili Ketua Panitia Program Penelitian M. Noor Farhansyah, SE dalam rilisnya kepada BPost Jumat (19/6/2026) malam.
Baca juga: SMK IT Raudhatul Aminin Segera Hadir di Sampanahan, Aggota DPRD Kotabaru Kawal hingga Terealisasi
Siswa ujar dia dituntut melihat langsung potensi itu dan mengembangkannya secara ilmiah.
Dalam kegiatan tersebut, siswa meneliti berbagai aspek mulai dari karakteristik tanaman, teknik budidaya, proses panen hingga pengolahan pascapanen.
Selain itu, mereka juga menggali manfaat kesehatan serta peluang ekonomi dari komoditas unggulan tersebut.
Secara ilmiah, kayu manis (Cinnamomum burmannii) diketahui mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, serta berpotensi membantu menjaga kadar gula darah.
Menurutnya kandungan ini juga banyak dimanfaatkan dalam industri kosmetik alami sebagai bahan perawatan kulit.
Melalui penelitian ini, siswa dari tiga program keahlian yakni Farmasi Klinis dan Komunitas, Teknologi Laboratorium Medik, serta Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi dilibatkan secara aktif sesuai bidangnya.
Program Farmasi menitikberatkan pada analisis kandungan dan peluang produk herbal, sementara TLM fokus pada pengambilan sampel dan observasi ilmiah.
"Adapun TJKT berperan dalam dokumentasi serta publikasi digital hasil penelitian," kata dia.
Selain meningkatkan kompetensi akademik, kegiatan ini juga berdampak pada pembentukan karakter siswa seperti kemandirian, kemampuan komunikasi, hingga kerja tim di lapangan.
Dia menambahkan, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya riset sejak dini sekaligus memperkuat kecintaan siswa terhadap potensi lokal Kalimantan Selatan.
“Kami ingin siswa tidak hanya paham teori, tapi mampu menciptakan inovasi berbasis kekayaan daerah. Kayu manis Loksado ini salah satu contoh nyata yang bisa dikembangkan lebih jauh,” pungkasnya.
Sementara Kayla Dinda Alkanza wakil kelas XI Farmasimenambahkan kegiatan studi ilmiah ini juga menjadi langkah awal dalam mendorong hilirisasi produk herbal daerah agar memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar yang lebih luas.
"Bagi kami ini menambah pengetahuan dan semoga bisa bermanfaat bagi semua orang," tungkasnya. (Banjarmasinpost.co.id)