Laporan Wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nasir | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tim pelaksana Program Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Iskandar Muda (Unida) Aceh dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD).
FGD bertema “Optimalisasi dan Pengembangan Sistem Crab Bank Berbasis Komunitas untuk Pengelolaan Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan” itu diadakan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Ulee Lheue, tepatnya di area Kantor Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi, Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.30 WIB ini, merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
FGD tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari nelayan, Panglima Laot, mahasiswa, hingga akademisi dari Unida Aceh dan UAD Aceh.
Program ini diketuai oleh Muhammad Nawawi, ST, MSc dari Unida Aceh, dengan anggota tim pelaksana yakni Indra Jaya, ST, MT dari UAD Aceh, serta Feri Mustika, ST, MT dari Unida Aceh.
Dalam pemaparannya, Ketua Pelaksana, Muhammad Nawawi menjelaskan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan komitmen bersama dalam mengoptimalkan sistem Crab Bank berbasis komunitas yang telah ada agar dapat berfungsi lebih efektif dan berkelanjutan.
Baca juga: USK dan Panglima Laot Kembangkan Crab Bank untuk Konservasi Kepiting di Banda Aceh
“Crab Bank merupakan pendekatan konservasi berbasis masyarakat yang sangat penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kepiting di wilayah pesisir,” urainya.
“Melalui program ini, kami ingin memastikan sistem yang sudah ada dapat dioperasikan secara optimal, termasuk dengan dukungan energi terbarukan melalui PLTS,” ujar Nawawi.
Ia menambahkan, salah satu tantangan utama dalam pengelolaan Crab Bank adalah kebutuhan energi yang stabil, terutama untuk mendukung sistem aerasi.
Sistem aerasi yang baik diperlukan untuk menjaga kualitas lingkungan hidup indukan kepiting bertelur selama berada dalam Crab Bank.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian mendorong penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi alternatif.
Teknologi ini dinilai lebih ramah lingkungan, mandiri, dan sesuai dengan kondisi wilayah pesisir yang kerap menghadapi keterbatasan akses listrik konvensional.
Baca juga: KKM Mahasiswa Unida di Gampong Acheh Yan Kedah Malaysia Diakhiri Menikmati Sajian Kuah Beulangong
FGD ini juga menjadi ruang dialog antara akademisi dan masyarakat pesisir.
Khususnya nelayan serta Panglima Laot, dalam merumuskan model tata kelola Crab Bank berbasis komunitas.
Peran Panglima Laot dinilai sangat strategis karena memiliki kedudukan penting dalam sistem adat dan pengelolaan sumber daya laut di Aceh.
Dalam diskusi tersebut, peserta membahas berbagai aspek, mulai dari kondisi pengelolaan kepiting di lapangan, mekanisme operasional Crab Bank, peran nelayan dalam konservasi indukan kepiting bertelur, hingga peluang pengembangan energi terbarukan untuk mendukung sistem tersebut.
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari kedua universitas.
Keterlibatan mereka diharapkan dapat memperkuat pembelajaran berbasis praktik lapangan.
Sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap konservasi pesisir dan pengembangan teknologi tepat guna.
Baca juga: LPPM USK Latih Nelayan Kuala Cangkoi Kelola Crab Bank Berkelanjutan, Ini Kata Panglima Laot
Anggota tim dari UAD Aceh, Indra Jaya, ST, MT menekankan, pentingnya tata kelola Crab Bank yang terstruktur.
Mulai dari penerimaan indukan, pemeliharaan, pemantauan, hingga pelepasan larva ke habitat alami.
Sementara itu, Feri Mustika, ST, MT dari Unida Aceh menegaskan perlunya pendampingan teknis berkelanjutan agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Melalui FGD ini, diharapkan tercipta kesepahaman antara perguruan tinggi, nelayan, Panglima Laot, dan masyarakat pesisir dalam memperkuat pengelolaan Crab Bank berbasis komunitas.
Program ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun model konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan dengan dukungan teknologi energi bersih.
Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada penerapan teknologi.
Baca juga: Kesbangpol Kota Banda Aceh dan UNIDA Gelar FGD Pembauran Kebangsaan
Tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kesadaran konservasi, serta penguatan kelembagaan lokal dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir Aceh.(*)