Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tim mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil meraih medali perunggu (Bronze Medal) pada ajang 5th International Youth Summit (5th IYS) yang diselenggarakan di Malaysia pada 30–31 Mei 2026.
Prestasi ini diraih melalui karya inovasi berjudul "Mud Brick Geo-Circular (MBG): Turning Disaster Waste into Sustainable Construction" pada subtema Environment.
Tim USK yang beranggotakan Muhammad Nabil dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dan Muhammad Ghaisan Ali dari Program Studi Teknik Sipil, mewakili Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HMPWK FT USK) dan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS USK) dalam kompetisi internasional tersebut.
5th International Youth Summit merupakan ajang yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Self Access Learning (SAL), Student Access Learning, serta Centre of Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM), Universiti Putra Malaysia (UPM).
Ajang ini mempertemukan generasi muda dari berbagai negara untuk mempresentasikan gagasan inovatif dalam menjawab isu-isu global, salah satunya di bidang lingkungan dan keberlanjutan.
Inovasi mengubah lumpur banjir menjadi material konstruksi inovasi MBG lahir dari keprihatinan tim terhadap dampak banjir besar yang melanda beberapa wilayah Sumatra pada akhir 2025 hingga awal 2026, yang menyebabkan ratusan ribu rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Berdasarkan data yang dirujuk tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir tersebut berdampak pada sekitar 1,5 juta jiwa di Aceh, 1,6 juta jiwa di Sumatra Utara, dan 140.500 jiwa di Sumatra Barat, dengan total 175.126 unit rumah dilaporkan rusak.
Baca juga: Mahasiswa USK Ciptakan Hand Cream dari Jamblang dan Nilam, Raih Medali Emas di Ajang Internasional
Selama ini, lumpur dan sedimen sisa banjir umumnya hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya besar tanpa memberikan nilai tambah bagi proses pemulihan.
Melalui pendekatan Geo-Circular, tim USK menawarkan solusi untuk mengolah sedimen pascabanjir menjadi bata ringan (lightweight brick) yang dapat digunakan kembali dalam rekonstruksi permukiman terdampak.
Konsep "Geo" pada inovasi ini menekankan pemanfaatan karakteristik geoteknik lokal seperti kandungan pasir, lanau, dan lempung pada lumpur banjir.
Sementara konsep "Circular" mengacu pada penerapan prinsip ekonomi sirkular, di mana material hasil bencana diolah dan digunakan kembali untuk membangun ulang wilayah yang terdampak.
Proses produksinya terdiri dari lima tahap utama, yaitu pengumpulan sedimen, penyaringan dan persiapan material, stabilisasi dengan bahan pengikat ramah lingkungan, pencetakan, hingga pengeringan dan pengujian kualitas.
Studi kasus dalam inovasi ini berlokasi di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, sebagai salah satu wilayah yang terdampak signifikan akibat banjir.
Baca juga: Mahasiswa USK Raih Silver Medal di Kompetisi Esai Nasional Undip, Ini Inovasinya
Inovasi MBG dinilai selaras dengan dua tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Yaitu SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui dukungan terhadap pembangunan perkotaan yang tangguh terhadap bencana.
Serta SDG 13 (Climate Action) melalui pengurangan emisi karbon pada sektor konstruksi karena material bata yang dihasilkan tidak memerlukan proses pembakaran (kiln firing) seperti bata konvensional.
Untuk memperluas akses informasi dan mendorong replikasi konsep ini, tim juga mengembangkan kanal digital berupa situs web yang memuat penjelasan lengkap mengenai inovasi MBG, yang dapat diakses melalui https://mudbrickgeocircular.lovable.app/.
Keberhasilan ini menjadi bukti kontribusi nyata mahasiswa USK dalam menghadirkan solusi berbasis riset terhadap isu lingkungan dan kebencanaan, sekaligus mengangkat nama Universitas Syiah Kuala di kancah internasional.
Tim berharap inovasi Mud Brick Geo-Circular dapat terus dikembangkan lebih lanjut dan suatu saat dapat diterapkan secara nyata dalam upaya rekonstruksi pascabencana, khususnya di wilayah-wilayah rawan banjir di Indonesia.(*)