TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Yogyakarta tetap perkasa di tengah melemahnya nilai rupiah sampai sekarang ini.
Meski nilai tukar rupiah terus dihajar hingga mengalami pelemahan senilai Rp17.828 per dollar AS pada 19 Juni 2026, namun penyaluran produk perbankan yang satu ini tetap positif.
Salah satu perbankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Regional Office Yogyakarta mencatatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp10.3 T hingga Mei 2026, yang disalurkan kepada 250.299 debitur.
Penyaluran ini menjadi bagian dari upaya dalam mendorong UMKM agar semakin produktif dan berkembang ditengah situasi global yang tak menentu.
Kusdinar Wiraputra, Regional CEO BRI Regional Office Yogyakarta menyampaikan bahwa secara komposisi, penyaluran KUR di wilayah kerja Regional Office BRI Yogyakarta hingga Mei 2026 didominasi oleh sektor Perdagangan, Pertanian, dan, Jasa sektor usaha lainnya, dengan porsi di sektor perdagangan sebesar 65 persen, pertanian 21,36?n jasa usaha lainnya sebesar 13,64 persen .
"Sampai saat tidak ada hambatan dengan situasi geopolitik atau pelemahan rupiah. Terbukti penyaluran bisa berjalan baik kemudian dari sisi kualitas masih 2,25" katanya, seusai menggelar Media Gathering, Jumat (19/6/2026).
Kusdinar menyampaikan, untuk dilevel bawah isu melemahnya rupiah tidak berpengaruh terlalu besar terhadap penyaluran KUR.
"Artinya bahwa untuk level bawah hal-hal seperti itu tidak menjadi isu utama, kalaupun kita lihat mereka merupakan pangsa pasar domestik, sehingga tidak terpengaruh dengan situasi saat ini," terang dia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembiayaan yang disalurkan bank plat merah yang satu ini telah diarahkan untuk mendukung aktivitas usaha yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Secara penyebaran wilayah, penyaluran KUR Regional Yogyakarta terbanyak di Area Solo, diikuti Banyumas dan Kedu.
Dengan pembiayaan yang memadai dan akses permodalan yang lebih mudah melalui KUR, pelaku usaha di berbagai daerah di wilayah Yogyakarta dan sekitar memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kapasitas usahanya, membuka lapangan kerja dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.
Selain itu KUR menjadi wujud nyata dari komitmen BRI yang sejalan dengan Astacita Pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong pemerataan pembangunan.
“Ini merupakan bagian dari peran kami dalam memperkuat ekonomi berbasis UMKM di daerah. Selain memperluas akses pembiayaan, BRI juga mendorong peningkatan kapasitas UMKM melalui berbagai program pemberdayaan. ” ungkapnya.
Kusdinar menambahkan, dukungannya tidak hanya sebatas penyaluran dana, tetapi juga mencakup pemberdayaan dan pendampingan usaha dan edukasi finansial agar para debitur dapat mengelola usahanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Hal ini sejalan dengan visi BRI untuk menjadi mitra terpercaya dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya di daerah-daerah yang memiliki potensi unggulan.
“Dengan strategi yang terfokus pada sektor produktif, BRI Regional Office Yogyakarta optimis dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dan menjawab tantangan pembangunan inklusif di tingkat lokal” imbuhnya.
Ke depannya, mereka akan terus mendorong penyaluran KUR dengan fokus pada sektor produktif, sehingga pembiayaan yang diberikan dapat memberikan dampak nyata bagi perkembangan usaha masyarakat.
“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya berupa modal usaha saja tapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya. Kami juga terus mengedukasi pelaku usaha untuk melek digital dan memanfaatkan platform-platform penjualan online sehingga bisa mendorong kapasitas usaha dan bisa naik kelas” tutupnya. (hda)