Bandung (ANTARA) - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memprioritaskan pembangunan masjid kecil atau tajug di permukiman warga untuk memperkuat fungsi rumah ibadah sebagai ruang ibadah dan refleksi spiritual di tengah masyarakat.
Menurut Dedi, kebijakan tersebut diambil karena sebagian masjid kini mengalami pergeseran fungsi dari tempat ibadah menjadi ruang rekreasi dan aktivitas publik.
Berbicara di Bandung, Jumat, Dedi menilai aspek spiritualitas kerap kalah menonjol dibandingkan daya tarik arsitektur bangunan yang mendorong masyarakat datang untuk berfoto.
"Kalau masjid sarana rekreasi, bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat swafoto, bukan tempat tafakur," kata Dedi.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengarahkan pembangunan lebih banyak tajug di lingkungan padat penduduk guna mendekatkan sarana ibadah kepada masyarakat.
"Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya setiap waktu. Masjid-masjid megah sudah banyak di Jawa Barat," ujar Dedi.
Ia menjelaskan pengembangan tajug akan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan melibatkan dukungan berbagai pihak.
Menurut Dedi, konsep tersebut bertujuan menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat kegiatan keagamaan tanpa menambah struktur pengelolaan baru di lingkungan masyarakat.
"Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak mengaji, dan menjadi ruang ibadah masyarakat," katanya.
Mantan Bupati Purwakarta itu menilai nilai ibadah tidak ditentukan oleh kemegahan bangunan, melainkan oleh kualitas hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan.
Menurut Dedi, tempat bukan faktor utama dalam membangun kedekatan spiritual karena yang terpenting adalah keheningan batin dan kemampuan menghadirkan nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.





