Grid.ID - Saat ini dunia sedang menikmati kompetisi sepak bola Piala Dunia 2026, sejarah mencatat bahwa wilayah yang kini menjadi Indonesia sebenarnya pernah merasakan atmosfer putaran final Piala Dunia. Momen bersejarah tersebut terjadi pada tahun 1938 ketika Hindia Belanda tampil di ajang sepak bola paling bergengsi dunia yang digelar di Prancis.
Kehadiran Hindia Belanda di turnamen tersebut menjadi catatan penting karena mereka merupakan wakil pertama dari Asia yang berhasil tampil di putaran final Piala Dunia. Meski saat itu Indonesia belum merdeka dan masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda, pencapaian tersebut tetap menjadi bagian menarik dalam perjalanan sepak bola di tanah air.
Lolos ke Putaran Final Setelah Jepang Mengundurkan Diri
Perjalanan Hindia Belanda menuju Piala Dunia 1938 terbilang unik. Tim tersebut mendapatkan tiket ke putaran final setelah Jepang memutuskan mundur dari babak kualifikasi.
Meski tidak melalui kemenangan di lapangan, keberhasilan tampil di turnamen dunia tetap menjadi pencapaian besar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah tim dari kawasan Asia mendapat kesempatan berkompetisi di panggung tertinggi sepak bola internasional.
Kehadiran mereka sekaligus membuka jalan bagi negara-negara Asia lainnya untuk bermimpi tampil di ajang serupa pada masa-masa berikutnya.
Skuad Multietnis yang Mencerminkan Kondisi Hindia Belanda
Salah satu hal yang menarik dari tim Hindia Belanda adalah komposisi pemainnya yang beragam. Menurut catatan Peter Kasenda dalam buku Sejarah Sepak Bola Indonesia (2009), skuad tersebut dihuni oleh pemain dari berbagai latar belakang etnis.
Tim itu terdiri atas pemain pribumi, keturunan Tionghoa, Indo-Belanda, hingga warga Belanda. Keberagaman tersebut mencerminkan kondisi masyarakat Hindia Belanda pada masa kolonial yang memiliki banyak kelompok etnis dan budaya.
Komposisi tersebut juga menunjukkan bahwa sepak bola saat itu telah menjadi olahraga yang mampu menyatukan berbagai kalangan dalam satu tim yang sama.
Menghadapi Hungaria yang Saat Itu Merupakan Kekuatan Dunia
Pada 5 Juni 1938, Hindia Belanda menjalani pertandingan bersejarah melawan Hungaria di Stadion Reims, Prancis. Namun, lawan yang dihadapi bukanlah tim sembarangan.
Hungaria merupakan salah satu kekuatan sepak bola dunia pada era tersebut. Bahkan, mereka berhasil melaju hingga partai final Piala Dunia 1938.
Dalam pertandingan itu, Hindia Belanda harus mengakui keunggulan lawannya setelah kalah dengan skor 0-6. Hasil tersebut memang terlihat mencolok, tetapi kekuatan Hungaria yang jauh lebih matang menjadi faktor utama di balik kekalahan tersebut.
Langsung Tersingkir karena Sistem Gugur
Format Piala Dunia 1938 berbeda dengan yang digunakan saat ini. Turnamen tersebut menerapkan sistem gugur sejak pertandingan pertama.
Akibatnya, kekalahan dari Hungaria langsung mengakhiri perjalanan Hindia Belanda di turnamen. Mereka tidak memiliki kesempatan memainkan laga kedua ataupun memperbaiki hasil di fase grup seperti yang berlaku pada era modern.
Meski hanya tampil dalam satu pertandingan, keikutsertaan Hindia Belanda tetap tercatat dalam sejarah sepak bola dunia.
Jejak Awal Indonesia di Panggung Piala Dunia
Secara resmi, tim yang tampil pada tahun 1938 memang membawa nama Hindia Belanda, bukan Indonesia. Mereka juga belum menggunakan bendera Merah Putih karena Indonesia saat itu masih berada dalam masa penjajahan.
Namun dari sisi geografis dan sejarah, tim tersebut berasal dari wilayah yang kemudian menjadi Republik Indonesia.
Karena alasan itulah, banyak pihak menganggap kehadiran Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 sebagai jejak awal sepak bola Indonesia di panggung dunia.
Menjadi Kebanggaan Sekaligus Ironi
Kisah Hindia Belanda di Piala Dunia menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, terdapat kebanggaan karena wilayah Indonesia pernah memiliki wakil di putaran final Piala Dunia sejak hampir satu abad lalu.
Namun di sisi lain, terdapat ironi yang masih terasa hingga kini. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Timnas Indonesia belum pernah kembali tampil di putaran final Piala Dunia senior.
Oleh karena itu, menjelang Piala Dunia 2026, cerita tentang Hindia Belanda 1938 kembali menjadi pengingat bahwa wilayah Indonesia pernah menorehkan sejarah di panggung sepak bola dunia. Kini, harapan besar kembali muncul agar Timnas Indonesia suatu hari nanti mampu mengulang jejak tersebut, kali ini dengan membawa nama dan bendera Merah Putih di ajang Piala Dunia.