TRIBUNJATIM.COM - Di tengah ramainya perbincangan publik tentang dirinya di media sosial, kehidupan Kusmiah (61) (sebelumnya Kusriyanti) justru tetap berjalan seperti biasa.
Perempuan asal Desa Bojong, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah itu masih menjalani aktivitas sehari-harinya sebagai juru parkir (jukir) sekaligus penjual kopi di pinggir Jalan Ahmad Yani, Brebes.
Meski kini dikenal luas karena aksi heroiknya, jukir lansia itu tidak meninggalkan pekerjaan yang telah lama menjadi sumber penghidupannya.
Setiap hari, ia tetap membantu mengatur kendaraan yang keluar masuk area perbankan di pusat kota sambil melayani pembeli kopi di lapak sederhananya.
Baca juga: Sosok Kusriyanti Jukir Lansia yang Gagalkan Pencurian Uang Rp 3,6 M, Imbalan Rp 100 Ribu Dibagi 4
Nama Kusmiah mencuat ke tingkat nasional setelah keberaniannya menggagalkan upaya perampokan uang tunai sebesar Rp3,6 miliar milik seorang nasabah bank kaya.
Tindakannya yang sigap dan penuh kepedulian berhasil menyelamatkan uang tersebut dari tangan pelaku kejahatan.
Aksi terpuji itu pun mendapat apresiasi dari Kliwon, pemilik uang yang berhasil diselamatkan.
Sebagai bentuk rasa terima kasih, Kusmiah diberikan hadiah berupa perjalanan ibadah umrah tanpa biaya.
Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, perempuan berusia 61 tahun tersebut dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci Mekkah pada Agustus 2026 untuk menunaikan ibadah umrah yang selama ini menjadi impiannya.
Di sela aktivitasnya yang padat menjaga lahan parkir, Kusmiah hingga kini masih konsisten menjajakan seduhan kopi hitam dan minuman ringan kemasan.
Penghasilan harian dari peluh keringatnya itu pun diakui masih jauh dari kata besar.
Dari hasil berjualan kopi keliling, ia kadang hanya memperoleh pemasukan bersih sekitar Rp 60.000 per hari.
Sementara dari profesi utamanya sebagai juru parkir resmi, pendapatannya hanya berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 40.000 sehari.
“Kalau umrah sendiri, saya enggak punya duit,” ujar Kusmiah dengan polos saat menceritakan kembali momen haru ketika dirinya menerima tawaran umrah dari Kliwon saat ditemui di kediamannya, Jumat (19/6/2026).
Menurut pengakuannya, ia sama sekali tidak pernah terbersit untuk meminta imbalan apa pun atau pamrih sebagai balas jasa atas aksi heroiknya waktu itu.
Saat itu, Kliwon sengaja datang jauh-jauh dari kediamannya di wilayah Kluwut khusus untuk menemuinya secara langsung di Brebes.
“Pak Kliwon bilang mau silaturahmi sama saya. Terus bilang mau tanda terima kasih, mau ngajak umrah. Saya bilang kalau memang mau ngajak umrah, ya alhamdulillah, matur nuwun sangat,” katanya mengenang ucapan sang nasabah.
Tawaran berangkat ke Arab Saudi tersebut seketika menjadi kejutan yang tak pernah dibayangkan dalam mimpi Kusmiah sebelumnya.
Dengan kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, keinginan terpendam untuk menunaikan ibadah umrah selama ini hanya bisa ia simpan rapat-rapat di dalam lubuk hati.
Baca juga: Anak Rampok Emas Ibu Kandung Rp600 Juta Bareng Pacar, Tergiur Ingin Menguasai Perhiasan
Meski hari keberangkatan ke Timur Tengah sudah semakin dekat, perempuan yang tercatat telah melakoni profesi sebagai juru parkir jalanan sejak tahun 1995 itu mengaku tidak melakukan persiapan logistik yang mewah atau khusus menjelang keberangkatannya.
Ia hanya memikirkan persiapan pakaian dan perlengkapan sederhana yang dirasa perlu dibawa di dalam tas jinjingnya nanti.
“Pakaian saja buat ganti di sana. Yang penting perlengkapan dari sana sudah dapat dari umrah,” ujarnya pasrah.
Kusmiah tercatat telah menghabiskan sebagian besar lembaran hidupnya dengan bekerja keras mencari nafkah di pinggir jalanan aspal yang panas.
Ia bahkan mengaku sudah tidak ingat secara pasti berapa total hitungan tahun dirinya menjalani profesi kasar tersebut.
Setiap pagi hari, ia harus rela menempuh perjalanan jauh sejauh belasan kilometer dari rumah tinggalnya menuju pusat roda ekonomi kota untuk mulai bekerja.
Jalur transportasi tersebut ia lalui secara fluktuatif, terkadang menumpang angkutan kota (angkot), berjalan kaki ritmik, atau sesekali menebeng kendaraan motor milik orang lewat yang kebetulan mengenalnya.
"Saya enggak ngerti berapa tahun. Dulu ngertinya markir motor 100 perak, mobil 300. Kalau sekarang kadang dua ribu atau seribu sedikasihnya,” katanya berkisah sembari melempar senyum ramah.
Baca juga: Pria Asal Sampang Bikin Onar di Gresik, Rampok Karyawan SPBU di Driyorejo Pakai Senjata Api
Pekerjaan berat itu seketika langsung menjadi tiang penopang hidup tunggal bagi keluarganya, pasca sang suami tercinta, Darpin, meninggal dunia mendahuluinya sekitar tujuh tahun yang lalu.
Dari hasil pernikahannya dengan mendiang suami, Kusmiah dikaruniai lima orang anak kandung.
Namun, garis takdir menentukan satu anaknya telah meninggal dunia terlebih dahulu.
Kini, kehadiran enam orang cucu tercinta menjadi satu-satunya energi dan obat penyemangat utama di masa usia senjanya yang kian menua.
Meskipun dalam hitungan minggu akan segera menginjakkan kaki di tempat suci umat Islam, Kusmiah menegaskan tidak memiliki rencana sama sekali untuk meninggalkan profesi jalanannya.
Setelah kembali mendarat di tanah air dari Tanah Suci nanti, ia bertekad kuat akan langsung kembali ke tempat asalnya di pinggir jalan yang selama puluhan tahun ini menjadi sumber mata pencaharian utama keluarganya.
“Ya tetap parkir lagi,” katanya memberikan jawaban singkat namun tegas.