Kisah Sukses Lariss Suvenir Mengangkat Budaya Lampung Melalui Kerajinan Tapis
Robertus Didik Budiawan Cahyono June 20, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Hiasan telur dengan ornamen khas Lampung seperti siger terpampang di halaman depan rumah produksi Lariss Suvenir yang berlokasi di Jl. Cabe Raya Perumnas No.1 No.12, Beringin Raya, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung, kode pos 35155, Sabtu (20/6/2026).

Baca juga: Wagub Jihan Sapa Peserta Mudik Gratis Sambil Bagikan Suvenir, Pada Mau Kemana

Berawal dari pesanan sederhana berupa hiasan telur gulung pada tahun 2011, usaha rumahan milik Zulfa Mutiasari (45) kini berkembang menjadi salah satu produsen suvenir khas Lampung yang dikenal dengan berbagai produk kreatif berbasis tapis. 

Zulfa menceritakan, perjalanan Lariss Suvenir dimulai pada Juli 2011 saat dirinya menerima pesanan pertama berupa hiasan telur gulung untuk acara akikah. 

Awalnya, pesanan tersebut datang dari kerabat yang mempercayakan pembuatan souvenir kepadanya.

“Awalnya hanya coba-coba membuat telur gulung hias. Ternyata hasilnya disukai dan mulai banyak yang memesan dari mulut ke mulut,” ujar Zulfa saat ditemui di rumah produksinya Sabtu (20/6/2026).

Tak disangka, pesanan terus berdatangan, tidak hanya dari Bandar Lampung tetapi juga dari berbagai daerah seperti Batam, Bali, Kalimantan hingga Bandung. 

Bahkan, ia sempat bekerja sama dengan event organizer untuk kebutuhan acara akikah di Batam.

Mengangkat Identitas Lampung Melalui Souvenir

Titik penting perkembangan usahanya terjadi pada tahun 2014. Saat itu, seorang pelanggan meminta dekorasi khusus pada telur gulung yang dipesan. 

“Saat itu ada pelanggan saya pesan hiasan telur minta dengan ornamen tapis, karena dia nunggu anaknya lama hampir 10 tahun,” ujarnya.

Sejak saat itu pesanan mulai berdatangan, dan iapun mulai mengembangkan bisnisnya ke souvenir lainnya.

“Dari situ saya melihat bahwa budaya Lampung memiliki daya tarik yang besar jika dikemas menjadi produk suvenir yang unik,” katanya.

Tidak berhenti pada satu jenis produk, Zulfa terus bereksperimen menggunakan berbagai bahan, mulai dari pita Jepang, kain, keramik, kertas hingga plastik. 

Hasilnya, Lariss Suvenir kini memiliki beragam produk seperti tempat tisu, tas, pouch, bantal, selimut, taplak meja, hingga berbagai aksesoris dekoratif khas Lampung.

Produk Unik dengan Sentuhan Inovasi

Salah satu produk unggulan Lariss Suvenir adalah tas berbahan tapis yang dimodifikasi dengan model zipper bag. 

Menurut Zulfa, inovasi menjadi kunci agar produknya berbeda dari yang sudah ada di pasaran.

“Kalau hanya mengikuti model yang sudah ada, orang akan cepat bosan. Saya selalu mencoba memberikan sentuhan berbeda supaya produk memiliki ciri khas,” jelasnya.

Selain itu, ia juga tengah mengembangkan produk vest berbahan tapis dengan desain yang lebih modern. 

Meski belum diluncurkan ke pasar, produk tersebut dipersiapkan sebagai inovasi terbaru Lariss Suvenir.

Harga Terjangkau, Pasar Luas

Produk yang ditawarkan Lariss Souvenir memiliki rentang harga yang beragam, mulai dari Rp.10 ribu untuk suvenir sederhana hingga Rp.350 ribu–Rp.400 ribu untuk produk tas premium.

Harga ditentukan berdasarkan ukuran, bahan, dan tingkat kesulitan pengerjaan. 

Produksi Hingga Ribuan Unit

Dalam operasionalnya, Lariss Souvenir mengandalkan sistem produksi berdasarkan pesanan. 

Untuk produk tas tapis, misalnya, jumlah produksi dapat mencapai 500 hingga 1.000 unit dalam satu periode pemesanan, terutama jika berasal dari organisasi atau instansi.

“Kalau ada pesanan dari kelompok atau organisasi biasanya jumlahnya besar. Untuk stok aman, saya siapkan minimal 500 unit,” ungkap Zulfa.

Sementara untuk produk lain seperti pouch dan souvenir acara, produksi disesuaikan dengan kebutuhan bazar atau musim tertentu. 

Momen kelulusan, perpisahan sekolah, hingga musim liburan menjadi periode dengan permintaan tertinggi.

Omzet Stabil dan Tantangan Usaha

Meski menghadapi berbagai dinamika pasar, Lariss Suvenir mampu menjaga omzet usaha pada kisaran Rp.5 juta per bulan dalam kondisi normal.

Namun perjalanan bisnis selama lebih dari 15 tahun tentu tidak selalu mudah. Zulfa mengaku terdapat dua tantangan utama yang terus dihadapi hingga saat ini, yaitu permodalan dan pemasaran.

“Modal menjadi tantangan terbesar karena perputaran usaha kerajinan cukup panjang. Selain itu, pemasaran juga masih menjadi pekerjaan rumah agar produk bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” katanya.

Selama ini pemasaran lebih banyak dilakukan melalui jaringan pelanggan, WhatsApp, dan Instagram. 

Meski beberapa produk seperti telur gulung hias telah menembus pasar luar daerah hingga Kalimantan dan Batam, Zulfa masih ingin memperluas jangkauan pemasaran produk-produk lainnya.

( Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini ) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.