Suami Tusuk Istri Saat Ambil Rapor Anak di Ruang Kelas SD, Pelaku dan Korban Ternyata Proses Cerai 
Murhan June 20, 2026 02:47 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID -  Peristiwa membuat geger warga terjadi saat pengambilan rapor anak di SD Negeri Kalipancur 02 Semarang, Jumat (19/6/2026) pagi.

Penyebabnya, seorang suami menusuk istrinya yang mengambil rapor anaknya di ruangan kelas SD tersebut.

Penusukan itu terjadi diduga masalah rumah tangga yang telah lama terjadi. 

Apalagi, pelaku diketahui sudah sekitar dua bulan meninggalkan rumah.

Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Riki Fahmi Mubarok mengungkapkan, insiden penusukan tersebut terjadi pada pukul 08.15 di depan ruang kelas sekolah tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku diketahui berinisial F (29) warga Kali Alat, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Sementara korban yang merupakan istri pelaku berinisial AY (25) warga Panjangan, Kecamatan Semarang Barat.

Baca juga: Remaja 15 Tahun Tewas Dibakar Ibu Tiri, Teriak Berlari Ceburkan Diri ke Bak Air, 12 Hari Dirawat

“Kedua pihak memang sebelumnya ada masalah dan istrinya sudah melayangkan gugatan cerai kepada suami. Keduanya sudah lama tidak bertemu,” ujar Kompol Riki seperti dilansir dari Kompas.com, Jumat (19/6/2026).

Kronologi Kejadian

Dia mengatakan, kronologi kejadiannya bermula saat AY hendak mengambilkan rapor anaknya di SD Negeri Kalipancur. 

Tiba-tiba AY didatangi oleh suaminya tanpa sepengetahuannya.

Kemudian dia diserang menggunakan obeng yang telah dimodifikasi untuk melukai AY.

Akibatnya, AY mendapat luka tusuk di beberapa bagian tubuhnya hingga dilarikan ke rumah sakit.

“Suami melakukan tiga hingga empat kali penusukan kepada istrinya, mengalami luka di bahu dan punggung."

"Saat ini dirawat di RS William Booth Semarang. Alat yang digunakan obeng yang dimodifikasi."

"Jadi memang ada niatan dari pelaku,” bebernya.

Atas kejadian tersebut Polsek Ngaliyan telah menangkap pelaku dan memeriksa beberapa saksi.

Polisi juga telah mengunjungi korban untuk mengecek keadaannya.

Setelah Polsek melakukan pemeriksaan, kasus akan diserahkan ke Polrestabes Semarang.

Kompol Riki menuturkan, terduga pelaku dijerat UU Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman pidana penjara 10 tahun.

“Pasal yang akan digunakan adalah UU KDRT Pasal 44 ayat 1 dan 2, ancaman maksimal 10 tahun penjara,” katanya.

2 Bulan Tinggalkan Rumah

Polisi menduga penusukan dipicu persoalan rumah tangga yang sudah berlangsung cukup lama.

Pelaku sudah dua bulan meninggalkan rumah.

Kapolsek Ngaliyan, Kompol Aliet Alphard mengatakan, korban diketahui sudah tidak pulang ke rumah selama sekira dua bulan sebelum kejadian.

"Tadi ketemu waktu ambil rapor anaknya. Istrinya langsung didatangi, ditusuk menggunakan obeng," kata Kompol Aliet.

Video pasca kejadian penusukan itu kemudian beredar luas di sejumlah grup WhatsApp dan media sosial.  

Dalam video tersebut tampak warga berdatangan ke lokasi setelah korban mengalami luka akibat serangan tersebut.

Korban AY kemudian dilarikan ke RS William Booth untuk mendapatkan perawatan medis.

Sementara pelaku F ditangkap aparat kepolisian tidak lama setelah kejadian.

Menurut hasil pemeriksaan awal, pelaku mengakui telah melakukan penusukan terhadap istrinya.

Namun penyidik masih mendalami jumlah luka yang dialami korban.

"Pengakuan pelaku tiga tusukan. Kena bahu dan punggung," ungkapnya.

Kompol Aliet menambahkan, pelaku dan korban merupakan pasangan suami istri (pasutri) yang saat ini sedang menjalani proses perceraian. 

Bermacam Masalah Keluarga dan Cara Mengatasinya

Menyelesaikan masalah dalam keluarga tak semudah membalikkan telapak tangan.

Dalam kebanyakan kasus, upaya untuk menyelesaikan masalah keluarga berakhir dengan kebuntuan, bahkan saling memusuhi.

Di sisi lain, ada keinginan untuk meyelesaikan masalah dengan orang-orang terdekat. Tapi, di sisi lain tidak ada pihak yang mau mengalah untuk meredakan keributan.

Alhasil masalah kecil yang awalnya masih bisa dikompromikan merembet ke hal-hal lain dan berkembang menjadi lebih besar sehingga makin runyam.

Pada umumnya, masalah keluarga mencakup segala bentuk dinamika, perilaku, dan atau pola yang mengganggu rumah tangga atau keluarga.

Menurut psikoterapis berlisensi, Babita Spinelli, masalah keluarga bisa disebabkan oleh hal-hal umum maupun yang bersifat intens.

Masalah umum dalam keluarga bisa dipicu oleh perbedaan kepribadian maupun pembagian tugas di dalam rumah.

Sedangkan, masalah yang lebih intens bisa disebabkan oleh orangtua, pelecehan, atau trauma antargenerasi.

Masalah keluarga jika dibiarkan bisa menimbulkan stres dan ketegangan, yang pada akhirnya berdampak negatif bagi anggota keluarga, terutama untuk anak kecil yang terlibat.

Jenis-jenis masalah keluarga

1. Kepribadian toxic

Annette Nuñez, seorang psikoterapis menerangkan, ada kemungkinan kepribadian yang bentrok dalam keluarga.

Misalnya, perbedaan antarsaudara kandung atau anak dengan salah satu atau kedua orangtuanya.

Tapi, Spineli mengingatkan bentrokan kepribadian bisa diperparah jika berhadapan dengan seseorang yang narsis atau toxic.

2. Komunikasi yang buruk

Nuñez dan Spinelli sama-sama mencatat, kurangnya komunikasi yang terbuka dan sehat adalah akar dari banyak masalah keluarga.

Jika seseorang sulit berbicara dengan salah satu atau beberapa anggota keluarga, Spinelli menduga masalah komunikasi adalah biangnya.

3. Tekanan berat dari orangtua

Perfeksionisme dalam keluarga memiliki efek yang buruk bagi anak-anak dan harga diri mereka.

Nuñez mengatakan, ketika orangtua mempermalukan atau mendikte perasaan atau perilaku anak-anak, ini bisa mengurangi kemampuan mereka untuk tumbuh sebagai individu.

"Orangtua memang perlu memiliki beberapa batasan tetapi tidak ketika sampai pada titik di mana itu melecehkan secara emosional," ujar dia.

4. Pola pengasuhan yang berbeda

Salah satu rintangan terbesar yang dihadapi pasangan saat mengasuh anak adalah mencari tahu bagaimana menggabungkan gaya pengasuhan dengan cara yang efektif.

"Ini dapat menyebabkan banyak ketegangan ketika orang tua tidak berada di halaman yang sama dengan mengasuh anak," kata Nuñez.

Dan jika mereka berurusan dengan keluarga besar, Spinelli menambahkan, masukan dari mertua soal pola mengasuh anak juga dapat menyebabkan beberapa masalah.

5. Uang

Uang sering menjadi sumber masalah, terutama di dalam keluarga. Begitu banyak keluarga yang menghadapi masalah keuangan dan pekerjaan.

Spinelli menyampaikan, masalah uang dapat mencakup siapa orang tua yang harus bekerja, tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi butuhan, hingga kemiskinan.

Uang menyentuh sebagian besar dari kehidupan manusia. Dan, jika tidak diatur dengan baik efeknya akan terasa dalam keluarga mana pun.

6. Mengelola rumah tangga

Nuñez menyebut masalah keluarga lainnya bisa dipicu oleh tidak seimbangnya tugas dalam keluarga.

Harus ada pembagian tugas yang jelas dalam mengatur rumah dan anak seharusnya dididik secara adil sesuai usia untuk mengurus diri mereka sendiri.

7. Masalah kesehatan mental

Keluarga harmonis bisa retak apabila salah satu anggota keluarga memiliki masalah kesehatan mental.

Selain harus ditangani secara tepat, masalah ini sebaiknya dibicarakan secara terbuka dan jujur.

"Jika orangtua menyembunyikan penyakit mental atau jenis penyalahgunaan zat apa pun dari seorang anak, anak-anak akan memahaminya," ucap Nuñez.

"Mereka menangkap isyarat nonverbal dari inkonsistensi, dan anak-anak memang membutuhkan konsistensi untuk memiliki fondasi keluarga yang kuat dan merasa aman," tambah dia.

8. Perdebatan

Merupakan hal yang lumrah bila dalam keluarga terjadi perdebatan. Tapi, jika terjadi terus menerus, ini tanda hubungan tidak sehat.

"Beberapa orang tidak menyadari bahwa pertengkaran yang terus-menerus sebenarnya adalah masalah, karenamereka sudah terbiasa," jelas Spinelli.

"Mereka tidak menyadari bahwa ketika ada teriakan dalam pertengkaran, itu sebenarnya menciptakan stres dan ketegangan."

9. Perceraian

Kebahagiaan dalam keluarga bisa buyar karena keinginan bercerai.

"Kita akan terkejut betapa banyak orang yang belum memproses perceraian dalam keluarga," kata Spinelli.

"Itu benar-benar memengaruhi cara melihat hubungan dan membuat ketakutan dalam hubungan, dan seringkali orang bahkan tidak membicarakannya di dalam keluarga," sambung dia.

10. Jarak

Meskipun sulit untuk dihindari, jarak dalam keluarga dapat menyebabkan banyak masalah.

Misalnya, menjelang hari raya, sering kali terjadi pertengkaran seputar siapa keluarga yang harus dikunjungi.

11. Ketergantungan bersama

Kodependensi bukanlah hal yag baik dalam keluarga. Orang yang mengalaminya cenderung mengutamakan kebutuhan orang lain daripada dirinya sediri.

Spinelli menyampaikan, semakin banyak keterikatan yang ditemukan dalam keluarga, semakin banyak anggota keluarga yang kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri.

12. Rutinitas

Rutinitas yang padat hingga membuat salah satu anggota keluarga tidak memiliki waktu bagi keluarganya bisa menjadi masalah.

13. Trauma antargenerasi

Trauma antargenerasi adalah masalah keluarga besar yang seringkali tidak terselesaikan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut Spinelli, jika generasi masa lalu mengalami hal-hal seperti kemiskinan ekstrem, trauma rasial, kematian mendadak, kecanduan, masalah kesehatan mental, dan banyak lagi, semua itu dapat diturunkan ke generasi selanjutnya.

"Jika sesuatu telah terjadi pada generasi sebelumnya, dan anggota keluarga itu tidak pernah menanganinya, pertarungan atau pelarian itu dan apa yang mereka alami akan merembes ke anggota keluarga lainnya," kata Spinelli.

Pengaruh dari masalah keluarga

Dari berbagai masalah keluarga yang sudah disebutkan, bisa memengaruhi seseorang dari usia kecil hingga dewasa.

"Anak-anak mungkin mulai mengalami masalah perilaku, yang kemudian menyebabkan orang tua marah dan anak-anak lebih banyak bertingkah," imbuh Nuñez.

"Katakanlah orang tua pergi pada usia perkembangan di mana seorang anak membutuhkan orangtua, misalnya. Itu memunculkan masalah pengabaian," tambahnya.

Secara keseluruhan, masalah keluarga yang belum terselesaikan dapat membuat orang merasa mereka tidak memiliki kedamaian dalam hidup.

Tanda-tanda masalah keluarga:

  •     Kesulitan berkomunikasi secara terbuka, jujur, dan sehat
  •     Sering berkelahi atau bertengkar
  •     Sering berteriak dan menjerit
  •     Perilaku pasif-agresif
  •     Kehadiran orang tua secara fisik dan/atau emosional
  •     Pelecehan fisik, emosional, dan/atau verbal
  •     Kodependensi
  •     Pergulatan ekonomi
  •     Perfeksionisme atau standar tinggi dalam keluarga
  •     Ketidaksepakatan tentang pembagian tugas rumah tangga, gaya pengasuhan, dll.
  •     Ketegangan dalam rumah tangga tanpa alasan yang jelas
  •     Kesulitan mempercayai anggota keluarga

Cara mengatasi masalah keluarga

1. Identifikasi masalah

Saat masalah mendera keluarga, cobalah untuk mengidentifiksinya.

Apa pun masalahnya, Nuñez dan Spinelli sama-sama menyadari cara ini adalah langkah pertama. Dari sini, seseorang bisa memproses penyelesaian masalah ke tahap selanjutnya.

2. Membicarakan masalah

Jika ada masalah, segera bicarakan dengan anggota keluarga. Nuñez dan Spinelli sama-sama mengatakan ini menjadi cara untuk tidak membebani pikiran, meskipun tidak mudah.

Nuñez menyarankan, pilihlah waktu yang tidak tegang untuk membicarakan masalah dan memberi anggota keluarga perhatian dan dorongan energi.

3. Pertimbangkan untuk mencari bantuan

Setelah mengungkapkan beberapa kekhawatiran kepada anggota keluarga, tak ada salahnya untuk meminta bantuan seorang profesional.

"Dan bahkan jika sebuah keluarga tidak pergi ke terapi, penting bagi setiap orang untuk merasa memiliki suara dalam keluarga mereka, dan untuk berbicara, dan untuk benar-benar menyuarakan apa yang mereka butuhkan di dalam unit itu," kata Nuñez.

4. Tetapkan batasan

Dan yang tidak kalah pentingnya, ketika semua cara gagal, batasan dengan keluarga adalah keharusan untuk menjaga dinamika sesehat mungkin.

"Pikirkan dengan sungguh-sungguh tentang cara Anda dapat menetapkan batasan dan memberi izin pada diri Anda sendiri," kata Spinelli.

Ini bisa berarti memilih tidak pergi ke pertemuan keluarga, menjaga jarak dari anggota keluarga yang membuat tidak nyaman atau marah, atau sekadar memberi tahu anggota keluarga ketika perilaku mereka tidak dapat diterima.

(Banjarmasinpost.co.id/TribunJateng.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.