Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Rakyat Nusantara pernah memperkenalkan konsep kemakmuran lewat istilah "gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja". Istilah ini sering digunakan oleh para pujangga di masa kerajaan Hindu-Buddha hingga era penyebaran Islam di Tanah Jawa, dalam Babad Tanah Jawi, untuk mendeskripsikan kemakmuran sebuah kerajaan.
Istilah itu menggambarkan suatu wilayah atau negara yang subur makmur, kaya akan hasil bumi, tenteram, damai, dan memiliki banyak penduduk.
Pada masa kini, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, memiliki kriteria untuk konsep kemakmuran tersebut.
Klaten terletak di antara lereng Gunung Merapi. Memiliki hamparan lembah yang dialiri banyak mata air (umbul), selain itu tanah Klaten sangat kaya akan hasil bumi dan budaya.
Baca juga: Jalan Panjang Attempe Jadikan Kedelai Lokal Tuan di Negeri Sendiri di Tengah Banjir Impor
Salah satu umbul yang telah menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar adalah Umbul Pelem di Desa Wunut, Kecamatan Tulung.
Dalam beberapa tahun terakhir, Umbul Pelem berkembang pesat setelah dikelola secara profesional oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Kamulyan.
Berbagai fasilitas seperti kolam renang untuk dewasa dan anak-anak, wahana permainan air, hingga flying fox berhasil menarik ribuan wisatawan dari berbagai daerah.
Keberhasilan pengelolaan tersebut bahkan mampu menghasilkan pendapatan mencapai hampir Rp6,7 miliar sepanjang tahun 2025 lalu.
Biru jernih air Umbul Pelem menyambut setiap pengunjung yang datang ke Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten. Namun, pesona Umbul Pelem ternyata tidak berhenti pada kejernihan airnya.
Di sepanjang area wisata, deretan warung sederhana tampak hidup sejak pagi. Aroma kopi hangat bercampur dengan hiruk-pikuk pengunjung yang berlalu-lalang. Sebagian wisatawan beristirahat setelah berenang, sementara yang lain mencari camilan, mi instan, atau minuman dingin untuk menemani waktu bersantai.
Bagi warga Desa Wunut, keramaian itu bukan sekadar pemandangan rutin. Kehadiran wisatawan menjadi sumber penghidupan yang terus mengalir.
Salah satunya dirasakan Fitri, warga asli Wunut yang telah berjualan di kawasan Umbul Pelem sejak 2017. Setiap hari, ia membuka warungnya sejak pagi dan melayani kebutuhan pengunjung yang datang silih berganti.
"Alhamdulillah di sini lumayan ramai mas. Banyak orang beli kopi, popmie, dan lain-lain. Biasa jualan dari jam 8 pagi sampai jam 4an," kata Fitri kepada TribunSolo.com, Jumat (29/5/2 026) pagi.
Warung yang dikelolanya kini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Kisah Fitri bukan cerita satu-satunya.
Seluruh pedagang dan pekerja yang terlibat dalam operasional Umbul Pelem merupakan warga asli Desa Wunut. Dengan demikian, perputaran ekonomi yang tercipta dari sektor wisata sebagian besar kembali ke masyarakat setempat.
Keberhasilan pengelolaan Umbul Pelem memang telah mengubah wajah desa. Pendapatan yang dihasilkan dari sektor wisata tidak hanya dinikmati oleh pengelola, tetapi juga dialirkan kembali dalam berbagai program kesejahteraan masyarakat.
Salah satu bentuk yang paling dirasakan warga adalah program pembagian Tunjangan Hari Raya (THR). Tradisi yang mulai dijalankan sejak 2023 itu menjadi simbol bahwa keuntungan wisata benar-benar kembali kepada masyarakat.
“Tahun 2025 ada 2.341 warga yang menerima THR masing-masing Rp 250.000,” kata Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiawan.
Untuk program tersebut, pemerintah desa mengalokasikan anggaran sebesar Rp585,25 juta yang berasal dari pendapatan Umbul Pelem. Menjelang Hari Raya, bantuan itu menjadi tambahan yang berarti bagi ribuan warga desa.
Namun manfaat ekonomi Umbul Pelem tidak berhenti di situ. Sebagian pendapatan wisata juga digunakan untuk membangun sistem perlindungan sosial yang menjangkau seluruh warga.
“Pembayaran BPJS Kesehatan setahun sekitar Rp 300 juta,” kata Iwan.
Melalui program tersebut, pemerintah desa menanggung iuran BPJS Kesehatan warga sehingga mereka memiliki akses yang lebih mudah terhadap layanan kesehatan. Di saat yang sama, pemerintah desa juga mengalokasikan sekitar Rp600 juta untuk program BPJS Ketenagakerjaan.
Program itu memberikan perlindungan bagi warga yang mengalami sakit maupun kecelakaan kerja. Bahkan ketika warga membutuhkan rujukan ke rumah sakit, biaya operasional transportasi turut ditanggung oleh pemerintah desa.
“Itu yang langsung untuk masyarakat. Yang lain digunakan untuk pembangunan sarana prasarana dan operasional perkantoran desa,” jelasnya.
Hal itu dirasakan langsung oleh Wiyoto (62), warga Desa Wunut. Saat pembagian THR berlangsung pada Lebaran lalu, ia menerima dana sekitar Rp2 juta yang mewakili tiga kartu keluarga dalam keluarganya.
"Itu keluarga saya, keluarga anak pertama, sama keluarga anak kedua," ucapnya.
Menurut Wiyoto, kedua anaknya tidak dapat hadir saat pembagian THR karena sedang bekerja. Salah satunya bekerja di Semarang, sementara yang lain bekerja di wilayah sekitar.
"Kan sama-sama kerja. Yang satu di Semarang, yang satu di sini tapi kerja," jelasnya.
Meski tinggal atau bekerja di luar daerah, warga yang masih terdaftar dalam kartu keluarga Desa Wunut tetap memperoleh hak yang sama.
Bagi Wiyoto, dana tersebut digunakan sebagaimana mestinya, yakni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiawan, masih mengingat betul kondisi desanya satu dekade lalu. Saat itu, Pendapatan Asli Desa (PAD) Wunut hanya sekitar Rp30 juta per tahun. Infrastruktur terbatas dan ruang gerak pembangunan desa pun sangat sempit.
Berangkat dari kondisi tersebut, Iwan bersama warga mulai memetakan berbagai potensi yang dimiliki desa. Salah satu yang dianggap paling menjanjikan adalah sumber mata air alami yang selama bertahun-tahun hanya dimanfaatkan secara sederhana oleh masyarakat setempat.
"Saya bersama warga baru membangun Umbul Pelem ini pada tahun 2016. Baru dibuka pada 2018, karena kami membangunnya secara bertahap. Karena kita waktu itu hanya bisa mengandalkan dana desa," kata Iwan kepada TribunSolo.com pada Rabu (27/5/2026).
Proses pembangunan tidak berjalan mudah. Saat itu, pemerintah desa harus meyakinkan banyak pihak bahwa investasi pada sektor wisata mampu mengangkat perekonomian masyarakat.
Setiap pengajuan penggunaan dana desa harus melalui pembahasan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebelum diteruskan ke pemerintah daerah.
Dengan modal kepercayaan dan semangat membangun desa secara gotong royong, pembangunan Umbul Pelem akhirnya mendapat lampu hijau.
Keputusan tersebut menjadi titik balik perjalanan Desa Wunut.
Setelah hampir sepuluh tahun dikembangkan, Umbul Pelem menjelma menjadi mesin ekonomi desa. Sepanjang tahun 2025, objek wisata ini mencatatkan omzet hampir Rp6,7 miliar. Angka yang jauh melampaui PAD desa pada masa-masa awal sebelum wisata dibangun.
Keuntungan dari sektor wisata kemudian dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program kesejahteraan.
Selain Umbul Pelem, Pemdes Wunut juga membangun Umbul Gedhe Pool & Resto sebagai destinasi wisata air berbasis mata air alami.
Objek wisata ini menyediakan kolam renang dewasa dan anak, kolam khusus wanita (muslimah), serta restoran keluarga. Keberadaannya menjadi bagian dari upaya pemerintah desa dan BUMDes untuk memperkuat sektor wisata sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga.
"Alhamdulillah pengunjung Umbul Gedhe sudah lumayan. Di sana ada karyawan tetapnya sembilan orang, kalau sama tim sampai 12 orang. Kita juga bisa menggaji UMK. Dan memang wajib ada keuntungannya," kata Iwan.
Kini, Pemdes Wunut juga menjajaki potensi pertanian dan peternakan. Semua hasilnya pun dijual murah untuk masyarakat.
"Misalkan ini, kita punya telur. Sebagai program ketahanan pangan, jadi saat panen saya share hari ini RW 1 RW 2, Bumdes menjual telur harga Rp24 ribu sekilo diantar sampai rumah. Langsung habis itu telur," ungkap Iwan.
Iwan memiliki prinsip kuat, bagaimana ekonomi itu bisa berputar di Desa Wunut.
"Jadi, saya itu kepengennya bagaimana ekonomi itu bisa berputar di Desa Wunut. Kalau di Wunut, semua warga ikut merasakan, semua ikut mengonsumsi," tegasnya.
Saat ini di Desa Wunut mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani dan buruh.
Begitu wisatawan memasuki pintu depan Umbul Pelem yang sudah bertahun-tahun jadi sumber penghidupan warga, langsung disambut banner berwarna biru tua dengan tulisan BRImo.
Logo BRImo ini terpampang jelas di dua loket Umbul Pelem. Dari bagian depan dan bagian atas dekat kantor BUMDes Sumber Kamulyan.
Hal itu menjadi bukti jika kemajuan desa ini tak lepas dari peran Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Sebagai wujud digitalisasi, BRI juga memfasilitasi pembayaran lewat kode batang (QRIS) dan juga mesin Electronic Data Capture (EDC). Hal itu diamini oleh Ni'am, salah satu penjaga loket Umbul Pelem.
"Saat ini untuk pembelian tiket memang sudah mendukung QRIS BRI. Proses pembayaran lewt QRIS ini memang belum sebanyak uang tunai," ucap Niam.
Niam mengakui jika QRIS cukup sukses menggaet wisatawan muda yang sudah menerapkan cashless dalam kesehariannya. Terutama ketika Lebaran, banyak wisatawan muda atau rombongan keluarga yang memakai QRIS.
Hal itu sempat membuat dirinya dan tim kewalahan.
"Kalau Lebaran memang cukup banyak yang pakai QRIS. Tapi, umumnya di sini memang kebanyakan wisatawan itu keluarga. Mereka membawa anak-anak untuk berenang," pungkas Niam.
Tiket masuk Umbul Pelem di Klaten saat ini yakni Rp8.000 untuk hari biasa (Senin-Jumat) dan Rp10.000 untuk akhir pekan (Sabtu-Minggu) serta hari libur nasional.
Diketahui, Desa Wunut juga pernah menjadi peserta Program Desa BRILiaN pada 2023.
Program yang digagas BRI tersebut merupakan inkubasi pemberdayaan desa yang bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi desa melalui empat pilar utama, yakni penguatan BUMDes, digitalisasi, inovasi, dan keberlanjutan.
Melalui program tersebut, desa-desa peserta mendapatkan pelatihan manajemen, pengembangan potensi lokal, hingga akses terhadap berbagai dukungan pengembangan usaha.
Meski Desa Wunut gagal menjadi juara pertama, namun tetap merasakan sentuhan dari BRI.
"Waktu itu kami minta dibuatkan loket pintu masuk timur dan pintu masuk barat. Terus kami membuka rekening BRI termasuk QRIS BRI," kata Direktur BUMDes Sumber Kamulyan, Sariyanto
Menurutnya, berbagai fasilitas tersebut membantu meningkatkan kualitas pelayanan di Umbul Pelem.
Sementara itu, Iwan Sulistiya Setiawan, mengakui bahwa program tersebut memberikan banyak pelajaran berharga, khususnya dalam pengelolaan dan pengembangan desa secara modern dan terstruktur.
“Semua program Desa BRILian itu sangat baik dan mengedukasi. Namun sayangnya saat itu saya kurang fokus karena masih terfokus pada pengembangan wisata umbul yang kami jalani. Meskipun begitu, manfaatnya tetap dirasakan hingga saat ini,” jelas Kades Wunut ini.
Meski tidak dapat mengikuti seluruh rangkaian program secara optimal, Iwan menegaskan bahwa kerja sama dengan BRI tetap berlanjut hingga saat ini.
Kehadiran fasilitas dari BRI itu membantu mempercepat transformasi layanan wisata menjadi lebih modern dan efisien.
“Jadi, kami sangat berharap ke depannya akan ada kerja sama lain yang bisa terjalin dengan BRI maupun pihak lain, baik itu dalam bentuk CSR dan lainnya. Karena saya melihat ada banyak potensi desa yang bisa kami kembangkan,” tutup Iwan.
Program Desa BRILiaN sendiri merupakan inisiatif pemberdayaan desa yang diluncurkan BRI sejak 2020.
Hingga kini, program tersebut telah diikuti oleh 3.957 desa yang berkomitmen untuk berkembang melalui penguatan tata kelola, inovasi, digitalisasi, dan pengembangan potensi lokal.
Dalam sebuah keterangan tertulisnya, Senior Executive Vice President (SEVP) Bisnis Ultra Mikro BRI, M. Candra Utama, menegaskan pentingnya program ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi desa.
“Program pemberdayaan Desa BRILiaN ini merupakan wujud nyata BRI yang terus berkomitmen untuk meningkatkan economic dan social value kepada masyarakat. Perseroan berharap program seperti ini dapat memberikan kontribusi nyata dan positif bagi peningkatan kualitas pengelolaan desa,” kata Candra. (*)