Warga Terjebak di Lift Akibat Pemadaman Listrik Bergilir di Surabaya
Titis Jati Permata June 20, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Surabaya Jawa Timur mulai dirasakan berbagai sektor.

Mulai dari kawasan permukiman, fasilitas olahraga di kawasan Surabaya Timur, rumah sakit di pusat kota hingga lampu lalu lintas di Jalan Ngagel yang terpantau mati pada 10.02 WIB, Sabtu (20/6/2026).

Warga Surabaya Lely, Dona dan Ermina yang tengah berada di rumah sakit mengaku terjebak dalam lift. Lift tiba-tiba berhenti saat digunakan turun. 

Beruntung, Ermina menyebut kondisi tidak berlangsung lama dan lift kembali dapat digunakan.

“Lift mati dua kali. Saya pas turun lift, waktu naik belum ada pemadaman. Teman saya ini yang dua kali mati listrik di lift. Sekitar jam 11.00 WIB kedua 13.00 WIB, kerasa anjloknya di dalem lift itu. Tapi bentar, sekitar beberapa menit saja. Cepat kok, cuma kerasa. Untungnya juga ada petugas, langsung koordinasi mereka,” ungkap Ermina kepada SURYA.co.id, Sabtu (20/6/2026).

Antisipasi Lampu Mati

Namun, pada penyelenggara industri event dan pusat perbelanjaan besar mengaku telah menyiapkan langkah antisipasi sehingga operasional tetap berjalan normal.

Pengelola mall dan gedung konvensi di Surabaya memastikan sistem genset cadangan yang dimiliki mampu menjaga aktivitas pengunjung maupun penyelenggaraan acara tetap berlangsung meski terjadi pemadaman listrik selama beberapa jam.

General Manager Dyandra Convention Center Surabaya, Wahyuni Wara Astuti, mengatakan pihaknya tidak mengalami kendala berarti selama terjadi pemadaman karena seluruh sistem kelistrikan telah didukung genset cadangan.

“Sudah ada persiapan genset sehingga tidak ada pengaruhnya terhadap operasional. Kalau PLN mati total, genset otomatis menyala dalam waktu sekitar 10 detik,” kata Wahyuni Wara Astuti ditemui di event SWF 2026, Jumat (19/6/2026).

Baca juga: Jawa Timur Dilanda Listrik Padam Tanpa Kabar, PT PLN UID Jatim Sebut Ada Kendala Teknis

Ia menjelaskan, dalam beberapa kondisi tegangan listrik PLN hanya mengalami penurunan dan tidak benar-benar padam total.

Situasi tersebut membuat genset tidak langsung aktif secara otomatis karena masih mendeteksi adanya aliran listrik.

“Kalau listrik hanya turun dan belum mati total, genset harus dinyalakan secara manual. Namun tim engineering kami sudah terlatih untuk menangani kondisi seperti itu,” ujarnya.

Acara Berjalan Tanpa Gangguan

Menurut Yuyun, sapaan akrabnya, keberadaan sistem cadangan tersebut membuat berbagai kegiatan yang berlangsung di Dyandra Convention Center, termasuk acara event pernikahan, tetap berjalan tanpa gangguan.

Event yang menghadirkan pameran pernikahan nuansa tradisional, instalasi dan teknologi ini tak hanya menghadirkan ragam kebutuhan calon pengantin. 

Seperti dekor-dekor yang megah dan terkonsep. Di sini, juga digelar pertunjukan wayang, self makeup class dan masih banyak pertunjukan lainnya.

Yuyun optimistis sektor wedding dan event tetap memiliki prospek positif meskipun kondisi ekonomi menghadapi tantangan.

“Wedding itu tidak pernah mati. Orang tetap menikah, ulang tahun, dan berbagai acara keluarga tetap berlangsung. Justru kegiatan seperti ini membantu menggerakkan perekonomian daerah,” ungkapnya.

Persiapan Kawasan Pusat Perbelanjaan

Sementara itu, General Manager Pakuwon Mall Hendie Santoso menyebut pihaknya telah melakukan persiapan jauh sebelum kebijakan pemadaman bergilir diberlakukan.

Menurutnya, seluruh pusat perbelanjaan di bawah Pakuwon Group seperti Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall, Grand Pakuwon Mall, Pakuwon City Mall hingga Royal Plaza telah menyiapkan genset dalam kondisi siap operasi.

“Kami sudah menyiapkan genset-genset mall dalam keadaan siap jalan, termasuk ketersediaan solar, maintenance, dan personelnya. Kemarin memang ada pemadaman, tetapi kita sudah siapkan. Jadi ketika terjadi pemadaman, proses perpindahan ke genset sudah siap dan smooth,” katanya.

Hendie mengakui penggunaan genset tentu meningkatkan biaya operasional karena membutuhkan bahan bakar solar serta perawatan rutin. Namun, dampak tersebut masih dapat diantisipasi perusahaan.

“Tidak ada (pengaruh). Apalagi pemadamannya bukan sampai 10 jam. Memang ada peningkatan operasional tetapi sudah kami antisipasi. Secara operasional pasti ada tambahan biaya. Solar lebih mahal dibanding listrik, ditambah genset juga harus dirawat secara berkala meskipun tidak digunakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemadaman listrik yang sempat terjadi sekitar tiga jam pada sore hari.

Namun hal tersebut dinilai nyaris tidak dirasakan pengunjung karena sistem perpindahan listrik berlangsung sangat cepat.

“Biasanya kalau padam hitungan detik genset sudah menyala. Kalau sampai lampu mati tiga menit itu lama. Kemarin pengunjung hampir tidak merasakan karena langsung switch ke genset,” ujarnya.

Butuh Langkah Pemerintah

Meski demikian, Hendie berharap pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif agar pasokan listrik kembali stabil dan tidak mengganggu aktivitas dunia usaha dalam jangka panjang.

“Saat ini masih bisa diantisipasi. Semoga kondisi ini tidak berlangsung terus-menerus dan pemerintah peka dengan keadaan seperti ini. Tapi saya yakin ini tidak terjadi terus menerus,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.